Manchester City Tumbang di Old Trafford: Kekalahan yang Bahkan Pep Guardiola Sulit Jelaskan

Richard Andreas | 19 Januari 2026 12:00
Manchester City Tumbang di Old Trafford: Kekalahan yang Bahkan Pep Guardiola Sulit Jelaskan
Duel Lisandro Martinez dengan Erling Haaland di laga Manchester United vs Manchester City, Sabtu (17/01/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Bola.net - Manchester City menelan kekalahan menyakitkan saat bertandang ke Old Trafford, Sabtu malam, kalah 0-2 dari Manchester United dalam derby yang terasa timpang. Bukan hanya soal skor, tetapi cara City kalah yang memunculkan banyak tanda tanya.

“Analisisnya sederhana, Manchester United lebih baik,” kata Pep Guardiola seusai laga. Pernyataan itu terdengar lugas, bahkan keras jika dibandingkan standar evaluasi sang manajer selama ini.

Advertisement

Pertanyaannya kemudian bukan siapa yang lebih baik, melainkan mengapa City bisa sedemikian buruk. Sebab di balik hasil 2-0, United tampil dominan dengan cara yang selama bertahun-tahun justru identik dengan City sendiri.

1 dari 5 halaman

City Tidak Hadir di Derby Manchester

City Tidak Hadir di Derby Manchester

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola. (c) AP Photo/Dave Thompson

Guardiola jarang terdengar sebrutal ini saat menilai timnya. “Dalam 10 tahun, berapa kali mereka benar-benar lebih baik? Hari ini, kami tidak hadir,” ujarnya, merujuk pada kualitas kehadiran mental dan permainan yang selalu ia tuntut.

Bagi Guardiola, hadir di pertandingan bukan sekadar fisik di lapangan, melainkan kesiapan bersaing dalam duel, penguasaan bola, dan keberanian mengontrol ritme. Di Old Trafford, semua itu absen.

City memang tidak tampil agresif atau emosional, tetapi kekalahan ini memberi sinyal bahwa tantangan gelar liga terasa jauh. Fokus realistis kini mengarah ke tiga kompetisi piala yang masih tersisa, dengan kekhawatiran apakah kejutan buruk seperti ini bisa terulang di momen krusial lain.

United tampil penuh energi sejak awal, sementara City seperti datang tanpa kesiapan yang sama. Analisis sederhananya, satu tim siap tempur, yang lain tidak.

2 dari 5 halaman

Lini Belakang Tambal Sulam yang Rapuh

Lini Belakang Tambal Sulam yang Rapuh

Pemain Manchester United merayakan gol Bryan Mbeumo pada duel lawan Man City di Old Trafford pada pekan ke-22 Premier League 2025/2026 (c) AP Photo/Dave Thompson

Masalah City sudah terlihat sejak susunan pemain diumumkan. Mereka memasuki laga dengan pasangan bek tengah muda, Abdukodir Khusanov yang berusia 21 tahun dan Max Alleyne 20 tahun. Situasi makin rumit ketika Matheus Nunes absen karena flu, memaksa perubahan mendadak dengan memasukkan Lewis.

Guardiola memilih memainkan Nathan Ake di bek kiri ketimbang Nico O’Reilly, kemungkinan untuk menyeimbangkan pergerakan Lewis yang cenderung masuk ke tengah. Namun rencana itu tidak berjalan mulus.

United menekan dengan intensitas tinggi, membuat City kesulitan mengalirkan bola dari belakang. Kesalahan-kesalahan kecil muncul, termasuk kontrol buruk Ake di awal laga yang langsung memberi momentum bagi tuan rumah dan membakar atmosfer stadion.

Alleyne, yang belum lama ini masih dipinjamkan ke Watford, tidak tampil buruk secara mencolok, tetapi juga tidak seyakinkan penampilan sebelumnya. Ketika Bernardo Silva dan Rodri ikut kesulitan, situasi jelas mengkhawatirkan. Rodri bahkan menghadiahkan peluang kepada United lewat umpan ceroboh yang biasanya tidak ia lakukan.

