Manchester City Tumbang di Old Trafford: Kekalahan yang Bahkan Pep Guardiola Sulit Jelaskan
Richard Andreas | 19 Januari 2026 12:00
Bola.net - Manchester City menelan kekalahan menyakitkan saat bertandang ke Old Trafford, Sabtu malam, kalah 0-2 dari Manchester United dalam derby yang terasa timpang. Bukan hanya soal skor, tetapi cara City kalah yang memunculkan banyak tanda tanya.
“Analisisnya sederhana, Manchester United lebih baik,” kata Pep Guardiola seusai laga. Pernyataan itu terdengar lugas, bahkan keras jika dibandingkan standar evaluasi sang manajer selama ini.
Pertanyaannya kemudian bukan siapa yang lebih baik, melainkan mengapa City bisa sedemikian buruk. Sebab di balik hasil 2-0, United tampil dominan dengan cara yang selama bertahun-tahun justru identik dengan City sendiri.
City Tidak Hadir di Derby Manchester

Guardiola jarang terdengar sebrutal ini saat menilai timnya. “Dalam 10 tahun, berapa kali mereka benar-benar lebih baik? Hari ini, kami tidak hadir,” ujarnya, merujuk pada kualitas kehadiran mental dan permainan yang selalu ia tuntut.
Bagi Guardiola, hadir di pertandingan bukan sekadar fisik di lapangan, melainkan kesiapan bersaing dalam duel, penguasaan bola, dan keberanian mengontrol ritme. Di Old Trafford, semua itu absen.
City memang tidak tampil agresif atau emosional, tetapi kekalahan ini memberi sinyal bahwa tantangan gelar liga terasa jauh. Fokus realistis kini mengarah ke tiga kompetisi piala yang masih tersisa, dengan kekhawatiran apakah kejutan buruk seperti ini bisa terulang di momen krusial lain.
United tampil penuh energi sejak awal, sementara City seperti datang tanpa kesiapan yang sama. Analisis sederhananya, satu tim siap tempur, yang lain tidak.
Lini Belakang Tambal Sulam yang Rapuh

Masalah City sudah terlihat sejak susunan pemain diumumkan. Mereka memasuki laga dengan pasangan bek tengah muda, Abdukodir Khusanov yang berusia 21 tahun dan Max Alleyne 20 tahun. Situasi makin rumit ketika Matheus Nunes absen karena flu, memaksa perubahan mendadak dengan memasukkan Lewis.
Guardiola memilih memainkan Nathan Ake di bek kiri ketimbang Nico O’Reilly, kemungkinan untuk menyeimbangkan pergerakan Lewis yang cenderung masuk ke tengah. Namun rencana itu tidak berjalan mulus.
United menekan dengan intensitas tinggi, membuat City kesulitan mengalirkan bola dari belakang. Kesalahan-kesalahan kecil muncul, termasuk kontrol buruk Ake di awal laga yang langsung memberi momentum bagi tuan rumah dan membakar atmosfer stadion.
Alleyne, yang belum lama ini masih dipinjamkan ke Watford, tidak tampil buruk secara mencolok, tetapi juga tidak seyakinkan penampilan sebelumnya. Ketika Bernardo Silva dan Rodri ikut kesulitan, situasi jelas mengkhawatirkan. Rodri bahkan menghadiahkan peluang kepada United lewat umpan ceroboh yang biasanya tidak ia lakukan.
Akibatnya, alih-alih meredam stadion seperti kebiasaan City dengan dominasi bola, mereka justru membiarkan Old Trafford hidup dan menekan balik.
Perubahan Bentuk yang Tidak Berfungsi

