Terjungkalnya 2 Raksasa: Musim Pahit Lazio dan AC Milan
Gia Yuda Pradana | 26 Mei 2025 13:55
Bola.net - Pekan terakhir Serie A 2024/2025 menjadi titik nadir bagi Lazio. Bermain di kandang sendiri, mereka dipermalukan Lecce dengan skor tipis 0-1. Ironisnya, Lecce harus bermain dengan sepuluh orang sepanjang babak kedua.
Gol tunggal Lassana Coulibaly di menit ke-43 menjadi pembeda. Hasil ini menyelamatkan Lecce dari jeratan degradasi, tetapi menenggelamkan harapan Lazio untuk tampil di kompetisi Eropa. Dengan 65 poin, Lazio sebenarnya menyamai raihan Fiorentina, tapi kalah head-to-head setelah dua kali dikalahkan 2-1 oleh La Viola.
Nasib serupa dialami AC Milan. Rossoneri kalah di final Coppa Italia dan menutup musim dengan finis di posisi delapan. Dua raksasa Italia itu akhirnya harus rela absen dari panggung Eropa—sebuah ironi yang mencolok bagi dua nama besar Serie A.
Lazio dan Retaknya Hubungan dengan Tifosi
Kekalahan dari Lecce bukan sekadar kegagalan di lapangan, tetapi juga mengguncang hubungan emosional antara pemain Lazio dan suporternya. Seusai peluit akhir di Olimpico, para pemain dihujani cemooh dan diminta menjauh dari Curva Nord alih-alih memberi penghormatan. Atmosfer yang sunyi berubah jadi tegang dan penuh amarah.
Mattia Zaccagni dan Pedro memilih bertahan. Namun, alih-alih diapresiasi, keduanya justru mendapat kritik tajam dari kelompok ultras. Momen ini menjadi simbol retaknya kepercayaan antara tim dan pendukung, penutup musim yang getir bagi Biancocelesti.
Pelatih Marco Baroni pun tak mampu menyembunyikan rasa bersalahnya. “Saya sangat merasa bersalah kepada para penggemar dan tim karena mereka tidak pantas mengakhiri musim seperti ini,” ungkapnya kepada DAZN dan Sky Sport Italia. Penyesalan dan emosi mengiringi setiap ucapannya.
Harapan Lazio yang Sirna di Titik Terakhir
Sebelum laga terakhir, Lazio masih berada di posisi keenam dan memiliki peluang untuk menyalip Roma bahkan Juventus. Akan tetapi, kekalahan dari Lecce yang tampil dengan 10 pemain menutup musim dengan cara paling menyakitkan. Harapan itu sirna hanya dalam 90 menit.
“Sayangnya, saya sudah mengingatkan mereka soal ini karena kesan terakhir adalah yang selalu diingat,” ucap Baroni. “Saya melihat beberapa pemain yang pikirannya sudah libur duluan.” Pernyataan ini mengisyaratkan kegagalan mengendalikan ruang ganti saat situasi genting.
Baroni pun mengakui kehancuran timnya di momen-momen krusial. “Tim ini berkembang sepanjang musim dan mulai punya identitas, tapi kami menghancurkannya dalam beberapa laga terakhir,” katanya. Fakta bahwa Lazio tak pernah menang di kandang sejak 9 Februari menjadi bukti nyata kemerosotan.
Lazio: Dari Papan Atas ke Jurang Krisis
Di awal musim, performa Lazio sejatinya cukup menjanjikan. Mereka sempat memuncaki klasemen fase grup Liga Europa dan bersaing di papan atas Serie A. Namun, konsistensi itu runtuh drastis dalam beberapa bulan terakhir, membawa tim ke jurang krisis.
Lazio sempat mencatatkan 42 poin di paruh pertama musim, angka yang mencerminkan performa solid. Akan tetapi, Baroni tak ingin bersembunyi di balik alasan. “Apa pun yang saya katakan sekarang akan terdengar seperti mencari-cari alasan dan saya tidak ingin melakukannya,” tegasnya.
Soal masa depannya, Baroni memilih berhati-hati. “Babak pertama kami tadi sangat lambat. Kami bahkan seperti mencetak gol ke gawang sendiri karena kesalahan sendiri,” ujarnya. “Sekarang waktunya bertemu klub. Untuk saat ini, saya hanya merasakan sakit yang sangat mendalam karena kekalahan ini. Pekan depan, baru kita bisa duduk dan menganalisisnya bersama klub.”
Pekerjaan Rumah yang Menumpuk untuk Lazio dan Milan
Lazio dan Milan kini menghadapi musim panas dengan pekerjaan rumah yang menumpuk. Gagal di Serie A dan Coppa Italia menjadikan musim ini sebagai refleksi keras tentang kegagalan strategi dan manajemen.
Momentum ini harus digunakan sebagai titik balik. Evaluasi menyeluruh, perombakan skuad, dan perencanaan matang jadi keniscayaan jika ingin bangkit. Sebab, publik tak akan menaruh simpati lama kepada tim besar yang tak bisa membuktikan diri.
Saat dua raksasa terjungkal, penyesalan saja tak cukup. Dibutuhkan keberanian, arah yang jelas, dan tekad kuat untuk kembali berdiri tegak. Dalam dunia sepak bola modern, nama besar tak lagi menjamin apa pun tanpa hasil nyata.
Klasemen Serie A
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Galatasaray Gencar Rayu Rafael Leao, Victor Osimhen Ikut Bantu
Liga Italia 5 Agustus 2026, 10:43
-
Xabi Alonso Buka Suara soal Masa Depan Mykhailo Mudryk di Chelsea
Liga Inggris 5 Agustus 2026, 10:13
-
Neymar Akui Bisa Pensiun Usai Kontraknya di Santos Berakhir pada Desember
Bola Dunia Lainnya 5 Agustus 2026, 09:43
LATEST UPDATE
-
Rating dan Share Piala Presiden 2026 Melonjak, Final Diprediksi Pecahkan Rekor
Bola Indonesia 6 Agustus 2026, 00:35
-
Balsa Sekulic Bidik Gelar Perdana di Final Piala Presiden 2026
Bola Indonesia 5 Agustus 2026, 23:37
-
Victor Osimhen Ditawarkan ke Atletico Madrid
Liga Spanyol 5 Agustus 2026, 21:23
-
Fenomena Unik: 9 Manajer Baru Bersaing di Premier League 2026/2027, 5 Debutan!
Liga Inggris 5 Agustus 2026, 19:42
-
Lamine Yamal Beri Sinyal Dukung Barcelona Rekrut Julian Alvarez
Liga Spanyol 5 Agustus 2026, 19:26
LATEST EDITORIAL
-
6 Pemain yang Bisa Dijual Real Madrid demi Datangkan Rekrutan Baru
Editorial 5 Agustus 2026, 10:59
-
5 Pemain yang Masih Bisa Direkrut Manchester United Sebelum Bursa Transfer Ditutup
Editorial 4 Agustus 2026, 13:00
-
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United Pekan Ini
Editorial 3 Agustus 2026, 10:59
-
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang Bisa Diburu Liverpool
Editorial 29 Juli 2026, 13:16










