Arsenal yang Sekarang: Permainan Tidak Menarik, Segalanya Demi Gelar Juara
Richard Andreas | 6 Maret 2026 14:01
Bola.net - Arsenal terus menjaga momentum dalam perburuan gelar Premier League musim ini. Namun kemenangan tipis mereka di markas Brighton justru memicu perdebatan mengenai gaya bermain tim asuhan Mikel Arteta.
The Gunners menang 1-0 di Amex Stadium. Hasil itu memperkuat posisi mereka di puncak klasemen, tetapi komentar tajam dari pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, langsung menjadi sorotan.
Hurzeler bahkan menyebut hanya ada satu tim yang benar-benar mencoba bermain sepakbola dalam laga tersebut. Pernyataan itu memicu diskusi lebih luas tentang cara Arsenal meraih kemenangan musim ini.
Di satu sisi, Arsenal semakin dekat dengan trofi liga pertama mereka dalam lebih dari dua dekade. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan apakah pendekatan yang digunakan Arteta masih mencerminkan sepakbola yang atraktif.
Komentar Pedas Fabian Hurzeler Setelah Kekalahan Brighton

Fabian Hurzeler tidak menahan kritik ketika berbicara setelah pertandingan. Pelatih Brighton itu mengaku tidak menyukai pendekatan yang ditunjukkan Arsenal di lapangan.
Menurutnya, ada banyak cara untuk memenangkan pertandingan. Namun ia merasa Arsenal terlalu sering menggunakan taktik yang menurutnya tidak mencerminkan permainan ideal.
“Ada berbagai cara untuk menang,” kata Hurzeler dalam konferensi pers setelah laga.
“Jika mereka memenangkan Premier League, di masa depan tidak akan ada yang bertanya bagaimana mereka memenangkannya. Anda bisa merasakan mereka akan melakukan segalanya untuk menang. Pada akhirnya ini soal aturan, tetapi saat ini saya merasa mereka membuat aturan sendiri.”
Komentar tersebut merujuk pada apa yang dikenal sebagai game management dalam sepakbola modern. Hurzeler menyoroti tindakan mengulur waktu dan berbagai taktik lain yang menurutnya mengganggu alur pertandingan.
Kritik yang Tidak Biasa di Era Premier League Modern

Pernyataan Hurzeler terasa cukup mencolok di tengah budaya Premier League yang biasanya lebih berhati-hati dalam mengkritik lawan.
Banyak pelatih memilih menghindari komentar tajam, terutama ketika membahas tim yang sedang memimpin klasemen dengan jarak cukup nyaman.
Namun Hurzeler tetap menyampaikan pandangannya secara terbuka. Ia bahkan mempertanyakan apakah pertandingan tersebut benar-benar menghibur bagi para penonton.
“Saya tidak akan pernah menjadi pelatih yang mencoba menang dengan cara seperti itu,” ujarnya.
“Jika saya bertanya kepada semua orang di ruangan ini apakah mereka benar-benar menikmati pertandingan ini, mungkin hanya satu orang yang mengangkat tangan karena dia penggemar Arsenal. Selain itu, tidak mungkin.”
Komentar tersebut mencerminkan frustrasi kubu Brighton. Namun pada saat yang sama, kritik itu juga menggambarkan pandangan sebagian pengamat yang menilai permainan Arsenal musim ini tidak selalu atraktif secara estetika.
Arsenal Fokus Hasil, Bukan Penilaian Publik

