Cerita dari Sudut Lirboyo: Ketika Toko Kecil Menjadi Nadi Transaksi dan Jawara BRILink Nasional

Asad Arifin | 3 Mei 2026 15:55
Cerita dari Sudut Lirboyo: Ketika Toko Kecil Menjadi Nadi Transaksi dan Jawara BRILink Nasional
Suasana pelayanan Agen BRILink di Toko Assalam Lirboyo Kediri (c) Humas BRI RO Malang

Bola.net - Di antara lalu-lalang santri di kawasan Lirboyo, Kediri, sebuah toko sederhana tampak tak pernah benar-benar sepi. Toko Assalam Lirboyo bukan hanya tempat membeli kebutuhan harian, tetapi juga menjadi titik temu berbagai urusan keuangan masyarakat.

Sejak pagi hingga malam, aktivitas transaksi berlangsung nyaris tanpa jeda. Di balik etalase yang dipenuhi barang kebutuhan sehari-hari, layanan Agen BRILink menjadi magnet utama bagi warga sekitar.

Advertisement

Perubahan fungsi toko ini mencerminkan kebutuhan masyarakat yang kian dinamis. Akses layanan keuangan kini tidak lagi harus melalui kantor bank, tetapi cukup lewat agen yang berada di lingkungan terdekat.

Di sinilah peran Agen BRILink menjadi nyata. Toko kecil yang dulunya sekadar tempat belanja, kini menjelma menjadi simpul penting dalam ekosistem keuangan lokal.

1 dari 3 halaman

Dari Santri untuk Santri: Layanan yang Tumbuh dari Kebutuhan Nyata

Bagi Dandi Setiawan, pengurus Agen BRILink Toko Assalam Lirboyo, ritme transaksi yang tinggi sudah menjadi bagian dari keseharian. Dalam satu hari, ia bisa melayani sekitar 200 transaksi dengan nilai mencapai Rp150 juta.

Jika dikalkulasikan dalam skala bulanan, angka tersebut menembus kisaran Rp4,5 miliar. Sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan volume, tetapi juga kepercayaan masyarakat.

Mayoritas pengguna layanan datang dari kalangan santri. Mereka memanfaatkan agen ini untuk kebutuhan yang sangat spesifik, mulai dari tarik tunai hingga pembayaran iuran pondok.

“Sebagian besar pelanggan kami adalah santri. Biasanya untuk tarik tunai atau pembayaran kebutuhan pondok. Bahkan, kami juga melayani penarikan uang dengan nominal kecil mulai dari Rp10 ribu,” ungkap Dandi.

Fleksibilitas layanan menjadi kunci. Kemampuan melayani transaksi kecil hingga besar membuat agen ini relevan bagi berbagai lapisan pengguna.

2 dari 3 halaman

Dari Toko Biasa Menjadi Jawara Nasional

Dari Toko Biasa Menjadi Jawara Nasional

Suasana pelayanan Agen BRILink di Toko Assalam Lirboyo Kediri (c) Humas BRI RO Malang

Konsistensi pelayanan yang dijaga selama bertahun-tahun berbuah manis. Toko Assalam Lirboyo tidak hanya aktif secara operasional, tetapi juga mencatat prestasi di tingkat nasional.

Setiap tahun, agen ini rutin meraih penghargaan dalam program BRILink. Bahkan, pada 2022, mereka dinobatkan sebagai agen terbaik nasional dengan hadiah satu unit mobil Toyota Fortuner TRD Sportivo.

Capaian tersebut bukan sekadar simbol keberhasilan, melainkan hasil dari disiplin dalam menjaga kualitas layanan. Kepercayaan pelanggan menjadi fondasi utama yang terus dipertahankan.

“Alhamdulillah, hingga sekarang kami selalu masuk dalam 10 besar nasional. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan pelayanan,” tandas Dandi.

Di balik angka dan penghargaan, ada komitmen yang terus dijaga. Agen ini tetap berupaya memberikan layanan lengkap, mulai dari tarik tunai, top-up saldo, hingga pembayaran berbagai tagihan.

Peran Agen BRILink seperti yang terlihat di Toko Assalam Lirboyo menjadi bagian dari strategi besar inklusi keuangan. BRI mendorong akses layanan perbankan agar semakin dekat dengan masyarakat.

3 dari 3 halaman

BRI Kediri Hadirkan Solusi Keuangan yang Efisien

BRI Kediri Hadirkan Solusi Keuangan yang Efisien

Gambar ilustrasi agen BRILink (c) Gambar dibuat AI/ChatGPT

Branch Manager BRI Branch Office Kediri, Adi Nugroho, menyebut keberadaan agen sebagai solusi nyata bagi kebutuhan tersebut. Hingga kini, terdapat 1.344 Agen BRILink yang tersebar di wilayah Kediri.

“Saat ini di Kediri sendiri terdapat 1.344 Agen BRIlink yang tersebar di berbagai lokasi. Ini merupakan komitmen nyata BRI Kediri dalam menghadirkan solusi keuangan yang efisien, terjangkau dan mudah diakses bagi semua masyarakat wilayah Kediri” ungkapnya.

Menurut Adi, model kemitraan ini tidak hanya memperluas akses layanan. Lebih dari itu, ia membangun ekosistem ekonomi yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi pengguna layanan. Mereka juga menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi digital yang memberikan dampak nyata hingga ke tingkat desa.

BERITA TERKAIT

LATEST UPDATE