9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal

Aga Deta | 20 Januari 2026 14:06
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Pemain Inter Milan, Henrikh Mkhitaryan (kanan), berebut bola dengan pemain Lecce, Danilo Veiga, dalam pertandingan Serie A, Kamis (15/1/2026). (c) AP Photo/Luca Bruno

Bola.net - Inter Milan akan menjamu Arsenal di Stadion Giuseppe Meazza pada matchday ke-7 fase liga Liga Champions 2025/26, Rabu (21/1/2026) dini hari WIB. Kedua tim datang dengan ambisi besar, Inter masih kokoh di puncak Serie A sementara Arsenal memimpin Premier League.

Pertemuan ini diprediksi sengit karena Arsenal hanya membutuhkan satu poin untuk lolos ke babak 16 besar. Namun, tantangan berat menanti mereka mengingat Inter berada dalam tren positif di kompetisi domestik.

Advertisement

Di klasemen fase liga Liga Champions, kedua tim terpaut cukup jauh. Arsenal nyaris sempurna, sedangkan Inter berjuang menjaga konsistensi setelah sempat terpeleset di Eropa.

Laga ini bukan sekadar soal poin, tapi juga gengsi dan pembuktian kedua raksasa Eropa. Atmosfer di Meazza dipastikan akan memanas, dengan sejarah panjang pemain yang pernah membela kedua klub menjadi bumbu tambahan.

Berikut sembilan pemain yang pernah membela Inter Milan dan Arsenal.

1 dari 9 halaman

1. Nelson Vivas

Nelson Vivas sudah sangat berpengalaman ketika tiba di London Utara pada akhir milenium. Ia pernah tampil di dua Copa America dan Piala Dunia 1998 untuk Argentina.

Sebagian besar kesuksesannya diraih di klub-klub Argentina. Di Arsenal, ia kesulitan menembus lini belakang dan sebagian besar dari 56 penampilannya datang dari bangku cadangan.

Vivas kemudian bergabung dengan Inter pada 2001 melalui transfer bebas. Selama dua tahun di Milan, ia hanya bermain kurang dari 1.000 menit.

2 dari 9 halaman

2. Cedric Soares

Sebelum bergabung dengan Arsenal pada 2020, Inter merekrut Cedric Soares dengan status pinjaman untuk paruh kedua musim 2018/19. Klub Italia tersebut memiliki opsi untuk membelinya secara permanen pada musim panas berikutnya.

Inter memutuskan untuk tidak menggunakan opsi tersebut setelah Cedric tampil sembilan kali bagi klub. Keputusan ini kemudian memberi kesempatan bagi Arsenal untuk merekrutnya.

Meski dibeli secara permanen setelah masa pinjaman yang cukup baik, Cedric hanya menjadi pilihan sporadis bagi Mikel Arteta. Ia jarang tampil dalam dua musim terakhirnya di klub.

3 dari 9 halaman

3. Lukas Podolski

Lukas Podolski menjadi idola di Arsenal selama dua musimnya, dengan tendangan kaki kiri yang mematikan memberikan pengaruh besar bagi tim asuhan Arsene Wenger. Keahliannya di lapangan membuatnya cepat disukai penggemar The Gunners.

Podolski menciptakan banyak momen ikonik di dalam dan luar lapangan, dan kecintaannya pada klub membuatnya semakin dicintai. Ia meninggalkan Arsenal pada 2015 setelah mencatat 39 kontribusi gol dalam 73 pertandingan.

Pada musim 2014/15, perannya di Emirates mulai berkurang sehingga ia dipinjamkan ke Inter pada awal 2015. Namun, di bawah pelatih Roberto Mancini, ia hanya mencetak satu gol bagi klub Italia tersebut.

4 dari 9 halaman

4. Mikael Silvestre

Pada 2008, Mikael Silvestre menjadi pemain pertama sejak Viv Anderson pada 1987 yang pindah langsung antara Arsenal dan Manchester United. Ia bergabung dengan The Red Devils setelah sebelumnya bermain di Rennes dan semusim bersama Inter pada 1998/99.

Silvestre dikenal sebagai bek berpengalaman dan serba bisa yang dapat mengisi berbagai posisi untuk Arsene Wenger. Keahliannya sangat dihargai oleh rekan senegaranya di tim.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Silvestre sudah melewati masa puncaknya saat tiba di Emirates. Pengalamannya tetap menjadi aset penting bagi tim.

