Bukan Taktik, tapi Penempatan Pemain: Mengapa Manchester United Terus Kalah Meski Formasi Sudah Diperbaiki?
Richard Andreas | 15 September 2025 20:30
Bola.net - Manchester United kembali mengalami kekalahan telak dalam laga besar. Hasil 0-3 saat menghadapi Manchester City menjadi luka yang terasa familier bagi para pendukung setia di Old Trafford.
Permasalahan yang ada dinilai bukan sekadar soal formasi atau taktik. Ruben Amorim memang sudah membawa perbaikan kecil dengan skema 3-4-2-1, yang membuat tim lebih solid dan kompak. Namun, kesalahan-kesalahan mendasar dari para pemain justru terus terjadi dan merusak upaya yang sudah dibangun.
Beberapa gol yang bersarang ke gawang United musim ini tidak lahir karena kegagalan sistem. Gol-gol tersebut justru berasal dari kesalahan posisi dan salahnya pemain dalam membaca situasi. Kondisi "square peg in a round hole" tampak nyata, mulai dari Bruno Fernandes hingga Luke Shaw.
Pertanyaan terbesarnya kini bukan lagi tentang formasi, melainkan bagaimana Amorim menempatkan pemain pada peran yang seharusnya. Tanpa adanya perbaikan mendasar, kesalahan yang sama akan terus menghantui Manchester United.
Amorim dan Formasi 3-4-2-1: Perbaikan yang Tertutup Kesalahan

Sejak tiba di Old Trafford, Ruben Amorim memperkenalkan pendekatan baru melalui formasi 3-4-2-1. Pola ini sempat menimbulkan pro dan kontra, tetapi secara perlahan mulai menunjukkan hasil positif. United terlihat lebih kompak baik saat menyerang maupun bertahan, dengan jarak antar lini yang semakin rapat.
Bukti perbaikan itu terlihat pada babak pertama melawan Manchester City. United beberapa kali berhasil merebut bola di area tinggi, bahkan sempat menciptakan peluang dari serangan balik cepat. Situasi ini jarang terjadi di musim sebelumnya, di mana lini pertahanan terlalu mudah ditembus.
Namun, semua perkembangan tersebut seolah tidak ada artinya saat kesalahan mendasar terjadi. Gol pembuka Phil Foden bukanlah akibat kegagalan formasi, melainkan karena pemain kunci bermain di posisi yang bukan keahliannya. Kondisi inilah yang kemudian menutupi langkah maju United.
Dengan kata lain, Amorim berhasil merapikan struktur permainan. Namun, masalah utama justru berasal dari dalam, yaitu kesalahan dalam pemilihan pemain. Kekeliruan ini terus berulang dan berujung pada hasil yang buruk.
Bruno Fernandes: Playmaker yang Dipaksa Jadi Gelandang Bertahan
Nama Bruno Fernandes menjadi sorotan utama dalam kekalahan di Etihad. Kapten United, yang dikenal sebagai salah satu playmaker terbaik dunia, dipaksa mengisi peran lebih dalam sebagai gelandang tengah. Sayangnya, posisi tersebut justru mengekspos kelemahan yang sangat jelas.
Gol pertama City menjadi bukti nyata dari hal tersebut. Fernandes gagal mengantisipasi pergerakan Foden yang menusuk dari lini kedua. Ia sempat berada di posisi yang tepat, tetapi kehilangan fokus. Ia hanya mengawasi bola tanpa membaca pergerakan lawan. Situasi serupa juga pernah terjadi saat United kehilangan poin melawan Fulham pada bulan Agustus.
Ironisnya, kemampuan distribusi bola Fernandes dari area tengah sebetulnya sangat baik. Umpan-umpan dari posisi dalam mampu membuka ruang bagi para penyerang. Masalahnya, kontribusi itu dibayar mahal dengan kerapuhan yang terlihat saat ia harus bertahan.
Kondisi ini menegaskan bahwa meskipun secara teknis mampu menguasai bola di berbagai situasi, Fernandes tetaplah seorang playmaker. Menempatkannya di posisi yang menuntut disiplin defensif hanya akan menimbulkan risiko besar bagi United.
Kesalahan Posisi Lain: Luke Shaw dan Lini Pertahanan Rapuh

Bruno Fernandes bukan satu-satunya pemain yang dipaksa keluar dari zona nyamannya. Luke Shaw juga seringkali dijadikan bek tengah dalam formasi tiga bek, padahal sebagian besar kariernya dijalani sebagai bek kiri yang dinamis.
