Akhirnya Proposal Play-Off EPL Bagi Posisi Terakhir ke Liga Champions Ditolak

Editor Bolanet | 6 Maret 2010 18:14
Akhirnya Proposal Play-Off EPL Bagi Posisi Terakhir ke Liga Champions Ditolak
Piala Liga Champions (c)uefa

Bola.net -

Oleh: Chandra Wijaya

Pada 15 Februari yang lalu, Premier League mengajukan ide sistem play-off untuk menentukan klub keempat yang akan lolos ke babak kualifikasi Liga Champions, yang langsung mengundang banyak pro dan kontra. Setelah melalui beberapa pertimbangan akhirnya ide tersebut ditolak. Para ketua Premier League telah mengadakan pertemuan di London pada hari Kamis lalu (4/3) dan hasil voting mereka telah memenangkan penentangan ide itu, yang berarti sistem yang ada sekarang akan terus dipertahankan. Sebelumnya dengan adanya ide sistem playoff itu, tim yang menduduki peringkat 4 sampai 7 klasemen akhir Liga Premier Inggris, semuanya masih berkesempatan memperebutkan 1 posisi terakhir untuk mengikuti babak kualifikasi Liga Champions. Keempat tim tersebut akan berhadapan satu sama lain untuk menentukan 1 pemenang yang akan bisa berlaga di kompetisi yang paling elit di daratan Eropa itu. Proposal tersebut diajukan untuk menambah keseruan dalam kompetisi karena selama ini 4 tim yang lolos ke Liga Champions selalu didominasi oleh , Chelsea, dan Manchester United yang dikenal dengan sebutan big four. Jarang sekali ada tim di luar keempat klub ini yang ikut lolos ke Liga Champions. Begitu ide ini diajukan langsung mendapat tanggapan yang sangat positif dari semua klub Liga Premier Inggris kecuali tentunya 4 tim yang termasuk dalam big four. Untuk bisa diterapkan paling tidak harus disetujui 14 dari total 20 klub yang ada di EPL. Beberapa pendapat pro dan kontra sudah bermunculan menanggapi sistem playoff ini. Manajer Aston Villa, Martin O'Neill, mendukung sepenuhnya penerapan sistem ini. Terutama di sini yang diperebutkan adalah tempat menuju kompetisi yang paling bergengsi di Eropa. "Ini lumayan menarik. Liga Premier akan tampak lebih menarik. Anda mungkin merasa ini sesulit menghindari degradasi. Anda ingin berada di pertengahan klasemen dan kemudian di akhir musim masih ada kesempatan untuk memperebutkan posisi itu," urainya. "Hadiahnya sangat besar, Anda membicarakan tentang kualifikasi Liga Champions pada bulan Agustus. Playoff menjadi hal yang sangat berarti sekarang," tambahnya menyoroti adanya kesempatan untuk bisa lolos ke Liga Champions. Sedangkan pendapat kontra pertama muncul dari manajer , Arsene Wenger, yang langsung mempertanyakan jika mau menerapkan playoff untuk membuat kompetisi semakin, kenapa tidak diterapkan juga untuk menentukan siapa yang terdegradasi. "Saya kira jika Anda berada di posisi 4 klasemen setelah 38 pertandingan, Anda tidak perlu bertanding lagi lawan tim yang (mungkin) berjarak 10 poin dengan Anda. Itulah gunanya klasemen, untuk menentukan siapa yang lolos dan yang tidak lolos," ungkapnya menjelaskan argumennya. Bahkan mengatakan ini akan bisa mengganggu jalannya Liga. Dia mengatakan jika misalnya satu tim sudah memastikan lolos dalam playoff untuk posisi Liga Champions, dengan masih menyisakan 5-7 pertandingan reguler. Dengan begitu mereka akan langsung mengistirahatkan semua pemain utamanya demi mengejar hasil di playoff. Hal ini akan merugikan juga bagi tim berjuang masuk ke zona Liga Europa dan yang