BOPI Santai Tanggapi Surat FIFA
Editor Bolanet | 23 Februari 2015 19:31
- Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) menanggapi santai korespondensi FIFA dan PSSI pekan lalu. Mereka justru beranggapan proses verifikasi terhadap klub-klub dan operator ISL 2015 sebagai langkah agar kompetisi benar-benar profesional, sesuai aturan FIFA.
Soal pelunasan gaji pemain misalnya. Kami tegas dan konsisten minta gaji pemain dilunasi karena sikap FIFA sangat keras terhadap klub yang mengabaikan hak-hak pemain, kata Ketua BOPI, Mayjen (Pur) Noor Aman.
Selama ini banyak klub dibiarkan mengemplang gaji pemain. Sekarang pun masih ada klub yang berani melampirkan surat pernyataan lunas kepada BOPI tapi mantan pemainnya mengeluh di media sosial gajinya belum dibayar, sambungnya.
Sebelumnya, kompetisi Indonesia Super League 2015 dipastikan mengalami penundaan. Pasalnya, Badan Olahraga Profesional Indonesia -dan Kemenpora- tak memberi rekomendasi sampai klub-klub peserta kompetisi memenuhi syarat profesional.
Namun, meski bertujuan positif, penundaan ini menimbulkan respon negatif dari sejumlah pihak. Bahkan Komisi X DPR-RI ikut bersuara keras menyikapi penundaan ini.
Lebih lanjut, demi melindungi pemain, BOPI meminta agar kontrak pemain harus dengan penanggungjawab perusahaan terbatas (PT) yang menaungi klub. Pasalnya, sejauh ini masih ada pemain yang dikontrak klub melalui asisten manajer atau bendahara tim.
Kami minta itu dikoreksi. Sebab, kalau terjadi apa-apa, kekuatan hukum kontrak seperti itu lemah dan merugikan pemain. Kontrak pemain dan pelatih harus dengan direktur utama PT klub itu, tandasnya. (den/dzi)
Soal pelunasan gaji pemain misalnya. Kami tegas dan konsisten minta gaji pemain dilunasi karena sikap FIFA sangat keras terhadap klub yang mengabaikan hak-hak pemain, kata Ketua BOPI, Mayjen (Pur) Noor Aman.
Selama ini banyak klub dibiarkan mengemplang gaji pemain. Sekarang pun masih ada klub yang berani melampirkan surat pernyataan lunas kepada BOPI tapi mantan pemainnya mengeluh di media sosial gajinya belum dibayar, sambungnya.
Sebelumnya, kompetisi Indonesia Super League 2015 dipastikan mengalami penundaan. Pasalnya, Badan Olahraga Profesional Indonesia -dan Kemenpora- tak memberi rekomendasi sampai klub-klub peserta kompetisi memenuhi syarat profesional.
Namun, meski bertujuan positif, penundaan ini menimbulkan respon negatif dari sejumlah pihak. Bahkan Komisi X DPR-RI ikut bersuara keras menyikapi penundaan ini.
Lebih lanjut, demi melindungi pemain, BOPI meminta agar kontrak pemain harus dengan penanggungjawab perusahaan terbatas (PT) yang menaungi klub. Pasalnya, sejauh ini masih ada pemain yang dikontrak klub melalui asisten manajer atau bendahara tim.
Kami minta itu dikoreksi. Sebab, kalau terjadi apa-apa, kekuatan hukum kontrak seperti itu lemah dan merugikan pemain. Kontrak pemain dan pelatih harus dengan direktur utama PT klub itu, tandasnya. (den/dzi)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Persib B Belum Lengkapi Dokumen, BOPI Belum Beri Rekomendasi Liga 2
Bola Indonesia 19 Juni 2019, 13:03
-
BOPI Terbitkan Rekomendasi untuk Liga 1 2019
Bola Indonesia 10 Mei 2019, 17:07
LATEST UPDATE
-
Kylian Mbappe Akhirnya Punya SIM, Tertangkap Nyetir Mobil Mini di Paris
Bolatainment 7 Maret 2026, 00:17
-
Prediksi Milan vs Inter 9 Maret 2026
Liga Italia 6 Maret 2026, 23:13
-
Prediksi Genoa vs Roma 9 Maret 2026
Liga Italia 6 Maret 2026, 22:45
-
Manchester United Diam-diam Protes Jadwal Liga Inggris, Ada Masalah Apa?
Liga Inggris 6 Maret 2026, 21:46
-
Prediksi Athletic Club vs Barcelona 8 Maret 2026
Liga Spanyol 6 Maret 2026, 21:36
-
Prediksi Newcastle vs Man City 8 Maret 2026
Liga Inggris 6 Maret 2026, 21:21
-
Prediksi Juventus vs Pisa 8 Maret 2026
Liga Italia 6 Maret 2026, 21:10
-
Tempat Menonton Wolves vs Liverpool: Tayang di Mana dan Jam Berapa?
Liga Inggris 6 Maret 2026, 21:00