Beberapa hari sebelum laga, Guardiola sudah mengatakan bahwa Lewis bukan tipe bek kanan naik-turun. Tak mengejutkan jika pemain 21 tahun itu lebih sering bergerak ke lini tengah.
Namun absennya Nunes dan pilihan memainkan Ake membuat City harus meninggalkan pola yang selama ini konsisten, yaitu bek sayap melebar dan agresif, dengan para kreator berkumpul di belakang Erling Haaland.
Jeremy Doku dan Antoine Semenyo kali ini bertahan lebih lebar, menerima bola ke kaki tanpa banyak dukungan. Pola ini justru mengingatkan pada City versi lama, ketika ruang sempit dan sirkulasi bola menjadi kunci utama.
Masalahnya, sirkulasi itu tidak berjalan. “Mereka punya sesuatu yang tidak kami miliki,” kata Guardiola. Ia menyinggung soal energi, duel, dan ketajaman di sepertiga akhir yang sama sekali tidak terlihat dari timnya.
Mandul di Sepertiga Akhir
Seiring waktu, City memang lebih sering mendorong United ke area bertahan, tetapi ancaman nyata nyaris tak ada. Doku aktif di sisi kiri, namun hasil akhirnya mengecewakan. Semenyo kesulitan masuk permainan. Phil Foden terlihat pasif hingga akhirnya ditarik keluar saat jeda.
Masuknya Rayan Cherki sedikit membantu City menjaga bola, tetapi justru menjadi bagian dari gambaran masalah. Umpan setengah hati ke kotak penalti berujung sapuan, lalu ia dilewati dengan mudah pada bola kedua, membuka serangan balik tiga lawan dua untuk United.
Itu adalah potret pertandingan secara keseluruhan: City sering berada di posisi salah saat transisi. Situasi bola mati pun tak membantu. Meski ada peningkatan dalam beberapa pekan terakhir, pengiriman bola City kali ini buruk, termasuk sepak pojok pertama yang dimainkan mendatar tanpa tujuan jelas.
Satu-satunya tembakan tepat sasaran datang dari sundulan Alleyne hasil sepak pojok, itu pun mudah diamankan.
Tanpa Pengubah Permainan
Meski menguasai bola dan sempat menekan, City tidak pernah mampu mengubah dinamika laga. Dua pergantian dilakukan saat jeda, termasuk memasukkan O’Reilly dan Cherki, serta memindahkan Ake ke bek tengah.
Cherki tampil berani dan tidak gentar oleh atmosfer Old Trafford, tetapi pola permainan tetap sama. Ironisnya, pemain terbaik City justru penjaga gawang Gianluigi Donnarumma, yang harus bekerja keras sejak awal menghadapi gelombang peluang United.
Ketika skor menjadi 2-0, laga praktis selesai. Pergantian Haaland, Doku, dan Bernardo Silva sepuluh menit jelang akhir terasa seperti sinyal menyerah. Pesannya jelas: keluar dari sini secepat mungkin.
Derby ini bukan sekadar kekalahan bagi Manchester City. Ini adalah malam ketika standar mereka runtuh, dan ketika Guardiola, dengan kejujuran langka, mengakui bahwa timnya benar-benar tidak hadir.
Jangan sampai ketinggalan infonya
- Kobbie Mainoo dan Harry Maguire Kembali Gacor: Bukti Manchester United Tak Salah Pilih Michael Carrick
- 4 Kesalahan Besar Ruben Amorim di Manchester United yang Sukses Diperbaiki Michael Carrick: Hasilnya Langsung Terlihat Nyata
- Paul Scholes vs Lisandro Martinez Memanas, Sindiran Berlanjut Usai Derby Manchester
- Jadwal Lengkap Premier League 2025/2026 Live di SCTV dan Vidio
- Jadwal Liga Inggris Pekan Ini Live di SCTV dan Vidio, 17-20 Januari 2026
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Anfield Mulai Hilang Kesabaran: Arne Slot Dikecam Usai Liverpool Ditahan Burnley
Liga Inggris 19 Januari 2026, 13:57
-
Carrick Effect di Old Trafford: Derby Menang, Manchester United Terlihat Hidup Lagi
Liga Inggris 19 Januari 2026, 12:58
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06
LATEST UPDATE
-
Michael Carrick Bidik Dua Gelandang untuk Perkuat Manchester United
Liga Inggris 19 Januari 2026, 15:15
-
Dua Laga Imbang Tanpa Gol, Arsenal Lagi-Lagi Lewatkan Kesempatan
Liga Inggris 19 Januari 2026, 15:01
-
Lawan Barcelona di Liga Champions Sudah Tidak Bermain Selama Lebih dari Sebulan
Liga Champions 19 Januari 2026, 15:00
-
Debut Sempurna Donyell Malen di AS Roma: Gol, 3 Poin, dan Pujian Gasperini
Liga Italia 19 Januari 2026, 14:57
-
Alexis Saelemaekers: Bikin Assist Mahal untuk Fullkrug, Keluar Lapangan Pincang
Liga Italia 19 Januari 2026, 14:39
-
Niclas Fullkrug: Gol Debut, Assist Mimpi, dan Pengakuan 100 Persen Bahagia di Milan
Liga Italia 19 Januari 2026, 14:29
-
Fullkrug Cuma Butuh 3 Menit untuk jadi Pahlawan Milan, Pujian Allegri pun Datang
Liga Italia 19 Januari 2026, 14:18
-
AC Milan Masih Malu-malu Bicara Scudetto
Liga Italia 19 Januari 2026, 14:14
-
Anfield Mulai Hilang Kesabaran: Arne Slot Dikecam Usai Liverpool Ditahan Burnley
Liga Inggris 19 Januari 2026, 13:57
-
Carrick Effect di Old Trafford: Derby Menang, Manchester United Terlihat Hidup Lagi
Liga Inggris 19 Januari 2026, 12:58
LATEST EDITORIAL
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06
-
5 Kekalahan Terburuk Real Madrid di Copa del Rey Abad Ini
Editorial 16 Januari 2026, 10:19
-
5 Kandidat Pelatih Real Madrid Musim Depan: Zidane, Klopp, Siapa Lagi?
Editorial 15 Januari 2026, 07:26





