Melihat Mikel Arteta Sebagai Diego Simeone Versi Upgrade: Bakal Juara dengan Andalkan 'Dark Arts'?
Ari Prayoga | 6 Maret 2026 17:48
Bola.net - Arsenal semakin dekat dengan impian meraih gelar Premier League 2025/2026. Di tengah persaingan sengit, Mikel Arteta justru menunjukkan pendekatan yang mengingatkan banyak orang pada gaya pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone.
Sebelum keduanya saling berhadapan di Liga Champions musim ini, Arteta bahkan mengakui bahwa dirinya sangat mengagumi Simeone.
Namun kini, kekaguman itu tampak berkembang lebih jauh karena gaya kepelatihannya perlahan memiliki kemiripan dengan pelatih asal Argentina tersebut.
Terinspirasi Pelatih Kelas Dunia

Simeone dikenal sebagai salah satu pelatih paling dihormati di Eropa. Selama lebih dari satu dekade menukangi Atletico Madrid, ia berhasil mengubah klub tersebut menjadi kekuatan besar yang mampu menyaingi raksasa seperti Barcelona dan Real Madrid.
Di bawah kepemimpinannya selama 14 tahun, Atletico meraih dua gelar La Liga, dua trofi Liga Europa, serta dua Piala Super Eropa. Mereka juga dua kali mencapai final Liga Champions.
Namun di balik kesuksesan itu, Simeone juga terkenal dengan pendekatan pragmatis: permainan keras, taktik mengulur waktu, serta pelanggaran taktis demi menjaga kemenangan.
Gaya tersebut kerap disebut sebagai “dark arts” dalam sepak bola. Meski demikian, strategi itu terbukti efektif dalam menghadapi tim-tim dengan kekuatan finansial dan kualitas pemain yang lebih besar.
Arsenal Menemukan Cara Sendiri

Situasi yang dihadapi Arteta di Arsenal memiliki kemiripan. Dalam enam tahun terakhir, ia berhasil mengubah The Gunners dari tim yang biasa-biasa saja menjadi penantang serius gelar.
Kini Arsenal mampu bersaing dengan klub-klub besar seperti Manchester City dan Liverpool. Meski klub London itu telah mengeluarkan dana besar untuk belanja pemain, mengejar dominasi City asuhan Pep Guardiola tetap bukan perkara mudah.
Karena itu, Arsenal mulai mengembangkan cara mereka sendiri untuk memenangkan pertandingan, termasuk ketika permainan tidak berjalan indah.
Kemenangan susah payah atas Brighton pada tengah pekan lalu menjadi contoh jelas. Setelah laga tersebut, sebagian kritik muncul dengan menilai Arsenal terlalu banyak mengandalkan bola mati dan mengulur waktu.
Namun label “anti-football” jelas tidak sepenuhnya adil.
Sepanjang musim ini Arsenal juga menunjukkan permainan menyerang yang luar biasa. Salah satu buktinya adalah kemenangan telak 4-0 atas Atletico Madrid di Emirates pada Oktober lalu. Selain itu, mereka juga tampil impresif saat menghadapi Bayern Munich, dua kali menang 4-1 atas Tottenham, serta menghancurkan Aston Villa setelah Natal.
Tanda-Tanda Kelelahan

Meski demikian, dalam beberapa pekan terakhir performa Arsenal terlihat sedikit menurun. Jadwal padat membuat para pemain tampak kelelahan karena harus bersaing di empat kompetisi sekaligus: Premier League, Liga Champions, Piala FA, dan Carabao Cup.
Situasi tersebut membuat Arsenal lebih sering bermain pragmatis. Alih-alih tampil mengalir, mereka lebih fokus bertarung, bertahan, dan memastikan tiga poin tetap diraih.
Data statistik dari Opta setelah kemenangan atas Brighton menggambarkan hal itu. Total waktu restart Arsenal mencapai 30 menit 51 detik, tertinggi bagi mereka di Premier League musim ini.
Sementara bola hanya aktif dimainkan selama 53 menit 58 detik dari total pertandingan yang berlangsung lebih dari 100 menit.
Meski demikian, Arsenal bukan tim yang paling sering melakukan hal tersebut. Beberapa klub seperti Sunderland, Brentford, Crystal Palace, Newcastle, dan Leeds justru memiliki rata-rata waktu restart yang lebih lama.
Gelar Semakin Dekat

