Rebutan Juara Premier League: Momentum Sekarang Ada di Tangan Man City

Richard Andreas | 20 April 2026 16:15
Rebutan Juara Premier League: Momentum Sekarang Ada di Tangan Man City
Pemain Manchester City, Erling Haaland, merayakan gol kedua timnya dalam pertandingan Premier League melawan Arsenal, Minggu (19/4/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Dave Thompson

Bola.net - Manchester City membuka kembali persaingan gelar Premier League usai menundukkan Arsenal dengan skor 2-1 di Etihad Stadium. Kemenangan ini membawa tim asuhan Pep Guardiola hanya terpaut tiga poin dari puncak klasemen.

Gol penentu kemenangan dicetak Erling Haaland pada babak kedua setelah laga berjalan sengit sejak menit awal. Hasil ini bukan sekadar tiga poin, tetapi juga pukulan psikologis besar bagi Arsenal yang sebelumnya memimpin klasemen.

Advertisement

Dengan satu laga tunda di tangan, City kini berada dalam posisi ideal untuk merebut puncak. Situasi ini membuat tekanan beralih sepenuhnya ke kubu Mikel Arteta.

1 dari 5 halaman

Laga Sengit Sejak Awal, City Unggul Lewat Momen Kunci

Laga Sengit Sejak Awal, City Unggul Lewat Momen Kunci

Pemain Manchester City, Erling Haaland, berebut bola dengan pemain Arsenal, Martin Odegaard, dalam pertandingan Premier League, Minggu (19/4/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Dave Thompson

Pertandingan langsung berjalan dengan tempo tinggi sejak menit pertama. Manchester City membuka keunggulan melalui aksi individu Rayan Cherki yang mencetak gol spektakuler.

Meski begitu, keunggulan itu tidak bertahan lama. Hanya 107 detik kemudian, Kai Havertz berhasil menyamakan skor setelah memanfaatkan kesalahan kiper Gianluigi Donnarumma.

Babak pertama berlangsung terbuka dengan kedua tim saling menekan. Arsenal tampil agresif lewat pressing tinggi, sementara City mengandalkan kreativitas lini depan mereka.

Memasuki babak kedua, intensitas tetap tinggi. Kedua tim sama-sama menciptakan peluang, termasuk tembakan yang membentur tiang dari Eberechi Eze dan Gabriel untuk Arsenal, serta Haaland yang juga sempat mengenai mistar.

Gol penentu akhirnya datang pada menit ke-65. Haaland menunjukkan insting tajamnya di kotak penalti untuk mengubah skor menjadi 2-1 bagi City.

2 dari 5 halaman

Momentum Berpindah, Tekanan Kini di Arsenal

Momentum Berpindah, Tekanan Kini di Arsenal

Pemain Manchester City, Rodri, berebut bola dengan pemain Arsenal, Declan Rice, dalam pertandingan Premier League, Minggu (19/4/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Dave Thompson

Kemenangan ini memberikan dorongan besar bagi Manchester City dalam perburuan gelar. Mereka kini memiliki momentum penuh di fase krusial musim.

Dengan satu laga tunda melawan Burnley, City berpeluang naik ke puncak klasemen jika meraih kemenangan. Meski selisihnya bisa sangat tipis, dampak psikologisnya diprediksi sangat besar.

Arsenal, yang telah memimpin klasemen dalam waktu lama, kini berada di ambang kehilangan posisi tersebut. Situasi ini mengingatkan pada beberapa musim sebelumnya ketika mereka finis sebagai runner-up.

Meski demikian, performa Arsenal di laga ini tetap menunjukkan daya juang tinggi. Mereka mampu menekan City dalam banyak fase pertandingan, terutama di babak pertama.

Biar begitu, rasa bahwa gelar kembali menjauh bisa menjadi beban mental yang sulit dihindari bagi skuad Arteta.

3 dari 5 halaman

Keputusan Arteta Tepat, tapi Finishing Jadi Masalah

Keputusan Arteta Tepat, tapi Finishing Jadi Masalah

Pemain Arsenal, Noni Madueke, berebut bola dengan pemain Manchester City, Nico OReilly, dalam pertandingan Premier League, Minggu (19/4/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Dave Thompson

Mikel Arteta membuat keputusan berani dengan memainkan Kai Havertz sebagai starter dibanding Viktor Gyokeres. Pilihan ini terbukti efektif dalam beberapa aspek permainan.

Havertz tampil baik dalam pressing dan berkontribusi langsung pada gol penyama kedudukan. Pengalamannya juga terlihat dalam pergerakan tanpa bola dan kecerdasan membaca permainan.

Biar begitu, masalah utama Arsenal kembali muncul, yaitu penyelesaian akhir. Havertz memiliki dua peluang emas, termasuk satu di masa injury time, tetapi gagal mengonversinya menjadi gol.

Situasi ini menegaskan kekurangan Arsenal di lini depan. Meski memiliki beberapa opsi berbeda, mereka belum memiliki striker dengan ketajaman konsisten seperti Haaland.

Sebaliknya, Haaland kembali membuktikan kualitasnya sebagai pembeda. Gol kemenangan tersebut menjadi gol ke-23-nya di liga musim ini, jauh melampaui para penyerang Arsenal.

4 dari 5 halaman

Donnarumma Bangkit, Cherki Bersinar

Donnarumma Bangkit, Cherki Bersinar

Pemain Manchester City, Erling Haaland, merayakan gol kedua timnya dalam pertandingan Premier League melawan Arsenal, Minggu (19/4/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Dave Thompson

Di balik kemenangan City, performa Gianluigi Donnarumma menjadi sorotan. Meski sempat melakukan kesalahan fatal di awal laga, ia mampu bangkit dengan impresif.

Kiper asal Italia itu melakukan penyelamatan penting saat skor masih imbang 1-1. Ia juga berperan dalam proses gol kedua melalui distribusi cepat yang memicu serangan balik.

Di sisi lain, Rayan Cherki menjadi bintang di babak pertama. Gol pembukanya menunjukkan kualitas teknik tinggi, ditambah aksi individu yang merepotkan lini belakang Arsenal.

Cherki bahkan mendapat standing ovation saat ditarik keluar, menegaskan pengaruh besarnya dalam pertandingan ini.

Kontras antara Cherki dan Donnarumma mencerminkan dinamika permainan City: kreativitas di depan dan ketangguhan di belakang.

5 dari 5 halaman

April Kembali Jadi Momen Sulit Arsenal

Kekalahan ini memperpanjang tren negatif Arsenal di bulan April. Dalam enam pertandingan terakhir di semua kompetisi, mereka telah menelan empat kekalahan.

Secara statistik, April memang menjadi bulan terburuk Arsenal di era Mikel Arteta. Sejak 2019, mereka hanya mencatatkan persentase kemenangan 41 persen pada periode ini.

Sebaliknya, Manchester City justru menunjukkan performa terbaik mereka di bulan yang sama. Di bawah Pep Guardiola, mereka memiliki rasio kemenangan mencapai 80 persen pada April.

Perbedaan signifikan ini menjadi salah satu faktor utama dominasi City dalam beberapa musim terakhir.

Dengan hanya beberapa laga tersisa, Arsenal kini menghadapi ujian berat, bukan hanya secara taktik, tetapi juga mental, dalam upaya mempertahankan harapan juara.

LATEST UPDATE