Hikayat Persebaya Surabaya: Klub Peraih Gelar Liga Indonesia 1996-1997 dan 2004
Asad Arifin | 19 Juni 2020 15:09
Bola.net - Persebaya Surabaya merupakan salah satu klub penting salam sejarah sepak bola Indonesia. Mereka ikut membidani lahirnya PSSI pada 1930. Tahun 2020 ini, Persebaya telah berusia 93 tahun.
Persebaya lahir dengan nama Soerabhaisasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) pada 18 Juni 1927. Ketika itu, SIVB dibentuk sebagai wadah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.
SIVB akhirnya berganti nama menjadi Persebaya Surabaya pada 1959. Persebaya merupakan klub yang sangat istimewa pada era Perserikatan selain Persija Jakarta, Persis Solo, PSMS Medan, PSM Makassar, dan Persib Bandung.
Persebaya meraih dua gelar pada 1978 dan 1988. Selain itu, Persebaya juga menjadi runner-up lima kali pada 1965, 1971, 1973, 1987, dan 1990.
Kesuksesan pada era perserikatan berhasil dilanjutkan Persebaya pada Liga Indonesia dan Divisi Utama. Sebanyak dua gelar berhasil diraih Persebaya rentang 1996-2004.
Setelah itu, Persebaya belum lagi mampu menjadi juara. Bahkan, klub ini mendapatkan masalah berupa dualisme yang sempat membuat Tim Bajul Ijo turun kasta.
Lantas, seperti apa masa-masa keemasan Persebaya di era sepak bola setelah perserikatan? Berikut ini adalah 2 momen manis Persebaya Surabaya ketika menjadi juara di Indonesia:
Liga Indonesia 1996-1997
Musim 1996-1997 terasa spesial buat Persebaya Surabaya. Ketika itu, Persebaya menjadi klub ketiga yang menjadi juara di era Liga Indonesia setelah Persib Bandung (1994-1995) dan Bandung Raya (1996-1997).
Ketika itu, Persebaya bisa dikatakan memiliki pemain-pemain berkualitas. Ada nama Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi yang dipadukan dengan pemain asing semisal Carlos de Mello hingga Jacksen F. Tiago.
Persebaya di bawah asuhan Rusdy Bahalwan tampil ganas dan menjadi pemuncak klasemen Wilayah Barat dengan 43 poin hasil 13 menang, empat kalah, dan tiga kali bermain imbang.
Pada babak kedua, Persebaya tak terbendung. Persebaya melahap laga-laga Grup A dengan tiga kemenangan. Mereka kemudian mendepak PSM Makassar pada semifinal dengan skor 3-2. Pada laga final, Persebaya berjumpa dengan juara bertahan ketika itu, Bandung Raya.
Laga final digelar di Stadion Utama Senayan pada 28 Juli 1997 dengan waktu kick-off dimulai pada pukul 17.30 WIB. Pada 45 menit babak pertama, kedua tim saling jual beli serangan. Persebaya sesekali sempat tertekan dengan permainan Bandung Raya.
Cerita berbeda pada babak kedua. Persebaya berhasil unggul tiga gol melalui eksekusi penalti Aji Santoso (58'), gol dari Jacksen F. Tiago (60'), dan Reinald Pieters (80'). Bandung Raya hanya mampu mencetak gol pada menit ke-84 melalui aksi Budiman.
Namun, gol tersebut tak berarti karena hingga laga usai situasi tak berubah. Persebaya Surabaya akhirnya meraih gelar setelah menang 3-1 atas Bandung Raya.
Kesuksesan Persebaya terasa lengkap karena Jacksen F. Tiago juga mendapatkan penghargaan individu. Pemain asal Brasil itu menjadi top skorer Divisi Utama 1996-1997 dengan torehan 26 gol.
Gelar ini menjawab rasa penasaran Jacksen dalam kariernya sebagai pesepak bola. Dalam dua musim sebelumnya, Jacksen selalu gagal di final dan menjadi runner-up bersama Petrokimia Putra Gresik (1994-1995) dan PSM Makassar (1995-1996).
Divisi Utama 2004
Persebaya Surabaya berhasil mencetak sejarah pada 2004. Ketika itu, Persebaya menjadi klub Indonesia pertama yang berhasil meraih dua gelar sejak Liga Indonesia bergulir pada 1994.
Persebaya di Divisi Utama 2004 bisa dikatakan sebagai tim terbaik saat itu. Klub asal Jawa Timur tersebut diasuh Jacksen F. Tiago yang mengandalkan pemain-pemain Indonesia berkelas semisal Hendro Kartiko, Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, hingga Kurniawan Dwi Yulianto.
Ketika itu, perburuan gelar terasa sengit dan ditentukan hingga pekan terakhir. Maklum, ada tiga kandidat juara yakni Persebaya, PSM Makassar, dan Persija Jakarta yang berada di papan atas klasemen.
Hingga pekan ke-33, Persija menempati urutan teratas dengan nilai 60. Tim Macan Kemayoran unggul dua poin atas Persebaya dan PSM yang berada di peringkat kedua serta tiga klasemen.
