Serie A Dinilai Butuh Revolusi Nyata, Bukan Drama
Editor Bolanet | 12 April 2013 17:09
- Pelatih Antonio Conte meminta dilakukannya perubahan drastis pada cara mengelola sepak bola Italia dan kini hal itu mendapatkan dukungan.
Presiden Aurelio De Laurentiis memiliki pemikiran serupa dengan Conte, ia menyerukan revolusi untuk masa depan Serie A.
Kita memerlukan revolusi di sepak bola Italia, kata produser film yang sekarang menjabat sebagai presiden klub itu melalui Twitter. Kita perlu membalik meja dan mengadopsi peraturan-peraturan yang sesuai untuk 2013, bukan 1900.
De Laurentiis kemungkinan mengacu kepada kesulitan-kesulitan yang dihadapi klub-klub Italia untuk membangun stadion-stadion mereka sendiri, termasuk birokrasi dan minimnya insentif-insentif keuangan.
Juventus merupakan satu-satunya klub Italia yang memiliki stadionnya sendiri, sedangkan klub-klub lain bermain di stadion-stadion yang dimiliki pemerintah kota.
Ini merupakan lingkaran setan ketika klub-klub tidak dapat membangun atau membeli stadion-stadion pada situasi terkini, dan mereka juga tidak dapat mengembangkan keuangan mereka tanpa memiliki stadion sendiri.
Conte pada Kamis (12/4) mengatakan bahwa klub sepak bola Italia tidak lagi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu kekuatan elit Eropa setelah Juventus ditundukkan Bayern Munich dengan kekalahan agregat 0-4 di perempat final Liga Champions.
Ia mengatakan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum tim Italia dapat kembali memenangi Liga Champions, di saat mereka kesulitan menyamakan situasi keuangan dari apa yang disebutnya sebagai kekuatan-kekuatan super dari negara-negara lain.
Ia menambahkan bahwa sepak bola Italia lebih tertarik pada kontroversi-kontroversi sia-sia daripada mendiskusikan isu-isu nyata.[initial]
(afp/lex)
Presiden Aurelio De Laurentiis memiliki pemikiran serupa dengan Conte, ia menyerukan revolusi untuk masa depan Serie A.
Kita memerlukan revolusi di sepak bola Italia, kata produser film yang sekarang menjabat sebagai presiden klub itu melalui Twitter. Kita perlu membalik meja dan mengadopsi peraturan-peraturan yang sesuai untuk 2013, bukan 1900.
De Laurentiis kemungkinan mengacu kepada kesulitan-kesulitan yang dihadapi klub-klub Italia untuk membangun stadion-stadion mereka sendiri, termasuk birokrasi dan minimnya insentif-insentif keuangan.
Juventus merupakan satu-satunya klub Italia yang memiliki stadionnya sendiri, sedangkan klub-klub lain bermain di stadion-stadion yang dimiliki pemerintah kota.
Ini merupakan lingkaran setan ketika klub-klub tidak dapat membangun atau membeli stadion-stadion pada situasi terkini, dan mereka juga tidak dapat mengembangkan keuangan mereka tanpa memiliki stadion sendiri.
Conte pada Kamis (12/4) mengatakan bahwa klub sepak bola Italia tidak lagi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu kekuatan elit Eropa setelah Juventus ditundukkan Bayern Munich dengan kekalahan agregat 0-4 di perempat final Liga Champions.
Ia mengatakan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum tim Italia dapat kembali memenangi Liga Champions, di saat mereka kesulitan menyamakan situasi keuangan dari apa yang disebutnya sebagai kekuatan-kekuatan super dari negara-negara lain.
Ia menambahkan bahwa sepak bola Italia lebih tertarik pada kontroversi-kontroversi sia-sia daripada mendiskusikan isu-isu nyata.[initial]
(afp/lex)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Cristiano Ronaldo: Fakta-fakta Menarik sang Ikon Sepak Bola Dunia
Asia 8 Juni 2026, 08:52
LATEST UPDATE
-
Elkan Baggott, Pejuang di Lini Belakang Timnas Indonesia
Tim Nasional 10 Juni 2026, 09:06
-
Timnas Indonesia Naik 4 Peringkat FIFA Usai Taklukkan Oman dan Mozambik
Tim Nasional 10 Juni 2026, 08:55
-
Indonesia Atasi Perlawanan Mozambique, Namun Ole Romeny Kurang Puas
Tim Nasional 10 Juni 2026, 04:57
-
Indonesia vs Mozambique: John Herdman Akui Garuda Sempat Tertekan
Tim Nasional 10 Juni 2026, 01:10
LATEST EDITORIAL
-
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya
Editorial 4 Juni 2026, 13:59
-
4 Striker Incaran Barcelona untuk Era Baru Hansi Flick
Editorial 3 Juni 2026, 16:19
