Terlepas dari kritik tersebut, Arsenal tampaknya tidak terlalu memedulikan perdebatan soal gaya bermain.
Bagi tim yang sudah menunggu gelar liga selama lebih dari dua dekade, hasil akhir jelas menjadi prioritas utama.
Banyak pihak menilai, jika Arsenal benar-benar mampu menjuarai liga musim ini, perdebatan soal cara mereka bermain kemungkinan akan memudar dengan sendirinya.
Sejarah sepakbola sering menunjukkan bahwa trofi menjadi hal utama yang diingat. Cara sebuah tim mencapainya biasanya hanya menjadi catatan kecil dalam perjalanan tersebut.
Bagi Arteta dan para pemainnya, target mereka saat ini sederhana, yaitu melewati garis finis sebagai juara.
Perbandingan dengan Arsenal Era Arsene Wenger
Perdebatan soal gaya bermain Arsenal juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah klub tersebut.
Pada awal 2000-an, tim asuhan Arsene Wenger dikenal dengan permainan menyerang yang sangat atraktif. Arsenal saat itu kerap dipuji karena sepakbola mereka yang memanjakan mata.
Beberapa pengamat bahkan pernah membandingkan dominasi tim tersebut dengan konsep total football yang terkenal dari Belanda era 1970-an.
Karena itu, sebagian kritik terhadap Arsenal saat ini muncul dari perbandingan dengan masa lalu klub.
Banyak yang merasa pendekatan Arteta tidak lagi identik dengan citra estetis yang dulu melekat pada Arsenal.
Meski demikian, setiap era memiliki tuntutan yang berbeda. Arsenal modern kini berada di bawah tekanan besar untuk mengakhiri penantian panjang mereka terhadap gelar liga.
Ketika Gelar Menjadi Prioritas Utama
Dalam sejarahnya, Arsenal juga pernah meraih sukses dengan pendekatan yang lebih pragmatis.
Pada era George Graham, misalnya, klub London Utara tersebut sering dijuluki “boring Arsenal” oleh para rivalnya. Meski begitu, pendekatan tersebut tetap membawa trofi.
Situasi serupa bisa saja kembali terjadi pada generasi Arsenal saat ini.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah tim hampir selalu diukur dari trofi yang mereka menangkan. Kritik soal gaya bermain mungkin tetap ada, tetapi gelar juara akan menjadi cerita utama dalam sejarah klub.
Dengan posisi mereka saat ini di puncak klasemen, Arsenal hanya perlu memastikan satu hal: menyelesaikan pekerjaan hingga akhir musim.
Jangan sampai ketinggalan infonya
Wah! Andai Jadi Juara EPL, Gelar Arsenal Bisa Dipertanyakan
Absen di Dua Laga Terakhir Arsenal, Begini Update Cedera Martin Odegaard
Gelandang Juventus Ini Masuk Daftar Belanja Manchester United?
Tidak Hanya Beli Gelandang, MU Putuskan Perkuat Sektor Ini di Musim Panas 2026
Keserakahan Agen Jadi Penyebab Kobbie Mainoo Urung Teken Kontrak Baru di Manchester United?
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Terungkap, MU Sempat Mau Angkut Bek Timnas Argentina Ini
Liga Inggris 8 September 2026, 08:50
-
Michael Carrick akui Pertahanan Manchester United Keropos, Perlu Lekas Dibenahi
Liga Inggris 8 September 2026, 08:41
-
Kalah dari Arsenal, Chelsea Yakin Bakal Happy Ending di Akhir Musim 2026/2027
Liga Inggris 8 September 2026, 05:12
-
Pengakuan Jujur Xabi Alonso: Bikin Kesalahan Soal Cedera Moises Caicedo
Liga Inggris 8 September 2026, 01:21
-
Sudah Kebobolan 6 Gol, Pertahanan Manchester United Punya Masalah Serius?
Liga Inggris 7 September 2026, 19:48
LATEST UPDATE
-
Sanksi Larangan Bermain Usai, Ole Romeny Siap Comeback Bersama Fortuna Sittard
Tim Nasional 8 September 2026, 20:43
-
Dortmund vs Villarreal: Fakta dan Statistik Jelang Laga Matchday 1 Liga Champions
Liga Champions 8 September 2026, 20:18
-
Daftar Nominasi Kopa Trophy 2026: Lamine Yamal Kembali Jadi Unggulan
Liga Champions 8 September 2026, 20:08
-
Daftar Nominasi Yashin Trophy 2026: Courtois dan Raya Jadi Kandidat Kuat
Liga Champions 8 September 2026, 20:00
-
Madrid vs Inter: Fakta dan Statistik Jelang Laga Matchday 1 Liga Champions
Liga Champions 8 September 2026, 19:13
-
Prediksi Sporting CP vs Galatasaray 10 September 2026
Liga Champions 8 September 2026, 18:30
-
Prediksi Liverpool vs Atletico Madrid 10 September 2026
Liga Champions 8 September 2026, 18:20
-
Shin Tae-yong Pede Persija Tampil Lebih Baik saat Hadapi Persib
Bola Indonesia 8 September 2026, 18:20
-
Porto vs Man City: Fakta dan Statistik Jelang Laga Matchday 1 Liga Champions
Liga Champions 8 September 2026, 18:19
-
Prediksi Napoli vs Arsenal 10 September 2026
Liga Champions 8 September 2026, 18:09
-
Manuel Locatelli Terancam Absen 3 Bulan, Juventus Hadapi Krisis Lini Tengah
Liga Italia 8 September 2026, 17:56
LATEST EDITORIAL
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33
-
5 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
Editorial 12 Agustus 2026, 12:51




