AC Milan: Struktur 3-4-2-1 Jadi Fondasi, Pressing Tinggi Jadi Senjata

Gia Yuda Pradana | 26 Agustus 2026 12:19
AC Milan: Struktur 3-4-2-1 Jadi Fondasi, Pressing Tinggi Jadi Senjata
Pemain AC Milan Adrien Rabiot mencetak gol dalam laga Serie A antara Torino vs AC Milan di Turin, Italia, Minggu, 23 Agustus 2026 (c) Marco Alpozzi/LaPresse via AP

Bola.net - AC Milan mengawali Serie A 2026-27 dengan kemenangan 2-1 atas Torino di Stadion Olimpico Grande Torino. Hasil tersebut sekaligus memperlihatkan gambaran awal pendekatan Ruben Amorim yang mengandalkan pressing agresif dan struktur permainan posisi.

Rossoneri tampil dominan sejak babak pertama, tapi baru mampu memecah kebuntuan setelah pertandingan berjalan lebih dari satu jam. Alphadjo Cisse dan Adrien Rabiot kemudian membawa Milan unggul sebelum Che Adams memperkecil ketertinggalan pada fase akhir laga.

Advertisement

Amorim menjadi pelatih Milan pertama dalam 10 tahun yang memenangkan pertandingan Serie A pertamanya bersama klub. Ia juga menjadi pelatih asing pertama sejak Leonardo pada 2009 yang mengawali debut liga dengan kemenangan.

Di balik skor tersebut terdapat beberapa pola yang menarik, terutama cara Milan membangun serangan, menekan lawan, serta memanfaatkan ruang melalui pergerakan pemain. Struktur 3-4-2-1 yang menjadi ciri Amorim pun langsung terlihat dalam pertandingan kompetitif pertamanya.

1 dari 5 halaman

Struktur 3-4-2-1 Jadi Fondasi

Struktur 3-4-2-1 Jadi Fondasi

Pelatih AC Milan Ruben Amorim tersenyum sebelum laga Serie A antara Torino vs Milan di Stadio Olimpico Grande Torino di Turin, Italia, Minggu, 23 Agustus 2026 (c) Marco Alpozzi/LaPresse via AP

Milan menggunakan Mario Gila, Koni De Winter, dan Strahinja Pavlovic sebagai tiga bek, sementara Ardon Jashari serta Yunus Musah mengisi poros tengah. Pervis Estupinan dan Samuel Chukwueze bergerak sebagai wing-back dengan Cisse serta Ruben Loftus-Cheek berada di belakang Goncalo Ramos.

Dalam fase membangun serangan, Milan beberapa kali sengaja menarik tekanan Torino agar terbentuk ruang di antara lini tengah dan pertahanan lawan. Gila kemudian memanfaatkan kemampuan umpannya untuk mengirim bola menuju area tersebut dan membantu tim keluar dari tekanan.

2 dari 5 halaman

Pressing Tinggi Jadi Senjata

Pressing Tinggi Jadi Senjata

Pemain AC Milan Alphadjo Cisse merayakan gol dalam laga Serie A antara Torino vs Milan di Turin, Italia, Minggu, 23 Agustus 2026 (c) Marco Alpozzi/LaPresse via AP

Milan menerapkan pressing tinggi dengan pendekatan man-oriented sehingga setiap pemain memiliki lawan yang harus dikawal. Ramos juga memainkan peran penting karena posisinya mampu menutup dua jalur umpan sekaligus dan membuat Torino kesulitan membangun serangan.

Torino sendiri bertahan menggunakan formasi 5-4-1 dengan blok menengah dan menjadikan umpan ke area sayap sebagai pemicu tekanan. Milan merespons dengan melakukan overload di satu sisi sebelum memindahkan bola dengan cepat ke sisi berlawanan untuk mengeksploitasi ruang yang terbuka.

3 dari 5 halaman

Gol Lahir dari Pergerakan Posisi

Gol Lahir dari Pergerakan Posisi

Pemain AC Milan Adrien Rabiot merayakan gol dalam laga Serie A antara Torino vs Milan di Turin, Italia, Minggu, 23 Agustus 2026 (c) Marco Alpozzi/LaPresse via AP

Gol pertama memperlihatkan bagaimana pergerakan tanpa bola dapat membuka celah di pertahanan Torino. Musah melakukan gerakan tipuan sebelum Rabiot melihat ruang di antara bek tengah dan wing-back lawan, lalu mengirim umpan silang yang diselesaikan Cisse dengan cerdas.

Gol kedua bahkan lebih jelas menggambarkan kombinasi pressing dan permainan posisi Milan. Tekanan memaksa Torino melakukan umpan ke depan, Pavlovic maju untuk menciptakan situasi dua lawan satu, lalu Chukwueze memanfaatkan pergantian arah serangan sebelum mengirim bola kepada Rabiot.

4 dari 5 halaman

Mario Gila Penting, tetapi Ada Catatan

Mario Gila Penting, tetapi Ada Catatan

Pemain AC Milan, Mario Gila (c) Instagram/acmilan

Satu masalah muncul setelah Gila ditarik keluar karena kram pada menit ke-75. Torino kemudian lebih agresif menyerang sisi kanan Milan melalui Alieu Njie dan Cacciamani, memanfaatkan kecepatan untuk menciptakan situasi overload.

Kondisi tersebut memperlihatkan betapa pentingnya Gila dalam sistem Amorim, bukan hanya ketika bertahan tetapi juga saat mengalirkan bola ke depan. Jika performa Milan terus bergantung pada intensitas pressing dan garis pertahanan tinggi, kedalaman skuad akan menjadi faktor penting sepanjang musim.

Secara keseluruhan, kemenangan di Torino memberikan sinyal positif mengenai penerapan ide Amorim. Pressing terorganisasi, manipulasi posisi, serta keberanian memainkan garis tinggi membuat Milan mampu mengontrol sebagian besar pertandingan, tapi masih ada pekerjaan untuk menjaga stabilitas ketika intensitas menurun.

Sumber: Sempre Milan

5 dari 5 halaman

Klasemen

LATEST UPDATE