Gaya Bermain De Zerbi di Tottenham: Bisakah Spurs Selamat dari Degradasi?
Aga Deta | 2 April 2026 11:33
Bola.net - Tottenham kini berada dalam situasi genting setelah performa buruk sepanjang musim membuat mereka terancam degradasi. Klub asal London Utara itu menunjuk Roberto De Zerbi sebagai pelatih anyar untuk membalikkan keadaan dalam waktu singkat.
Penunjukan ini menjadi perjudian besar mengingat sisa musim hanya menyisakan tujuh pertandingan. Spurs harus segera menemukan solusi agar tidak terlempar ke Championship untuk pertama kalinya sejak 1977.
Sepanjang musim, Tottenham dianggap terlalu kuat untuk terdegradasi, tetapi kenyataan di lapangan berkata sebaliknya. Jarak poin yang sempat aman kini menipis drastis hingga hanya tersisa satu poin dari zona merah.
Kini, semua harapan bertumpu pada kemampuan De Zerbi dalam mentransformasikan tim. Pertanyaan besarnya adalah apakah gaya bermainnya bisa diterapkan dengan cepat di tengah tekanan besar.
Gaya Bermain De Zerbi dan Tantangan Adaptasi

Roberto De Zerbi dikenal dengan filosofi permainan berbasis penguasaan bola yang tinggi. Ia menekankan build-up dari belakang dengan operan pendek dan kesabaran dalam mengalirkan bola.
Pendekatan ini sangat berbeda dengan gaya Tottenham musim ini yang lebih langsung dan mengandalkan bola panjang. Perubahan drastis ini menjadi tantangan utama bagi para pemain Spurs.
Dalam situasi normal, adaptasi taktik seperti ini membutuhkan waktu yang cukup panjang. Namun Tottenham tidak memiliki kemewahan waktu karena hasil harus datang secepat mungkin.
Para pemain dipaksa belajar sambil bertanding, sesuatu yang berisiko tinggi dalam situasi tekanan degradasi. Jika gagal beradaptasi cepat, konsekuensinya bisa sangat fatal bagi klub.
Perbandingan dengan Brighton dan Risiko Taktik

Saat menangani Brighton, De Zerbi sukses mengubah tim menjadi salah satu yang paling atraktif di Premier League. Mereka bermain dengan keberanian tinggi, bahkan dari area pertahanan sendiri.
Namun gaya tersebut juga membawa risiko besar karena sering memicu kesalahan di area berbahaya. Brighton kerap kehilangan bola di dekat gawang sendiri akibat pendekatan berisiko tersebut.
Meski begitu, pendekatan De Zerbi terbukti efektif dalam menciptakan peluang dan mencetak gol. Timnya bahkan mencatat rangkaian panjang selalu mencetak gol dalam banyak pertandingan.
Di sisi lain, kelemahan dalam bertahan juga terlihat jelas karena mereka sering kebobolan. Pola ini bisa menjadi pedang bermata dua bagi Tottenham dalam situasi kritis.
Kondisi Tottenham dan Kebutuhan Hasil Instan

Tottenham saat ini jauh dari identitas permainan De Zerbi. Mereka lebih sering bermain defensif dengan penguasaan bola rendah dan mengandalkan bola mati.
Statistik menunjukkan Spurs kesulitan menciptakan peluang dari permainan terbuka. Hal ini membuat perubahan gaya menjadi kebutuhan sekaligus risiko besar.
Selain itu, tim juga kurang efektif dalam membangun serangan dari lini belakang. Minimnya progresi bola menjadi salah satu masalah utama sepanjang musim.
Dengan kondisi ini, De Zerbi harus menemukan keseimbangan antara idealisme dan kebutuhan hasil instan. Fokus utama bukan lagi estetika permainan, melainkan kemenangan.
Peluang Bertahan dan Faktor Penentu

Meski situasi terlihat sulit, Tottenham masih memiliki peluang untuk bertahan di Premier League. Kualitas individu dalam skuad masih cukup untuk bersaing di level tertinggi.
Kembalinya beberapa pemain dari cedera juga bisa menjadi dorongan tambahan. Hal ini memberi De Zerbi opsi lebih luas dalam meracik strategi.
Namun tekanan psikologis akan menjadi faktor penting dalam tujuh laga tersisa. Tim harus mampu menjaga mental di tengah situasi yang tidak menentu.
Jika De Zerbi mampu menggabungkan taktiknya dengan pendekatan pragmatis, peluang bertahan tetap terbuka. Sebaliknya, kegagalan beradaptasi bisa membuat musim ini berakhir dengan bencana.
Sumber: The Analyst
Klasemen Premier League
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Cabor Mendayung Sumbangkan Medali Perak Ketiga Indonesia di Asian Games 2026
Olahraga Lain-Lain 24 September 2026, 15:38
-
Cristiano Ronaldo dan Ambisi Mengejar 1000 Gol
Piala Eropa 24 September 2026, 15:20
-
Kabar Baik MU! Amad Diallo Segera Comeback!
Liga Inggris 24 September 2026, 15:00
-
Xavi Hanya Butuh 10 Detik untuk Yakinkan Virgil van Dijk Tidak Pensiun dari Timnas Belanda
Piala Eropa 24 September 2026, 14:40
LATEST UPDATE
-
UEFA Nations League: Imbang di Debut Xavi dan Klopp, Juara Bertahan Portugal Menang
Piala Eropa 25 September 2026, 06:17
-
Jalan Juventus Mendapatkan Alisson Becker Makin Lapang
Liga Italia 25 September 2026, 00:17
-
Target Timnas Voli Putra Indonesia di Asian Games 2026: Medali Perunggu
Voli 24 September 2026, 22:33
-
Link Siaran FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia vs Singapura
Tim Nasional 24 September 2026, 20:48
-
Barcelona Bakal Jual Jules Kounde ke Manchester United?
Liga Spanyol 24 September 2026, 20:29
-
Jadwal Siaran Langsung FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia vs Singapura
Tim Nasional 24 September 2026, 20:12
-
Badminton Beregu Putra Menangkan Medali Emas Pertama Indonesia di Asian Games 2026
Bulu Tangkis 24 September 2026, 20:06
-
Prediksi Timnas Indonesia vs Singapura 25 September 2026
Tim Nasional 24 September 2026, 19:39
-
Prediksi Bangladesh vs Malaysia 25 September 2026
Tim Nasional 24 September 2026, 19:21
-
Hitung-hitungan Ranking FIFA Timnas Indonesia vs Singapura: Jika Menang, Bisa Naik 2 Tingkat
Tim Nasional 24 September 2026, 19:16
-
Ranking FIFA Peserta FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia Masuk 3 Besar, Thailand Teratas
Tim Nasional 24 September 2026, 18:49
LATEST EDITORIAL
-
Bukan Cuma Ronaldo, 3 Pemain Ini Juga Pernah Membela Real Madrid dan Inter Milan
Editorial 8 September 2026, 20:58
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33





