Para Rider MotoGP Perangi Perundungan Siber oleh Haters: Kami Ini Manusia Biasa
Anindhya Danartikanya | 30 April 2021 10:32
Bola.net - Generasi baru para pembalap MotoGP memang semakin menyadari betapa pentingnya kesehatan mental mereka. Alhasil, mereka juga memahami apa saja yang harus mereka baca di media sosial, mengingat komentar-komentar negatif dari warganet juga tak kalah banyaknya dari komentar-komentar positif.
Belakangan ini, MotoGP memang diguncangkan oleh keputusan Jack Miller dan Maverick Vinales yang mengurangi kegiatan mereka di media sosial. Miller kini sepenuhnya menyerahkan pengelolaan semua akun media sosialnya kepada timnya di Australia, usai dapat serangan netizen akibat senggolan dengan Joan Mir di Seri Doha.
Vinales sendiri kini hanya fokus pada Instagram dan TikTok. usai menghapus akun Twitter-nya. Keputusan ini diambil setelah ia diterpa kabar palsu bahwa dirinya mengancam Dorna Sports untuk mundur dari MotoGP. Gosip ini muncul usai beberapa lapnya di sesi kualifikasi Seri Portimao dihapus berdasarkan regulasi limit trek terbaru.
Di sela persiapan mereka menjelang MotoGP Jerez, Spanyol, Kamis (19/4/2021), para pembalap MotoGP pun menyatakan keresahan mereka terhadap para haters, terutama di media sosial. Mereka berbondong-bondong memberikan dukungan moral kepada Miller dan Vinales, dan mengecam 'cyber-bullying' alias perundungan siber.
Berikut komentar-komentar dari Miller dan Vinales, begitu juga Franco Morbidelli, Fabio Quartararo, Marc Marquez, dan Aleix Espargaro, yang dikutip dari Crash.net, Autosport, dan MotoGP.com.
Franco Morbidelli

"Saya tahu Maverick menghapus akun Twitter-nya. Saya turut prihatin karena ini sungguh disayangkan. Beberapa orang hanya ingin mengeluarkan rasa benci dan mereka memilih orang-orang bernama besar seperti Maverick. Mereka mengorbankannya untuk rasa frustrasi mereka sendiri, tanpa peduli cara menyampaikan pesannya. Ini sungguh buruk untuk dilihat. Juga buruk melihat hal ini jadi hal biasa.
"Saya prihatin soal ini, dan turut sedih karena Maverick harus memutus koneksi dengan penggemarnya setidaknya di Twitter, cuma gara-gara beberapa orang bodoh, orang-orang yang tak sopan. Saya harap ia bisa menstabilkan koneksi dengan penggemarnya. Saya sendiri membaca beberapa komentar, namun tak pernah mengalami jenis perundungan siber seperti ini.
"Saya memang baca komentar, dan beberapa cukup kocak. Saya hanya tertawa karena komentar-komentar ini tak terlalu pedas. Tapi ketika sudah keterlaluan, saya tak bisa lagi tertawa. Saya rasa para haters ini boleh saja berekspresi, namun harusnya dengan cara dan perilaku yang lebih baik."
Jack Miller

"Saya dapat memahami ini adalah kejahatan yang memang perlu ada di dunia yang kita tinggali. Saya sendiri cukup senang bisa mematikan ponsel dan tak melihatnya selama beberapa bulan. Saya tak cemas. Saya juga tak melewatkan apa pun. Namun, orang-orang penuh omong kosong memang bisa jadi sangat negatif. Padahal saya di sini hanya karena ingin coba bekerja sebaik mungkin.
"Kami semua hanya manusia biasa, kesalahan bisa terjadi, apa pun bisa terjadi. Sialan, tapi ini bukan berarti Anda semua bisa mencabik-cabik kami. Hal yang paling bikin saya marah adalah banyak orang tak bakal berani mengatakan hal macam ini langsung di hadapan wajah saya. Jika mereka mau, pasti bakal sangat menyenangkan. Sayangnya, yang terjadi tak seperti itu.
"Saya punya orang yang mengendalikan media sosial saya. Mereka yang mengaturnya, tapi harus tetap otentik dan mengungkapkan apa yang benar-benar saya pikirkan. Tapi saya ogah buang-buang energi dan waktu untuk melihat sampah-sampah itu. Namun, saya paham bahwa ini kejahatan yang lumrah. Ada banyak orang di dunia ini yang sedang 'nganggur', ada banyak orang yang hanya duduk-duduk sambil melihat ponsel mereka, menunggu hal berikutnya terjadi. Saya tak sedikit pun cemas.
"Saya hanya mematikan ponsel saya, dan begitulah. Tapi saya rasa menghapus media sosial bukan penyelesaian masalah, karena ada beberapa penggemar sejati di luar sana yang juga ingin mendengar kabar dari Anda. Seperti yang saya bilang, media sosial saya tetap aktif, namun saya punya seseorang yang mengaturnya untuk saya."
Aleix Espargaro

