5 Inovasi Gemilang Jurgen Klopp yang Membuat Liverpool Juara Premier League
Yaumil Azis | 29 Juni 2020 15:18
Bola.net - Jurgen Klopp membawa semua yang ia pelajari selama melatih Borussia Dortmund saat memutuskan pindah ke Liverpool. Namun, dalam perjalanannya, ia melakukan sejumlah inovasi untuk menyesuaikan keadaan.
Ia benar-benar membangun Liverpool dari titik yang nyaris nol. Dalam merekrut pemain, ia tidak mengutamakan nama besar. Selama pemain tersebut bisa bermain dalam skema yang diterapkan, maka dialah yang diangkut.
Butuh waktu yang panjang untuk Klopp untuk memberikan trofi perdananya kepada the Reds. Trofi Liga Champions pun baru ia dapatkan empat tahun setelah pengangkatannya sebagai pengganti Brendan Rodgers.
Dalam perjalanannya, Klopp melakukan sejumlah inovasi penting yang memiliki andil besar dalam kesuksesan the Reds. Apa saja inovasi tersebut? Simak informasi dari Sportskeeda berikut ini.
Scroll ke bawah untuk membaca informasi selengkapnya.
Menyihir Mane dan Mo Salah Jadi Pemain Kelas Dunia
Sadio Mane dan Mohamed Salah tidak bisa lepas dari era kesuksesan Liverpool ini. Dari kaki keduanya, serangkaian gol-gol penting the Reds tercipta.
Namun siapalah mereka saat masih memperkuat klub sebelumnya? Mohamed Salah memang bersinar selama berstatus sebagai penggawa AS Roma, namun jumlah golnya tidak pernah sementereng sekarang.
Terutama pada musim 2017/18 lalu, di mana dirinya berhasil mencetak total 44 gol dari 52 pertandingan di semua ajang. Potensinya benar-benar terasah selama diasuh oleh Jurgen Klopp.
Setelah mendatangkan Mo Salah, Sadio Mane digeser ke sisi kiri penyerangan. Perubahan ini membuat lini serang the Reds semakin menyeramkan. Pada posisi barunya, ia jadi lebih leluasa untuk melakukan tusukan dari sisi sayap.
Peran 'False 9' untuk Roberto Firmino
Nama Lionel Messi kerap tercetus saat berbicara soal peran 'false 9' dalam lini serang. Selain itu, Roberto Firmino adalah pemain yang paling fasih dalam memainkan peran ini.
Perlu diketaui bahwa Firmino sejatinya adalah gelandang serang saat baru mendarat di Liverpool pada tahun 2015. Kehadirannya membuat publik bertanya-tanya perihal posisinya, berhubung Philippe Coutinho merupakan salah satu gelandang serang andalan di masa itu.
Klopp melakukan sejumlah perubahan di lini serang. Ia mencoba beberapa nama seperti Christian Benteke dan Daniel Sturridge, yang sudah teruji ketajamannya. Selain itu, Divock Origi pun kerap dicoba oleh pria asal Jerman tersebut.
Kemenangan 4-1 atas Manchester City memberikan ide baru buat Klopp. Percobaan memasang Firmino sebagai striker sentral membuahkan hasil, di mana dirinya sukses mencetak satu gol dan satu assist di laga tersebut.
Klopp pun mulai berinovasi dengan memainkan Firmino sebagai 'false 9' untuk mendukung Mo Salah dan Sadio Mane. Dan sekarang, ia merupakan anggota dari salah satu trio paling menakutkan di dunia.
Mengubah Formasi dari 4-2-3-1 ke 4-3-3
Klopp seringkali memainkan formasi 4-2-3-1 sewaktu masih melatih Borussia Dortmund. Ia membawa kebiasaan itu pada musim perdananya di Liverpool.
Hasilnya terbilang cukup bagus. Pada musim perdananya, the Reds berhasil mencapai babak final Carabao Cup beserta Liga Europa. Namun, Klopp nampaknya tidak suka berlama-lama di zona nyamannya.
Ia mengubah formasinya menjadi 4-3-3, yang ternyata cocok untuk hampir kebanyakan pemainnya di skuat. Salah satunya adalah Georginio Wijnaldum yang berkembang jadi salah satu gelandang 'box-to-box' terbaik saat ini.
Jordan Henderson pun nampak nyaman dalam formasi ini. Ia menjadi sosok yang versatile karena mampu mengisi setiap slot di lini tengah. Firmino juga mendapatkan posisi barunya dan kini dikenal sebagai salah satu 'false 9' terbaik.
Mendatangkan Van Dijk dan Alisson Becker
Sektor pertahanan menjadi kelemahan Liverpool sejak Jurgen Klopp hadir. Namun semuanya berubah saat Virgil Van Dijk didatangkan dari Southampton dengan mahar 75 juta pounds pada tahun 2018 lalu.