berjuang lolos dari zona degradasi. Manajer , Rafael Benitez juga punya pendapat yang hampir sama dengan dengan mengatakan sistem ini juga akan bisa diterapkan untuk menentukan siapa yang terdegradasi dan menambahkan kalau sistem ini diterapkan bisa-bisa semua tim akan terus bermain sepanjang tahun tanpa istirahat. "Jika Anda mengalami musim yang fantastis, kemudian berada di posisi 4 klasemen akhir, dengan perolehan 20 poin di atas posisi 7. Akan sangat mengecewakan (jika tim posisi 4 harus bertanding lagi lawan tim posisi 7). Kita bisa-bisa bertanding sepanjang tahun tanpa istirahat," jelasnya. "Kita harus lebih realistis. Pemain kita banyak yang cedera gara-gara bermain di terlalu banyak kompetisi. Kita bertanding di Piala Dunia, Piala Konfederasi, Piala Afrika, itu sudah terlalu banyak dan sekarang kita malah ingin menambah jumlah pertandingan kita," keluhnya. Yang sedikit mengejutkan ternyata ada tim di luar big four yang kurang yakin dengan ide sistem playoff ini. kebanyakan duduk di posisi 7 besar di setiap musimnya dan sebenarnya bisa mendapatkan keuntungan jika ide ini diterapkan, tetapi manajer mereka David Moyes ragu apakah sistem ini bisa adil. "Ini mungkin lumayan menarik," katanya. "Tetapi Anda seharusnya langsung bisa dinilai ketika Anda sudah menjalani semua 38 pertandingan yang ada." "Jika Anda berada di posisi 4 klasemen akhir, Anda akan bisa berkata kalau Anda adalah tim yang mengusahakan ini di sepanjang musim dan pasti akan bertanya-tanya kenapa harus menjalani lagi pertandingan playoff. Tetapi bagi tim di posisi 5-7 pasti akan menikmati ini," jelasnya. Dia menambahkan ide ini muncul karena ingin membuat tim lain selain big four bisa merasakan kelimpahan uang yang didapat dengan berlaga di Liga Champions yang memang bisa cukup signifikan menambah pendapatan. "Tapi saya tetap tidak yakin, apakah suatu hal yang benar jika Anda berada di posisi 7 klasemen akhir dan itu mungkin bisa membuat Anda masuk ke Liga Champions," pungkasnya bijak. Ada pula pendapat menarik dari Steve Stammers, seorang pengamat sepak bola. Dia mengatakan misalnya klub seperti , atau memenangkan final playoff di Wembley. Mereka akan masuk ke kompetisi paling utama di Eropa. Tetapi jeleknya mereka tidak punya pengalaman serta kekuatan tim yang cukup untuk menghadapi tim terkuat dari negara lain. Jika mereka gagal di babak kualifikasi, nilai koefisien Inggris akan berkurang. Dan akibatnya, Inggris bisa saja akan kehilangan jatah tim keempat yang akan lolos ke Liga Champions. Jadi sama saja sistem playoff ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Masa jika hal ini betul terjadi maka posisi playoff akan digeser lagi untuk jatah klub ketiga? Sistem seperti ini pernah dipakai di Eredivisie Belanda untuk menentukan klub kedua dari Belanda untuk mengikuti babak kualifikasi Liga Champions. Tetapi semuanya berubah menjadi kacau ketika Twente mengalahkan Ajax 2-1 di playoff musim 2007-2008 di mana sampai terjadi kerusuhan. Akhirnya sistem ini dihapuskan karena beresiko besar menimbulkan pertikaian antar pendukung. Tetapi akhirnya dengan keluarnya keputusan final penolakan penerapan sistem ini, Inggris rupanya sudah memikirkan masak-masak apa yang teradil dan terbaik bagi masa depan persepak-bolaan mereka. (bola/cax)

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT

LATEST UPDATE