"Saya sungguh marah soal ini. Maverick adalah yang pertama, namun saya rasa Jack nyaris melakukan hal serupa. Saya juga sedang mempertimbangkan melakukan hal yang sama di Twitter. Semua orang harus rileks. Jika tidak, satu-satunya hal yang akan kita alami adalah para atlet akan menutup media sosial mereka.
"Dengan kebencian yang kita lihat di media sosial, hal yang akan didapatkan orang hanyalah media sosial para atlet jadi dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan besar. Mereka takkan mendapati media sosial atlet secara pribadi seperti akun saya. Kami harus menghadapi orang-orang yang tak menyukai kami, untuk mengalami kemajuan dalam hidup, Anda harus menerima kritik. Tapi masalah yang kita lihat di Twitter adalah mereka adalah media sosial paling buruk, di mana Anda melihat banyak kebencian.
"Padahal kami tak seharusnya menghadapi hal-hal macam ini. Pada akhirnya, saya tahu benar bagaimana Maverick. Ia salah satu orang terbaik yang pernah saya jumpai dalam hidup saya. Ia anak yang baik. Di atas motor MotoGP, ia tentu mencoba menjadi secepat dan sebaik mungkin. Namun, setiap orang bisa mengalami hari yang buruk. Penggemar bisa berhenti mengikuti atlet atau belajar lebih sopan. Tapi kenapa sih kalau finis ke-12 atau kedua ia tetap harus menghadapi kebencian orang lain?"
Maverick Vinales

"Pada dasarnya, Twitter adalah aplikasi yang tak sering-sering amat saya gunakan. Jadi, pada akhirnya kami putuskan untuk menghapusnya. Saya lebih pilih Instagram atau TikTok, karena saya cenderung suka video dan reel. Itulah yang saya suka lakukan dan Twitter kadang-kadang terlalu serius. Jadi, pada akhirnya Twitter bukan yang terbaik, toh saya tak tiap hari mengunggah sesuatu di sana. Jadi, kami putuskan untuk menghapusnya dan fokus pada Instagram dan TikTok."
Fabio Quartararo

"Saya rasa masalah ini (perundungan siber) adalah hal yang sulit, karena kami semua hanya manusia biasa. Saya pernah mengalami masa-masa yang berat. Memang mudah melempar komentar buruk ketika Anda hanya duduk-duduk di sofa dan di depan TV ketika seseorang mengalami balapan atau momen yang buruk.
"Saya bisa bayangkan, orang-orang yang berusia 40-50 tahun, bisa saja si pembalap adalah anak mereka sendiri. Pasti mereka juga tak suka melihat komentar-komentar buruk seperti itu. Jadi, saya merasa tak perlu membaca komentar-komentar.
"Namun, tentu akan selalu ada orang yang mengatakan hal buruk ketika situasi Anda berjalan buruk juga, dan mungkin orang yang sama akan mengatakan hal baik ketika Anda menang. Tapi saya rasa hal terpenting yang bisa kami lakukan adalah tak membaca komentar-komentar orang. Ini sangat membantu."
Marc Marquez