Alhasil, ketiga klub butuh kemenangan untuk mengunci titel juara. Namun, khusus buat PSM wajib menang besar, karena kalah selisih gol dari Persebaya Surabaya.
Persebaya berada dalam situasi sulit karena menghadapi Persija di Stadion Gelora 10 November pada laga pekan ke-34 Divisi Utama, 23 Desember 2004. Adapun PSM Makassar menjamu PSMS Medan di Stadion Mattoanging.
Suporter sempat dibuat tak karuan karena laga molor setengah jam. Penyebabnya adalah hujan deras yang mengguyur Stadion Gelora 10 November jelang laga.
Pertandingan baru berjalan lima menit ketika Persebaya membuka keunggulan melalui Danilo Fernando. Pelatih Jacksen F. Tiago yang awalnya tegang berubah menjadi kegirangan. Keunggulan Persebaya bertahan hingga turun minum.
Pada babak kedua, Persija berhasil mencetak gol penyeimbang melalui aksi bunuh diri Mat Halil. Situasi ini membuat Persebaya kembali dalam tekanan dan wajib mencetak gol lain.
Persebaya kemudian berbalik unggul melalui Luciano de Silva. Bola hasil sundulannya gagal diantisipasi kiper Persija kawalan Syamsidar.
Gol itu sontak membuat puluhan ribu Bonek bergemuruh. Bahkan, ada yang mencoba masuk ke dalam lapangan karena sudah yakin gelar juara dalam genggaman.
Pada pertandingan lain, PSM Makassar berhasil memenangi pertandingan dengan skor 2-1. Namun, kemenangan PSM tak lagi berarti karena dengan hasil 2-1 atas Persija sudah cukup membuat Persebaya menjadi juara berkat selisih 11 gol.
Gelar ini terasa spesial buat Jacksen F. Tiago. Pria asal Brasil itu berhasil meraih gelar bersama Persebaya sebagai pemain pada 1996-1997 dan pelatih pada 2004.
Disadur dari Bola.com (Penulis: Benediktus Gerendo Pradigdo/Editor: Zulfirdaus Harahap, 19 Juni 2020)
Baca Ini Juga:
Tentang Bruno Fernandes: Frank Lampard Portugal yang Drop-out dari SMA
Fakta-fakta Bayern Munchen: Sang Juara Bundesliga 2019/2020
Klub-Klub Ini Bernasib Buruk Usai Masuk Final Liga Champions, Kena Kutukan?
Tak Ada Ronaldo, Ini Pemain Terbaik Premier League dalam 3 Dekade Terakhir
Tottenham Vs Manchester United: 5 Pemain yang Aksinya Patut Disimak
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Marselino Ferdinan Fokus Rehabilitasi usai Operasi Lutut di Sevilla
Bola Indonesia 14 Agustus 2026, 16:25
LATEST UPDATE
-
Barcelona Hancurkan Valencia, Hansi Flick Full Senyum!
Liga Spanyol 7 September 2026, 06:30
-
Kena Comeback Arsenal, Xabi Alonso Akui Chelsea Sempat Lengah
Liga Inggris 7 September 2026, 05:45
-
Bekuk Chelsea, Mikel Arteta Sanjung Mental Juara Arsenal
Liga Inggris 7 September 2026, 05:15
-
Man of the Match Juventus vs AC Milan: Francisco Conceicao
Liga Italia 7 September 2026, 04:34
-
Hasil Juventus vs AC Milan: Gol Telat Gatti Buyarkan Kemenangan Rossoneri!
Liga Italia 7 September 2026, 04:25
-
Man of the Match Arsenal vs Chelsea: Martin Odegaard
Liga Inggris 7 September 2026, 00:53
-
Hasil Arsenal vs Chelsea: The Gunners Comeback dan Menang di Derby London
Liga Inggris 7 September 2026, 00:27
-
Tempat Menonton Juventus vs AC Milan di Serie A, 7 September 2026
Liga Italia 6 September 2026, 23:59
-
Link Streaming Juventus vs AC Milan 7 September 2026
Liga Italia 6 September 2026, 23:45
-
Man of the Match Valencia vs Barcelona: Fermin Lopez
Liga Spanyol 6 September 2026, 23:30
-
Hasil Valencia vs Barcelona: Blaugrana Hancurkan Los Che 5-0 di Mestalla
Liga Spanyol 6 September 2026, 23:18
-
Rapor Pemain Manchester United Kontra Everton: Mbeumo Gemilang, Lammens Jadi Sorotan
Liga Inggris 6 September 2026, 22:48
-
Man of the Match Everton vs Man Utd: Bryan Mbeumo
Liga Inggris 6 September 2026, 22:23
-
Hasil Everton vs Man Utd: Gol Menit 90+6 Buyarkan Kemenangan Setan Merah
Liga Inggris 6 September 2026, 22:01
LATEST EDITORIAL
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33
-
5 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
Editorial 12 Agustus 2026, 12:51





