Kemerdekaan Bersepakbola yang Terenggut
Editor Bolanet | 11 Agustus 2015 15:15
Bola.net - Oleh: Fafa Wahab
Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya tak umumnya Jakarta yang sarat akan kemacetan. Mulai pagi, siang, sore hingga malam hari, sekitar 3 juta orang tumpah ruah di berbagai sudut kota. Macet adalah 'penyakit' yang sampai saat ini belum ditemukan solusinya. Masalahnya, kemacetan bukan hanya terjadi pada hari kerja saja. Kota Surabaya juga amat sangat padat di akhir pekan.
Ketika weekend, jalanan di sepanjang kota selalu dipenuhi ratusan ribuan kendaraan. Tujuan mereka bermacam-macam. Ada yang rekreasi ke luar kota, ada yang hang out di pusat kota, atau sekadar jalan-jalan di mall-mall megah yang bertebaran di Kota Pahlawan. Bagi penulis, akhir pekan adalah waktu untuk melakukan ritual pulang ke kampung halaman. Sabtu sore, usai menuntaskan segala kerjaan, penulis menggeber motor kesayangan menuju tanah kelahiran, Gresik.
Demi terhindar dari kemacetan sekaligus mempersingkat waktu, maka berkendara di jalan tikus merupakan pilihan terbaik. Tapi, cerita menjadi berbeda ketika sejumlah jalan atau gang-gang yang biasanya menjadi shortcut, justru ditutup karena ada kegiatan untuk memperingati hari kemerdekaan. Sialnya, hal ini tak hanya terjadi di satu-dua jalan saja, melainkan di lima jalan alternatif. Mau gimana lagi, niatnya mempersingkat waktu, malah harus legawa karena berkendara Surabaya-Gresik selama lebih dari 1 jam.
Ternyata kejadian ini juga menimpa salah satu kawan. Ia juga harus balik kanan setelah jalan yang dilewatinya ditutup karena ada kegiatan warga. Karena marah bukan solusi terbaik, maka curhat di status media sosialnya adalah jalan keluar untuk mendinginkan kepala. Kemerdekaan berkendara terenggut oleh portal dan acara lomba yang menutup jalan, tulisnya. Kata-kata ini cukup menggelitik dan sarat ironi. Apalagi lomba yang menyebabkan warga menutup jalan, sebenarnya dilakukan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70. Masa iya peringatan hari kemerdekaan, justru merenggut kemerdekaan warganya.
Sepakbola yang Terenggut
Memasuki ulang tahun kemerdekaan ke-70 pada 17 Agustus nanti, Indonesia nyatanya masih jauh dari apa yang sudah dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Bergudang-gudang permasalahan belum terurai tuntas. Entah itu urusan listrik yang masih belum merata, atau perihal korupsi yang susah diberantas. Kemerdekaan juga belum sepenuhnya berlaku dalam sepakbola Indonesia. Rasanya sudah cukup melelahkan melihat situasi sepakbola kita yang tak kunjung kondusif. Sepakbola kita seolah sedang terjajah. Bagaimana tidak, untuk bermain bola saja, susahnya minta ampun.
Saat ini kita disajikan dengan konflik antara dua kubu, yakni kubu PSSI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Perseteruan antara dua organisasi yang sama-sama dipimpin oleh orang dari Jawa Timur ini, pecah di awal tahun 2015 lalu. Imbas dari perseteruan ini cukup terasa. Sejak kurang lebih tiga bulan lalu, kompetisi sepakbola profesional berhenti Indonesia. Kita hanya disajikan pertandingan di luar lapangan hijau, antara PSSI dan Kemenpora. Konflik ini seolah memperpanjang catatan kelam sepakbola Indonesia.
Kita pernah menjadi saksi atas lahirnya dualisme PSSI. PSSI pecah dua kubu. Kubu yang pertama dipimpin oleh Djohar Arifin Husin, sedangkan PSSI sempalan yang saat itu bernama KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia), dipimpin oleh La Nyalla Mahmud Mattalitti. Kompetisinya pun pecah. PSSI Djohar menggeber Indonesia Premier League (IPL). Sedangkan KPSI dengan Indonesia Super League (ISL). Tim Nasional kita pun terpecah menjadi dua. Timnas Indonesia di bawah naungan PSSI Djohar, dibesut oleh Nil Maizar. Sedangkan tim tandingan bentukan KPSI, ditangani oleh Alfred Riedl.
Dualisme membuat kondisi serba tidak enak. Kondisi ini juga berlaku di kalangan jurnalis. Diakui atau tidak, perpecahan menjadi dua kubu memang ada. Ada yang blok kubu ini, ada yang membela kubu itu. Semua merasa kubu mereka lah yang paling benar. Rasanya kebebasan ini sudah terpenggal. Mau gerak ke kiri atau ke kanan pun tidak nyaman. Berita yang sudah cover both side pun, masih sering dianggap berat sebelah. Kamu bela ini ya. Kamu pro kubu itu ya., kata-kata ini jamak terdengar belakangan. Sungguh tidak nyaman rasanya dengan permainan bola di luar lapangan ini.
Melihat konflik antara PSSI dan KPSI saja rasanya sudah sangat melelahkan. Ini kok malah diteruskan dengan konflik PSSI dengan Kemenpora. Lalu kapan kita bermain bolanya, Pak? (faw/pra)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Kabar Terbaru Alejandro Balde ke MU: Barcelona Siap Lepas, Tapi....
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 20:30
-
Murah Saja! MU Bisa Dapatkan Striker Timnas Prancis ini dengan Harga Hemat!
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 20:00
-
Bos Brighton Pede Yankuba Minteh Tidak Tergoda Pindah ke Liverpool
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 19:40
-
Manchester United Wajib Hukumnya Hancurkan Ipswich Town, Kalau Tidak, Bakal Berabe!
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 19:20
-
Dear Manchester United, Bayern Munchen Rindu Kalian!
Liga Champions 28 Agustus 2026, 19:00
-
Manchester United Cari Bek Tengah Baru, Incar Pemain Chelsea Ini?
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 18:40
-
Gabriel Martinelli OTW Gabung Al-Hilal
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 18:20
-
Bruno Fernandes Nantikan Tuah Carlos Baleba di Manchester United
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 18:00
-
Akhirnya Debut di Barcelona, Rodri: Semoga Bisa Lebih Baik Lagi!
Liga Spanyol 28 Agustus 2026, 17:40
-
Joshua Zirkzee Segera Cabut dari Old Trafford, Begini Langkah Antisipasi MU
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 17:20
-
Saga Transfer Julian Alvarez Memanas, Bos Barcelona Pilih Diam Seribu Bahasa
Liga Spanyol 28 Agustus 2026, 17:00
-
Emiliano Martinez Sudah Tiba di London, Segera Disahkan Jadi Pemain Chelsea
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 16:27
-
Prediksi Chelsea vs Brighton, 30 Agustus 2026
Liga Inggris 28 Agustus 2026, 15:00
LATEST EDITORIAL
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33
-
5 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
Editorial 12 Agustus 2026, 12:51