Hasilnya terlihat jelas. Pada gol pembuka City, Shaw terlalu mudah dilewati oleh Jeremy Doku. Situasi tersebut menggambarkan betapa Shaw tidak sepenuhnya merasa nyaman sebagai bek tengah. Adaptasi memang mungkin, tetapi kenyamanan dalam peran asli tetap memberikan perbedaan yang besar.
Kelemahan ini semakin terlihat pada gol kedua City. Serangkaian kesalahan terjadi, mulai dari Manuel Ugarte yang kehilangan fokus, Mazraoui terlambat menutup ruang, hingga Leny Yoro yang gagal mengantisipasi gerakan Doku. Semua berawal dari pemain yang tidak sepenuhnya mantap di posisinya.
Ketika seorang pemain merasa tidak natural dalam perannya, kesalahan kecil akan menumpuk. Itulah yang terjadi pada lini belakang United, yang akhirnya tidak mampu menahan gelombang serangan City di babak kedua.
Jalan Terjal United Jika Kesalahan Berulang
Kekalahan dalam derby memang terasa menyakitkan, tetapi United sebetulnya tidak tampil sepenuhnya buruk musim ini. Mereka memiliki peluang untuk menang atas Arsenal, mengalahkan Burnley, dan seharusnya bisa menuntaskan laga melawan Fulham dengan tiga poin penuh.
Masalahnya, setiap kali menghadapi tim besar, kelemahan yang sama kembali terbuka. Sistem yang sudah membaik tidak cukup untuk menutupi fakta bahwa pemain kerap diposisikan secara keliru. Akibatnya, kesalahan berulang dan hasil buruk pun tak dapat terhindarkan.
Amorim tampaknya tetap kukuh dengan formasi pilihannya. Namun, jika pemilihan pemain tidak diperbaiki, masalah yang ada tidak akan selesai. Bruno Fernandes akan terus dianggap lemah di lini tengah, Shaw akan kewalahan sebagai bek tengah, dan United akan terus kebobolan dengan cara yang sama.
Apabila situasi ini berlanjut, Manchester United hanya akan mengulang siklus yang sama. Perbaikan struktural tidak akan berarti tanpa keberanian Amorim menempatkan para pemainnya di posisi terbaik mereka.
Jangan sampai ketinggalan infonya
Jadwal Lengkap, Hasil, Klasemen, dan Top Skor Premier League 2025/2026
MU Dipermalukan City: Amorim Masih Keras Kepala dengan Taktik 3-4-3, Sampai Kapan?
Matthijs de Ligt Masih Bek Fantastis, Masalahnya Cuma Soal Mental!
Tidak Percaya! Arne Slot Ungkap Penyebab Milos Kerkez Cepat Dicabut Kala Liverpool Lawan Burnley
Drama Transfer Jenson Seelt: Calon Diaspora Indonesia, Gabung Wolfsburg dari Sunderland
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Bintang Timnas Pantai Gading Ini Masuk Daftar Pantau Manchester United
Liga Inggris 18 Juni 2026, 21:01
-
Diincar MU, Berlian Muda Barcelona Ini Siap Cabut ke Old Trafford?
Liga Inggris 18 Juni 2026, 19:30
-
Gagal Latih MU, Ole Gunnar Solskjaer Bakal Latih Klub EPL Ini?
Liga Inggris 18 Juni 2026, 19:00
LATEST UPDATE
-
Swedia akui Kedigdayaan Belanda, Tapi Harusnya Bisa Main Lebih Baik Lagi!
Piala Dunia 21 Juni 2026, 10:45
-
Man of the Match Ekuador vs Curacao: Eloy Room
Piala Dunia 21 Juni 2026, 09:04
-
Soal Rumor Cristian Romero Merapat ke MU, Begini Kata Fabrizio Romano
Liga Inggris 21 Juni 2026, 08:30
-
Link Streaming Piala Dunia 2026: Tunisia vs Jepang
Piala Dunia 21 Juni 2026, 08:02
-
MU Kelamaan, Klub EPL Ini Mau Tikung Transfer Mateus Fernandes
Liga Inggris 21 Juni 2026, 07:34
-
Link Live Streaming Tunisia vs Jepang dan Jam Berapa Mainnya?
Piala Dunia 21 Juni 2026, 06:08
-
Daftar Tim Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Piala Dunia 21 Juni 2026, 05:52
LATEST EDITORIAL
-
6 Kemenangan Terbesar dalam Sejarah Piala Dunia
Editorial 15 Juni 2026, 16:55
-
10 Target Transfer Arsenal yang Patut Dipantau di Piala Dunia 2026
Editorial 12 Juni 2026, 14:41
-
10 Negara dengan Koleksi Trofi Mayor Terbanyak, Argentina Ungguli Brasil
Editorial 11 Juni 2026, 14:28










