Liga Champions vs Premier League: Benarkah Permainan di UCL Sekarang Lebih Seru?!

Richard Andreas | 30 Januari 2026 16:45
Liga Champions vs Premier League: Benarkah Permainan di UCL Sekarang Lebih Seru?!
Kai Havertz diadang oleh Adilet Sadybekov dan Alyaksandr Martynovich dalam laga Liga Champions antara Arsenal vs Kairat Almaty di Emirates Stadium, 29 Januari 2026 (c) AP Photo/Ian Walton

Bola.net - Fase liga di Liga Champions musim ini berakhir dengan drama yang nyaris tak masuk akal. Gol penentu di detik terakhir, kiper ikut naik menyerang, dan posisi klasemen berubah dalam sekejap.

Di balik momen-momen ikonik itu, satu fakta menonjol, bahwa Liga Champions kembali menyuguhkan sepak bola yang terbuka, penuh gol, dan agresif dalam menyerang. Kontras ini terasa semakin kuat ketika dibandingkan dengan Premier League.

Advertisement

Anthony Gordon, penyerang Newcastle, menjadi salah satu suara yang paling vokal membicarakan perbedaan tersebut.

Menariknya, pendapat Gordon bukan sekadar persepsi pemain, melainkan didukung oleh data dan dinamika taktis yang lebih dalam.

1 dari 4 halaman

Liga Champions: Dramatis, Terbuka, dan Penuh Gol

Liga Champions: Dramatis, Terbuka, dan Penuh Gol

Pemain Liverpool, Hugo Ekitike (tengah), merayakan gol keempat timnya dalam pertandingan Liga Champions melawan Qarabag, Kamis (29/1/2026) dini hari WIB. (c) AP Photo/Darren Staples

Akhir fase liga Liga Champions musim ini menjadi simbol betapa kompetisi Eropa itu menawarkan intensitas berbeda. Benfica mencuri perhatian ketika Anatoliy Trubin mencetak gol penentu di masa injury time melawan Real Madrid, memastikan satu tiket terakhir ke babak play-off.

Secara keseluruhan, fase liga berjalan sangat produktif. Dari 126 pertandingan, tercipta 426 gol, atau rata-rata 3,39 gol per laga. Angka ini menegaskan bahwa pertandingan berlangsung terbuka, dengan ruang yang lebih luas untuk menyerang.

Klub-klub Inggris menjadi aktor utama di papan atas. Lima dari delapan posisi teratas, yang memberi tiket langsung ke babak 16 besar, diisi oleh wakil Premier League.

Hanya Newcastle yang gagal menembus delapan besar, meski tetap finis di peringkat ke-12 setelah bermain imbang 1-1 di markas PSG.

2 dari 4 halaman

Pandangan Anthony Gordon dan Dukungan Data

Pandangan Anthony Gordon dan Dukungan Data

Pemain Chelsea Pedro Neto berebut bola dengan pemain Napoli Mathias Olivera pada laga fase liga Liga Champions antara Napoli vs Chelsea di Naples, Italia, Rabu, 28 Januari 2026 (c) AP Photo/Gregorio Borgia

Anthony Gordon menilai perbedaan itu berakar pada gaya bermain. Menurutnya, tim-tim di Liga Champions cenderung lebih berani bermain terbuka dan mencoba membangun serangan, dibandingkan dengan atmosfer Premier League yang semakin fisikal.

“Di Liga Champions, tim-tim jauh lebih terbuka. Mereka semua mencoba bermain. Transisinya lebih sedikit. Di Premier League, permainannya menjadi lebih fisik dari yang pernah saya rasakan,” kata Gordon sebelum pertandingan.

Data mendukung pengamatan tersebut. Rata-rata jumlah operan per rangkaian permainan di Liga Champions mencapai 3,7, sedikit lebih tinggi dibanding Premier League yang berada di angka 3,4. Persentase umpan panjang juga lebih rendah, dengan 10,4 persen di Liga Champions, sekitar satu persen di bawah Premier League.

Soal transisi cepat, perbedaannya tipis tetapi konsisten. Liga Champions mencatat rata-rata 12,1 serangan balik per laga, sementara Premier League sedikit lebih tinggi dengan 12,3.

3 dari 4 halaman

Peran Klub Inggris dalam Mengubah Wajah Kompetisi

Peran Klub Inggris dalam Mengubah Wajah Kompetisi

Penyerang Manchester City, Erling Haaland dibayangi pemain Galatasaray, Roland Sallai di Liga Champions, 29 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Menariknya, pertandingan yang melibatkan klub-klub Premier League justru menjadi faktor utama mengapa Liga Champions terasa kurang direct.

Ketika laga dipisahkan berdasarkan keterlibatan tim Inggris, pertandingan mereka menunjukkan jumlah umpan panjang yang lebih sedikit, sekitar enam kali lebih rendah per laga.

Namun, klub-klub Inggris tidak serta-merta mengubah identitas permainan mereka di Eropa. Arsenal sedikit lebih direct, Newcastle justru mengurangi jumlah operan, sementara Tottenham, Chelsea, dan Manchester City bermain lebih sabar dalam penguasaan bola. Liverpool relatif konsisten di dua kompetisi.

Hal ini menegaskan bahwa dominasi klub Inggris di Liga Champions bukan hasil perubahan drastis gaya bermain, melainkan kemampuan menyesuaikan intensitas tanpa kehilangan fondasi teknis.

4 dari 4 halaman

Fisik, Set-Piece, dan Evolusi Taktik Premier League

Perbedaan paling mencolok justru muncul dalam aspek bola mati. Premier League mencetak 18 persen gol dari situasi sepak pojok, lebih tinggi dibanding Liga Champions yang berada di angka 13 persen.

Namun, jurang terbesar terlihat pada lemparan ke dalam jarak jauh. Hanya satu persen gol Liga Champions lahir dari skema ini, sementara Premier League mencapai empat persen, tertinggi sepanjang sejarah kompetisi tersebut.

Di sepertiga akhir lapangan, 31 persen lemparan ke dalam di Premier League dieksekusi secara langsung, dibandingkan sedikit di atas 10 persen di Liga Champions.

Pendekatan ini memang memperlambat tempo, tetapi efektif. Dan seperti sejarah sepak bola sebelumnya, inovasi taktis jarang berhenti di satu liga saja. Jika lemparan jauh terus memberi keuntungan, tren ini kemungkinan akan diadopsi di tempat lain.