5 dari 9 halaman

5. Nwankwo Kanu

Jika Podolski disebut sebagai idola, mungkin agak berlebihan memberikan gelar yang sama untuk Nwankwo Kanu. Namun, ia lebih dari sekadar itu.

Pemain asal Nigeria ini pernah memenangkan Liga Champions bersama Ajax, namun hanya tampil 17 kali untuk Inter karena masalah jantung yang didiagnosis saat ia tiba di Milan. Arsenal mengambil risiko dengan membayar £4 juta untuk membawanya, tetapi keputusan itu terbukti tepat.

Kanu menjadi favorit penggemar di Highbury dan sering menjadi opsi cadangan yang berguna. Ia mampu melakukan aksi spektakuler, termasuk hat-trick di Stamford Bridge, dan mengakhiri karier di Arsenal dengan lebih dari 170 penampilan, gelar Invincibles, dan empat trofi utama.

6 dari 9 halaman

6. Patrick Vieira

Patrick Vieira menjadi jantung dari tim Arsenal yang mencapai puncak sepak bola Inggris. Ia memimpin lini tengah dengan contoh nyata dan dianggap sebagai gelandang terbaik dalam sejarah klub.

Kapten Gunners ini pindah ke Italia pada 2005, tetapi waktunya di Juventus singkat akibat skandal Calciopoli. Vieira kemudian bergabung dengan Inter pada 2006 setelah beberapa bintang Bianconeri meninggalkan klub.

Kekuatan fisiknya yang dominan di Premier League gagal terlihat di Milan karena kondisi tubuhnya menurun. Vieira jarang menjadi pemain kunci selama empat tahun di San Siro dan akhirnya pindah ke Manchester City pada 2010.

7 dari 9 halaman

7. Alexis Sanchez

Alexis Sanchez menjadi sosok penting dalam kesepakatan pertukaran dengan Mkhitaryan dan tampil luar biasa selama di Arsenal. Meski kemudian pindah ke Manchester United, performanya di klub London tetap dikenang.

Musim 2016/17 adalah momen terbaik Sanchez di Premier League. Ia termasuk salah satu pemain terbaik saat itu, meski levelnya menurun setelah meninggalkan Arsenal.

Di Inter, Sanchez tetap menunjukkan kualitasnya sebagai pemain rotasi yang berguna. Selama dua periode, ia mencatat hampir 50 kontribusi gol dalam 142 pertandingan dan membantu tim meraih Scudetto.

8 dari 9 halaman

8. Dennis Bergkamp

Dennis Bergkamp kesulitan secara taktik saat bermain di Italia. Selama dua tahun di Inter, ia memiliki ruang bermain lebih sempit dan sulit menunjukkan kreativitasnya seperti saat bersinar di Ajax.

Arsenal merekrut Bergkamp dari Inter pada 1995 di bawah Bruce Rioch. Ia menjadi pemain termahal dalam sejarah klub saat itu.

Awal adaptasi Bergkamp di Arsenal cukup sulit, tetapi semuanya berubah ketika Wenger datang pada 1996. Ia kemudian menjadi pemain kunci dan membangun warisan yang luar biasa di London Utara selama hampir satu dekade.

9 dari 9 halaman

9. Henrikh Mkhitaryan

Henrikh Mkhitaryan memiliki karier yang kurang menonjol di Arsenal dan dikenal sebagai bagian dari salah satu kesepakatan pertukaran yang mengecewakan. Masa terbaiknya di London Utara datang di awal sebelum beberapa cedera mengganggu performanya.

Tidak banyak yang menyesal ketika ia dipinjamkan ke AS Roma pada 2019 dan akhirnya meninggalkan klub secara permanen setahun kemudian. Penampilannya yang biasa-biasa saja di Arsenal membuat Mkhitaryan harus melanjutkan kariernya di tempat lain.

Di Inter, Mkhitaryan berhasil menemukan kembali performanya. Pemain Armenia berusia 36 tahun ini tampil lebih dari 150 kali dan menjadi sosok penting dalam keberhasilan tim meraih sudetto pada musim 2023–24.