Kehadirannya tidak hanya menambal lini belakang saja. Pria asal Belanda tersebut membuat pemain bertahan lainnya, seperti Joel Matip dan Joe Gomez, bisa menunjukkan kualitas yang sebenarnya di atas lapangan.
Bahkan Dejan Lovren sekalipun tampak gemilang saat diduetkan bersama Van Dijk. Andy Robertson juga lebih leluasa untuk melakukan serangan karena memiliki sosok yang siap menutup kekosongannya saat maju ke depan.
Sayangnya, kehadiran Van Dijk belum menuntaskan masalah Liverpool di lini belakang secara utuh. Dua blunder fatal yang dilakukan Loris Karius membuat the Reds sadar bahwa sektor penjaga gawang pun perlu diperhatikan.
Mereka kemudian mendatangkan Alisson Becker enam bulan setelah merekrut Van Dijk. Aura dan kepercayaan diri dari pria asal Brasil itu membuat pertahanan Liverpool jadi lebih kalem. Ia juga handal dalam mendistribusikan bola sehingga pembangunan permainan Liverpool pun jadi lebih efektif ketimbang sebelumnya.
Bek Sayap Sebagai Playmaker
Klopp terbilang beruntung dalam urusan bek sayap. Sebab Josep Guardiola sudah menghabiskan uang sebesar 152 juta pounds milik Manchester City tanpa pernah mendapatkan bek sayap yang bisa sepenuhnya diandalkan.
Sementara itu, Klopp hanya mengeluarkan uang delapan juta pounds saja untuk memenuhi kebutuhannya di sektor yang sama. Uang tersebut digunakan untuk memboyong Andrew Robertson dari Hull City.
Sisi lainnya telah ditutupi oleh Trent Alexander-Arnold, si pemain jebolan akademi Liverpool. Keduanya bersinar dan membuat the Reds memiliki salah satu pasangan bek sayap terbaik di musim ini.
Alexander-Arnold dan Robertson piawai dalam mengirim umpan kepada rekan-rekannya di kotak penalti. Contohnya pada saat Liverpool mengalahkan Watford dengan skor telak 5-0 musim lalu. Mereka punya andil besar dalam kelima gol tersebut.
TAA mengantongi tiga assist, sementara Robertson menyusul dengan dua assist. Mereka saling bersaing dan menghasilkan total 23 assist pada musim itu. Konsistensinya terjaga pada musim ini, di mana TAA sekarang menempati peringkat ke-2 dalam perolehan assist terbanyak di bawah Kevin De Bruyne. Sedangkan Robertson telah mengumpulkan tujuh assist sejauh ini.
(Sportskeeda)
Baca Juga:
- Jurgen Klopp ke Jadon Sancho: Pakai Jersey Merah Sangat Cocok
- Romansa Perpisahan Philippe Coutinho dan Liverpool: Yang Merana dan Berjaya
- Tanpa Liverpool, Inilah 6 Besar Tim dengan Trio Penyerang Tersubur di 5 Liga Besar Eropa
- Gara-gara Firasat Buruk Sang Istri, Jurgen Klopp Pernah Tolak Pinangan MU
- Liverpool Bersiap Hadapi Kebangkitan Manchester City
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Kebangkitan Kobbie Mainoo Jadi Momen Emas bagi Ineos di Manchester United, Kok Bisa?
Liga Inggris 20 Januari 2026, 17:11
LATEST UPDATE
-
Prediksi Bayern vs Union Saint-Gilloise 22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 22:28
-
Prediksi Atalanta vs Athletic Club 22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 22:24
-
Prediksi Qarabag FK vs Eintracht Frankfurt 22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 21:09
-
Real Madrid vs Monaco: Statistik Gol Mbappe Jadi Ancaman Nyata buat Mantan Klubnya
Liga Champions 20 Januari 2026, 21:04
-
Villarreal vs Ajax: Jaminan Gol dalam Laga yang Berpotensi Berjalan Terbuka
Liga Champions 20 Januari 2026, 20:55
-
Prediksi Galatasaray vs Atletico Madrid 22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 20:49
-
Copenhagen vs Napoli: Panggung Istimewa bagi Rasmus Hojlund
Liga Champions 20 Januari 2026, 20:17
-
Update Transfer Resmi 18 Klub BRI Super League pada Januari 2026
Bola Indonesia 20 Januari 2026, 20:14
-
Madrid vs Monaco: Ujian Arbeloa, Reuni Mbappe, dan Angkernya Bernabeu
Liga Champions 20 Januari 2026, 20:00
-
Sporting vs PSG: Tamu yang Sangat Berbahaya
Liga Champions 20 Januari 2026, 19:58
LATEST EDITORIAL
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06









