10 Tahun Guardiola di Man City: Drama, Obsesi, dan Warisan yang Sulit Ditandingi
Richard Andreas | 26 Mei 2026 17:27
Bola.net - Pep Guardiola tidak sekadar mengubah Manchester City menjadi tim juara. Ia membangun sebuah budaya yang membuat kemenangan terasa seperti kewajiban selama satu dekade terakhir.
Dalam 10 tahun di Etihad Stadium, Guardiola menghadirkan era paling dominan dalam sejarah sepak bola Inggris. Empat gelar Premier League beruntun, treble bersejarah, hingga berbagai rekor baru lahir di bawah tangan dinginnya.
Meski begitu, di balik semua kesuksesan itu, tersimpan kisah tentang obsesi, tekanan, hubungan rumit dengan pemain, hingga perjuangan Guardiola menjaga standar nyaris mustahil setiap harinya.
Laporan panjang The Athletic mengungkap sisi lain perjalanan sang pelatih di Manchester City. Simak selengkapnya.
Obsesi Guardiola yang Mengubah Manchester City

Guardiola datang ke Manchester City pada 2016 dengan tuntutan besar. Namun sejak hari pertama, ia langsung menunjukkan standar yang berbeda dibanding pelatih lain.
Fernandinho mengenang bagaimana Guardiola menghentikan sesi latihan hanya beberapa detik setelah dimulai karena merasa para pemain tidak cukup intens. Sang pelatih meminta seluruh tim bermain "full gas" sejak menit pertama latihan sampai selesai.
Obsesi Guardiola juga terlihat dari detail-detail kecil yang ia perhatikan. Bacary Sagna menceritakan bagaimana Guardiola memprotes aksi backheel sederhana dalam latihan rondo karena menurutnya gerakan itu menunjukkan posisi tubuh yang salah sebelum menerima bola.
Di luar lapangan, Guardiola menerapkan aturan ketat. Pemain diwajibkan sarapan dan makan siang bersama di pusat latihan, penggunaan ponsel dibatasi, hingga berat badan diawasi secara serius. Jika ada pemain kelebihan berat badan sekitar 1,5 kilogram saja, ia bisa dicoret dari skuad sementara.
Semua itu dilakukan Guardiola demi menciptakan kultur yang ia inginkan di Manchester City. Ia tidak hanya ingin tim hebat, tetapi skuad yang hidup dengan mentalitas juara setiap hari.
Hubungan Rumit dengan Para Pemain

Di balik kesuksesan Manchester City, hubungan Guardiola dengan pemain tidak selalu berjalan mulus.
Sergio Aguero sempat merasa Guardiola ingin menjualnya karena kurang agresif dalam pressing dan latihan. Bahkan striker legendaris Argentina itu pernah hampir pindah ke Chelsea sebelum akhirnya bertahan di City.
Fernandinho menjelaskan bahwa Guardiola akhirnya menemukan solusi agar Aguero tetap efektif tanpa harus menguras energinya dalam pressing. City membangun sistem khusus yang memungkinkan Aguero hanya melakukan beberapa sprint penting, sementara pemain lain menutup ruang dan bekerja lebih keras.
Guardiola juga dikenal sangat keras kepada pemain yang tidak menunjukkan sikap positif. Di internal klub, ada istilah "no bad faces", yakni larangan memperlihatkan ekspresi negatif saat tidak dimainkan. Guardiola percaya suasana ruang ganti sangat menentukan keberhasilan tim.
Meski begitu, banyak pemain tetap memujinya. Ilkay Gundogan menyebut Guardiola sebagai mentor sekaligus sahabat setelah bekerja bersama selama delapan musim.
Gundogan merasa Guardiola perlahan berubah menjadi lebih manusiawi dan lebih memahami kebutuhan emosional pemain seiring berjalannya waktu.
Guardiola, Taktik Gila, dan Ide yang Tak Pernah Habis

