Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu

Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Pelatih Manchester United Michael Carrick saat meninggalkan lapangan usai pertandingan Liga Champions melawan Como, Rabu (21/10/2026). (c) AP Photo/Antonio Calanni

Bola.net - Persaingan Premier League 2026/2027 mulai memanas, bukan hanya di papan klasemen, tetapi juga di kursi kepelatihan. Sejumlah manajer menghadapi tekanan setelah tim mereka gagal menunjukkan performa yang konsisten pada awal musim.

Musim lalu, 11 manajer kehilangan pekerjaan di kompetisi tertinggi Inggris tersebut. Memasuki musim baru, pemecatan pertama belum terjadi, tetapi hasil buruk dalam beberapa pertandingan sudah membuat posisi sejumlah pelatih dipertanyakan.

Michael Carrick menjadi salah satu nama yang paling banyak mendapat tekanan setelah Manchester United mengalami kemerosotan performa. Kekalahan telak dari Bournemouth semakin memperbesar spekulasi mengenai masa depannya di Old Trafford.

Selain Carrick, ada tiga pelatih lain yang juga menghadapi situasi sulit bersama klub masing-masing. Pierre Sage di Crystal Palace, Alvaro Arbeloa di Fulham, dan Frank Lampard di Coventry City masuk dalam daftar manajer yang patut mengkhawatirkan posisi mereka.

Meski begitu, ancaman pemecatan tidak selalu ditentukan oleh hasil pertandingan semata. Ekspektasi klub, hubungan dengan manajemen, kondisi skuad, serta kemampuan memperbaiki performa akan ikut menentukan nasib mereka sepanjang musim.

1. Michael Carrick — Manchester United

1. Michael Carrick — Manchester United

Pelatih Manchester United Michael Carrick melambaikan tangan kepada suporter setelah timnya kalah dalam laga Premier League antara Man Utd vs Bournemouth, Minggu, 25 Oktober 2026 (c) AP Photo/Dave Thompson

Michael Carrick sempat mendapat banyak pujian setelah berhasil mengangkat performa Manchester United ketika bertugas sebagai pelatih interim musim lalu. Pencapaian tersebut membuat manajemen memberikan kepercayaan kepadanya untuk menangani tim secara permanen pada musim 2026/2027.

Namun, awal musim ini justru berjalan jauh dari harapan. Manchester United tampil tidak konsisten dan menelan kekalahan dari Hull City, Manchester City, Brighton and Hove Albion, serta Atletico Madrid, meski sempat meraih kemenangan besar atas Ipswich Town dan Sabah FK.

Kekalahan 0-3 dari Bournemouth di kandang sendiri semakin memperburuk situasi Carrick. Hasil itu membuat spekulasi mengenai pemecatannya menguat, bahkan sejumlah kandidat pengganti mulai dipertimbangkan oleh klub.

Carrick juga menghadapi persoalan dalam komposisi skuad karena Manchester United dinilai belum memperkuat lini belakang dan lini depan secara memadai pada bursa transfer musim panas. Bek Lisandro Martinez turut menyoroti persoalan perekrutan tersebut setelah kekalahan dari Atletico Madrid, sementara reaksi suporter terhadap Carrick seusai laga Bournemouth menunjukkan dukungan yang mulai bercampur dengan kekecewaan.

2. Pierre Sage — Crystal Palace

Pierre Sage menghadapi tantangan besar setelah ditunjuk menggantikan Oliver Glasner di Crystal Palace. Pelatih asal Prancis itu harus meneruskan tim yang sebelumnya meraih gelar Piala FA, Community Shield, dan Conference League bersama Glasner.

Sage datang dengan reputasi positif setelah menangani Lens di Prancis. Ia membawa klub tersebut meraih gelar Coupe de France pertama dalam sejarah mereka dan bersaing dalam perebutan gelar Ligue 1 melawan Paris Saint-Germain.

Akan tetapi, pencapaian itu belum menjamin keberhasilannya di Inggris. Setelah delapan pertandingan Premier League, Crystal Palace baru meraih kemenangan atas Fulham dan Nottingham Forest, sementara mereka sudah kebobolan 19 gol, jumlah tertinggi kedua di liga pada periode tersebut.

Tantangan Palace juga semakin berat karena harus membagi perhatian dengan kompetisi Eropa di tengah kedalaman skuad yang terbatas. Selain masalah di lapangan, laporan mengenai ketegangan di ruang ganti dan hubungan Sage dengan jajaran petinggi klub setelah bursa transfer musim panas yang kurang memuaskan turut menambah tekanan.

3. Alvaro Arbeloa — Fulham

3. Alvaro Arbeloa — Fulham

Pelatih Fulham, Alvaro Arbeloa, berjalan menuju lapangan sebelum pertandingan Liga Inggris melawan Chelsea di London, Selasa (25/8/2026). (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Alvaro Arbeloa menjadi pilihan yang tidak biasa ketika Fulham menunjuknya menggantikan Marco Silva. Silva sebelumnya mampu menjaga stabilitas tim dan beberapa kali menciptakan kejutan, sehingga pergantian pelatih tersebut membawa risiko besar bagi klub London itu.

Keraguan terhadap Arbeloa juga muncul karena masa jabatannya sebagai pelatih Real Madrid hanya berlangsung selama lima bulan dan berakhir tanpa hasil yang memuaskan. Meski demikian, ia memiliki koneksi di sepak bola Spanyol yang dapat membantu Fulham memperkuat skuad.

Awal musim Arbeloa di Premier League berlangsung sulit setelah Fulham menelan tiga kekalahan beruntun. Kesalahan pertahanan menjadi salah satu penyebab kekalahan dari Chelsea dan Crystal Palace, sebelum hasil imbang melawan Liverpool serta Manchester United sedikit meredakan tekanan.

Posisinya kembali menjadi perhatian setelah Fulham kehilangan kendali dalam pertandingan melawan Ipswich Town. Namun, kemenangan beruntun atas Hull City dan Coventry City memberi Arbeloa kesempatan untuk memperbaiki situasi serta menjauhkan timnya dari zona degradasi.

4. Frank Lampard — Coventry City

Frank Lampard berhasil membangun kembali reputasinya bersama Coventry City setelah mengalami periode sulit ketika menangani Chelsea dan Everton. Ia menerima tantangan di Championship dan membawa Coventry menjuarai kompetisi tersebut untuk memastikan promosi ke Premier League setelah 25 tahun.

Keberhasilan itu membuat Coventry memiliki alasan kuat untuk mempertahankan Lampard meski menghadapi musim yang berat. Klub tentu ingin memberikan waktu kepada pelatihnya untuk beradaptasi dengan tuntutan kompetisi tertinggi Inggris.

Meski demikian, catatan awal musim mereka masih mengkhawatirkan. Coventry menelan enam kekalahan dalam delapan pertandingan Premier League, hanya mencetak enam gol dan kebobolan 15 kali, meski empat gol di antaranya tercipta saat menghadapi Newcastle United.

Kemenangan atas Nottingham Forest dan Newcastle memberi sedikit harapan bagi Lampard. Jadwal pertandingan berikutnya juga dinilai lebih bersahabat, sehingga ia memiliki peluang untuk mengumpulkan poin tambahan dan mengurangi tekanan terhadap posisinya.

Namun, Lampard tetap harus membuktikan bahwa dua kemenangan tersebut bukan sekadar hasil sesaat. Jika performa Coventry kembali menurun dan mereka semakin dekat dengan zona degradasi, manajemen bisa menghadapi keputusan sulit mengenai masa depan sang pelatih.

Sumber: Sports Illustrated