Terlepas dari gaya permainan yang diperdebatkan, hasilnya tetap berbicara. Arsenal kini unggul tujuh poin di puncak klasemen.
Dalam tiga pekan pertandingan berikutnya, mereka akan bermain lebih dulu dibanding Manchester City. Jika mampu mengalahkan Everton di Emirates Stadium, meski bukan laga mudah, Arsenal berpotensi unggul hingga 10 poin, meski dengan jumlah pertandingan lebih banyak.
Situasi itu bisa memberikan tekanan besar kepada City yang harus bertandang ke markas West Ham, tim yang tengah berjuang keluar dari zona berbahaya.
Dengan kondisi tersebut, peluang Arsenal untuk mengangkat trofi semakin terbuka.
Menunggu Akhir Penantian

Terakhir kali Arsenal menjadi juara Premier League adalah pada musim legendaris 2003/2004 saat mereka meraih gelar tanpa terkalahkan, dikenal sebagai era “Invincibles”.
Saat itu Arsenal memikat dunia dengan permainan indah. Namun dalam sepak bola, kemenangan tidak selalu datang dengan cara yang sama.
Kini, setelah tiga musim berturut-turut hanya menjadi runner-up, Arsenal tampaknya tidak ingin kembali gagal.
Arteta pernah dicap sebagai pelatih yang mudah “gugup” dalam perebutan gelar. Kritik pun terus berdatangan setiap kali timnya tersandung.
Namun jika pendekatan pragmatis ini berhasil membawa Arsenal meraih trofi liga setelah penantian 22 tahun, maka semua cara yang ditempuh tentu akan terasa layak.
Pada akhirnya, Arteta mungkin baru benar-benar “menang” ketika ia berhasil membawa pulang gelar tersebut ke Emirates Stadium.
Sumber: Mirror
Klasemen Premier League 2025/2026
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Kata-kata Michael Carrick Usai Manchester United Dihajar Chelsea
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 22:39
-
Lisandro Martinez yang Konyol!
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 22:02
-
Halloween untuk MU: Kalah dari Chelsea, Setan Merah Ukir Rekor Terburuk Sejak 1988!
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 21:47
LATEST UPDATE
-
Live Streaming PSIM vs Borneo FC: Jadwal dan Link Nonton
Bola Indonesia 1 November 2026, 11:18
-
Live Streaming Persib Bandung vs Isenmulang FC: Jadwal dan Link Nonton
Bola Indonesia 1 November 2026, 10:14
-
Batas Waktu untuk Michael Carrick di Manchester United
Liga Inggris 1 November 2026, 09:10
-
Memprediksi Peluang Manchester United Terdegradasi
Liga Inggris 1 November 2026, 09:00
-
Rating Pemain Barcelona vs Alaves: Raphinha dan Yamal 9, Fermin Lopez Tertinggi
Liga Spanyol 1 November 2026, 08:51
-
Rating Pemain Inter Milan usai Kalah 1-3 dari AC Milan: Kebanyakan 6
Liga Italia 1 November 2026, 08:28
-
Rating Pemain AC Milan usai Hajar Inter Milan: Moreira Tertinggi, Maignan Krusial
Liga Italia 1 November 2026, 08:21
-
Man of the Match Milan vs Inter: Diego Moreira
Liga Italia 1 November 2026, 08:03
-
Man of the Match Bayern vs Dortmund: Konrad Laimer
Bundesliga 1 November 2026, 07:54
-
Bryan Cristante, Konduktor Sekaligus Finisher di Balik Pesta Gol AS Roma
Liga Italia 1 November 2026, 07:45
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18