Salah satu hal paling terkenal dari Guardiola adalah obsesinya terhadap detail taktik.
Gundogan pernah menceritakan momen ketika Guardiola datang ke ruang video dengan ide baru yang ia jelaskan selama 45 menit penuh semangat. Namun setelah dicoba di latihan, Guardiola tiba-tiba menghentikan semuanya dan mengatakan bahwa ide tersebut tidak masuk akal.
Kisah lain datang dari Bernardo Silva. Guardiola sempat ingin memainkan Bernardo sebagai bek tengah saat menghadapi Arsenal pada 2023 sebelum akhirnya mengubah rencana dan menempatkannya sebagai bek kiri. City tetap memenangkan pertandingan tersebut.
Guardiola memang dikenal sering mengubah posisi pemain demi kebutuhan tim. Fabian Delph dan Oleksandr Zinchenko pernah diubah menjadi bek kiri, Kevin De Bruyne dijadikan false nine, sementara John Stones berevolusi menjadi libero modern.
Menurut Josko Gvardiol, Guardiola hidup 24 jam untuk sepak bola dan memiliki cara pandang yang sangat berbeda dibanding pelatih lain. Bek Kroasia itu bahkan mengaku langsung merasa cocok hanya dari percakapan singkat lima menit saat proses transfernya ke City.
Tekanan Besar dan Sisi Manusia Guardiola

Meski terlihat dominan di pinggir lapangan, Guardiola ternyata mengalami tekanan luar biasa dalam beberapa musim terakhir.
Noel Gallagher mengungkapkan Guardiola sempat terlihat sangat frustrasi ketika Manchester City mengalami musim sulit dan terseret berbagai tekanan, termasuk kasus 115 dakwaan finansial yang membayangi klub.
Beberapa sumber di sekitar klub bahkan merasa Guardiola mulai kesepian. Ia disebut menghabiskan terlalu banyak energi untuk sepak bola dan jarang memiliki waktu santai di luar pekerjaan.
Meski begitu, justru dalam tekanan itulah Guardiola kembali menunjukkan kualitasnya. Ia terus mencari solusi, mencoba pendekatan baru, hingga merekrut Pep Lijnders untuk membawa energi segar ke ruang latihan.
Di sisi lain, Guardiola juga dikenal sangat peduli kepada staf klub. Ia membagi bonus bersama staf belakang layar, menjaga agar tidak ada pegawai terkena furlough saat pandemi Covid-19, dan rutin melibatkan petugas kitman, keamanan, hingga koki dalam perayaan tim.
Fernandinho menyebut banyak staf rela "mati" untuk Guardiola karena cara sang pelatih memperlakukan mereka dengan hormat dan penuh perhatian.
Warisan Besar yang Sulit Ditandingi
Manchester City era Guardiola bukan hanya soal jumlah trofi. Ini adalah era yang mengubah standar sepak bola Inggris.
City mencatat musim 100 poin, memenangi empat Premier League beruntun, serta meraih treble yang selama puluhan tahun hanya bisa dicapai rival sekota mereka, Manchester United.
Lebih dari itu, Guardiola menciptakan tim dengan identitas sangat kuat. Ia membangun budaya disiplin, obsesi terhadap detail, dan mentalitas untuk terus menang bahkan setelah meraih banyak trofi.
Guardiola sendiri mengaku salah satu hal yang paling ia banggakan adalah konsistensi Manchester City di semua kompetisi selama 10 tahun terakhir.
Ia ingin para pemain memandang setiap pertandingan dengan keseriusan yang sama, baik melawan Real Madrid maupun tim dari divisi bawah Inggris.
Kini Guardiola akan meninggalkan Manchester City dengan status legenda. Banyak pemain hebat datang dan pergi selama satu dekade terakhir, tetapi hampir semua kisah besar City modern selalu kembali pada satu sosok di pinggir lapangan: Pep Guardiola.
Jangan Lewatkan!
Fans Liverpool Jeli! Kritik Jersey Baru, Warna Celana dan Baju Tidak Sama
Kok Bisa? Pelatih Bayern Munchen Ikut-ikutan Parade Trofi Manchester City
Roy Keane Sindir Bruno Fernandes Lagi? Kali Ini Bawa-Bawa Keledai!
Pesta Juara Arsenal Berlanjut hingga Dini Hari, Sempat Bertemu Pemain Tottenham di Klub Malam London
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Arsenal Juara, David Raya Jadi Pahlawan dalam Senyap
Liga Inggris 26 Mei 2026, 18:18
-
Benarkah Chicago Fire PDKT ke Robert Lewandowski?
Liga Spanyol 26 Mei 2026, 16:52
LATEST EDITORIAL
-
Ke Mana Pep Guardiola Setelah Man City? Ini 7 Kandidat Tujuannya
Editorial 20 Mei 2026, 16:16
-
Daftar Manajer Termuda Juara Premier League, Mikel Arteta Masuk
Editorial 20 Mei 2026, 14:19
-
5 Destinasi Potensial Dani Carvajal Setelah Tinggalkan Real Madrid
Editorial 19 Mei 2026, 10:00