"Media sosial adalah masa kini dan masa depan. Media sosial bisa menghadirkan pengaruh yang sangat positif, berkat koneksi yang Anda bangun dengan penggemar dan Anda bisa merasa dekat dengan mereka. Namun, media sosial juga bisa berdampak sangat negatif, tergantung karakter orang. Yang saya benci dari media sosial adalah kabar-kabar bohong dan akun-akun palsu.
"Saya sangat menghargai media sosial, namun hanya sisi positifnya. Anda bisa membawa pandangan berbeda soal kehidupan Anda, tapi juga bisa tidak. Namun, jujur saja, sejak 2015 saya sudah 'move on' dari media sosial. Saya masih menggunakannya, tapi tak membaca komentar-komentarnya. Saya punya orang (admin) yang memberitahu beberapa hal kepada saya, tapi saya tak perlu membacanya sendiri."
Sumber: Crashnet, Autosport, MotoGP
Video: Sirkuit Mandalika Siap Sambut MotoGP 2021
Baca Juga:
Valentino Rossi Ragu Bela Tim Sendiri di MotoGP 2022, Walau Tak Tutup Peluang
Jadwal Live Streaming MotoGP, Moto2, Moto3, dan MotoE Jerez 2021
Aprilia Tekad Lakukan 'Segalanya' demi Gaet Andrea Dovizioso
Malas Wildcard di MotoGP, Cal Crutchlow: Saya Kan Pensiun karena Ogah Balapan Lagi
VR46 Team Ragu Turunkan 'Bos Besar' Sendiri di MotoGP 2022
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Line-up MotoGP 2027: Jorge Martin ke Yamaha, Quartararo Gabung Honda, Acosta Merapat ke Ducati
Otomotif 18 September 2026, 15:12
-
Menuju MotoGP Mandalika 2026, Pertamina Bawa Atmosfer Balap Lebih Dekat ke Masyarakat Indonesia
Otomotif 14 September 2026, 19:51
-
Jorge Martin Antusias Sambut MotoGP Misano, tapi Tak Mau Terbuai Posisi Puncak
Otomotif 9 September 2026, 15:35
-
Jadwal MotoGP Aragon 2026 Hari Ini, Minggu 30 Agustus: Live Streaming di Vidio
Otomotif 30 Agustus 2026, 08:39
-
Fermin Aldeguer Resmi Jadi Pembalap Non-Italia Pertama di Tim Milik Valentino Rossi
Otomotif 27 Agustus 2026, 18:16
LATEST UPDATE
-
Pengakuan untuk Kualitas dan Ketajaman Portugal
Piala Eropa 25 September 2026, 08:27
-
Jurgen Klopp Anggap Hasil Imbang Jerman Kontra Belanda Sudah Cukup
Piala Eropa 25 September 2026, 07:13
-
Debut Mengesankan Ruben van Bommel Bersama Belanda
Piala Eropa 25 September 2026, 07:10
-
Ter Stegen Kecewa Jerman Gagal Menang di Menit Akhir
Piala Eropa 25 September 2026, 07:01
-
Cody Gakpo: Hasil Imbang yang Terasa Sedikit Mengecewakan
Piala Eropa 25 September 2026, 06:52
-
Xavi: Belanda Tampil Lebih Baik daripada Jerman
Piala Eropa 25 September 2026, 06:44
-
UEFA Nations League: Imbang di Debut Xavi dan Klopp, Juara Bertahan Portugal Menang
Piala Eropa 25 September 2026, 06:17
-
Jalan Juventus Mendapatkan Alisson Becker Makin Lapang
Liga Italia 25 September 2026, 00:17
-
Target Timnas Voli Putra Indonesia di Asian Games 2026: Medali Perunggu
Voli 24 September 2026, 22:33
-
Link Siaran FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia vs Singapura
Tim Nasional 24 September 2026, 20:48
-
Barcelona Bakal Jual Jules Kounde ke Manchester United?
Liga Spanyol 24 September 2026, 20:29
-
Jadwal Siaran Langsung FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia vs Singapura
Tim Nasional 24 September 2026, 20:12
LATEST EDITORIAL
-
Bukan Cuma Ronaldo, 3 Pemain Ini Juga Pernah Membela Real Madrid dan Inter Milan
Editorial 8 September 2026, 20:58
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33