Akibatnya, alih-alih meredam stadion seperti kebiasaan City dengan dominasi bola, mereka justru membiarkan Old Trafford hidup dan menekan balik.

3 dari 5 halaman

Perubahan Bentuk yang Tidak Berfungsi

Perubahan Bentuk yang Tidak Berfungsi

Winger Manchester United, Amad Diallo berusaha melewati hadangan bek Manchester City, Nathan Ake di Old Trafford, 17 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Beberapa hari sebelum laga, Guardiola sudah mengatakan bahwa Lewis bukan tipe bek kanan naik-turun. Tak mengejutkan jika pemain 21 tahun itu lebih sering bergerak ke lini tengah.

Namun absennya Nunes dan pilihan memainkan Ake membuat City harus meninggalkan pola yang selama ini konsisten, yaitu bek sayap melebar dan agresif, dengan para kreator berkumpul di belakang Erling Haaland.

Jeremy Doku dan Antoine Semenyo kali ini bertahan lebih lebar, menerima bola ke kaki tanpa banyak dukungan. Pola ini justru mengingatkan pada City versi lama, ketika ruang sempit dan sirkulasi bola menjadi kunci utama.

Masalahnya, sirkulasi itu tidak berjalan. “Mereka punya sesuatu yang tidak kami miliki,” kata Guardiola. Ia menyinggung soal energi, duel, dan ketajaman di sepertiga akhir yang sama sekali tidak terlihat dari timnya.

4 dari 5 halaman

Mandul di Sepertiga Akhir

Seiring waktu, City memang lebih sering mendorong United ke area bertahan, tetapi ancaman nyata nyaris tak ada. Doku aktif di sisi kiri, namun hasil akhirnya mengecewakan. Semenyo kesulitan masuk permainan. Phil Foden terlihat pasif hingga akhirnya ditarik keluar saat jeda.

Masuknya Rayan Cherki sedikit membantu City menjaga bola, tetapi justru menjadi bagian dari gambaran masalah. Umpan setengah hati ke kotak penalti berujung sapuan, lalu ia dilewati dengan mudah pada bola kedua, membuka serangan balik tiga lawan dua untuk United.

Itu adalah potret pertandingan secara keseluruhan: City sering berada di posisi salah saat transisi. Situasi bola mati pun tak membantu. Meski ada peningkatan dalam beberapa pekan terakhir, pengiriman bola City kali ini buruk, termasuk sepak pojok pertama yang dimainkan mendatar tanpa tujuan jelas.

Satu-satunya tembakan tepat sasaran datang dari sundulan Alleyne hasil sepak pojok, itu pun mudah diamankan.

5 dari 5 halaman

Tanpa Pengubah Permainan

Meski menguasai bola dan sempat menekan, City tidak pernah mampu mengubah dinamika laga. Dua pergantian dilakukan saat jeda, termasuk memasukkan O’Reilly dan Cherki, serta memindahkan Ake ke bek tengah.

Cherki tampil berani dan tidak gentar oleh atmosfer Old Trafford, tetapi pola permainan tetap sama. Ironisnya, pemain terbaik City justru penjaga gawang Gianluigi Donnarumma, yang harus bekerja keras sejak awal menghadapi gelombang peluang United.

Ketika skor menjadi 2-0, laga praktis selesai. Pergantian Haaland, Doku, dan Bernardo Silva sepuluh menit jelang akhir terasa seperti sinyal menyerah. Pesannya jelas: keluar dari sini secepat mungkin.

Derby ini bukan sekadar kekalahan bagi Manchester City. Ini adalah malam ketika standar mereka runtuh, dan ketika Guardiola, dengan kejujuran langka, mengakui bahwa timnya benar-benar tidak hadir.

LATEST UPDATE