Mesir Itu Tentang Chemistry dan Mentalitas, Bukan Cuma Mohamed Salah
Gia Yuda Pradana | 5 Juli 2026 19:31
Bola.net - Nama Mohamed Salah hampir selalu menjadi pusat perhatian ketika Mesir memasuki lapangan. Namun, perjalanan bersejarah Mesir hingga babak 16 besar Piala Dunia 2026 ternyata berdiri di atas fondasi yang jauh lebih kokoh daripada sekadar kehebatan sang kapten.
Mesir datang sebagai penantang saat bertemu Argentina. Di balik status lawan yang lebih diunggulkan, The Pharaohs membawa identitas permainan yang dibangun selama bertahun-tahun.
Pandangan itu datang dari Tito Garcia Sanjuan, mantan asisten pelatih Mesir pada era Javier Aguirre. Ia pernah berada di dalam tim dan memahami bagaimana karakter skuad tersebut dibentuk dari waktu ke waktu.
Menurut Garcia Sanjuan, kekuatan terbesar Mesir bukan hanya berada pada kualitas individu. Mentalitas, fleksibilitas taktik, dan kuatnya kompetisi domestik menjadi alasan utama mengapa Mesir mampu melangkah sejauh ini.
Mentalitas yang Terbentuk Selama Puluhan Tahun
Garcia Sanjuan menilai daya saing telah menjadi identitas Mesir selama tiga dekade terakhir. Karakter itu membuat para pemain tidak mudah kehilangan kepercayaan diri meski menghadapi lawan dengan reputasi lebih besar.
"Mesir memiliki sesuatu yang menjadi ciri khas tim ini selama 30 tahun terakhir. Semuanya tentang daya saing. Bagi saya, mereka adalah sebuah tim yang sesungguhnya. Argentina memang tampak sebagai favorit, tetapi saya tidak akan terkejut jika Mesir mampu memberikan perlawanan sengit. Ini tidak akan mudah bagi Argentina."
Karakter tersebut juga terlihat dari kemampuan Mesir beradaptasi sepanjang pertandingan. Mereka dapat berganti dari empat bek menjadi lima bek sesuai kebutuhan tanpa kehilangan keseimbangan permainan.
Garcia Sanjuan melihat para pemain Mesir tumbuh dari budaya sepak bola jalanan. Kebiasaan itu membentuk naluri untuk memperjuangkan setiap bola dengan penuh semangat.
Salah Tetap Menjadi Wajah Mesir
Meski mengedepankan kekuatan kolektif, Garcia Sanjuan tidak mengurangi arti penting Mohamed Salah. Penyerang berusia 34 tahun itu tetap menjadi pemimpin yang memberi pengaruh besar, baik di dalam maupun di luar lapangan.
"Mereka bisa mencetak sejarah. Bagi semua orang, terutama Mo, ini kemungkinan menjadi Piala Dunia terakhirnya dan ia pantas mendapatkan pengakuan."
Garcia Sanjuan juga memiliki pengalaman pribadi saat bekerja bersama Salah. Ia mengingat bagaimana Salah tetap rendah hati ketika berada di puncak performanya.
Menurut Garcia Sanjuan, Salah merupakan pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap. Kemampuan itu membuat Mesir selalu memiliki harapan di setiap pertandingan besar.
Liga Domestik Menjadi Pondasi Kekuatan
Perjalanan Mesir menuju fase gugur juga tidak lepas dari kuatnya kompetisi domestik. Sebanyak 17 dari 26 pemain dalam skuad Hossam Hassan berasal dari Liga Primer Mesir.
Al Ahly menjadi penyumbang pemain terbanyak dengan delapan nama. Kehadiran mereka membuat chemistry antarpemain sudah terbentuk sebelum memperkuat tim nasional.
Garcia Sanjuan juga menilai Zamalek dan Pyramids ikut meningkatkan kualitas persaingan dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan itu melahirkan pemain yang siap menghadapi tekanan di panggung internasional.
Ketika banyak orang melihat Mesir melalui sosok Mohamed Salah, Garcia Sanjuan melihat cerita yang lebih besar. Di balik sang bintang, terdapat tim yang dibangun dari kebersamaan, karakter, dan fondasi sepak bola domestik yang terus berkembang hingga mampu membawa Mesir menantang Argentina di Piala Dunia 2026.
Sumber: FIFA
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Nomor 10 Argentina Setelah Lionel Messi Pensiun: Siapa yang Akan Jadi Penerusnya?
Piala Dunia 30 September 2026, 23:45
-
John Stones dan Surat Tilang yang Terlewat
Liga Italia 30 September 2026, 13:38
-
Roma Jelaskan Alasan Larang Paulo Dybala Hadiri Laga Perpisahan Lionel Messi
Amerika Latin 30 September 2026, 13:32
-
Prediksi Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026
Amerika Latin 29 September 2026, 13:18
-
Lamine Yamal Ungkap Pesan untuk Lionel Messi Usai Final Piala Dunia 2026
Piala Dunia 26 September 2026, 23:01
LATEST UPDATE
-
Pemain Juventus Muak, Luciano Spalletti Dianggap Terlalu Banyak Bicara!
Liga Italia 30 Oktober 2026, 22:58
-
Dominic Calvert-Lewin Diincar MU, Leeds: Maaf, Gak Dulu!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:57
-
Hitung Mundur Menuju 1000 Gol Cristiano Ronaldo, Kurang Berapa?
Piala Dunia 30 Oktober 2026, 22:20
-
Youri Tielemans Lega Michael Carrick Selamat dari Pemecatan di MU
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:07
-
Tidak Takut, Michael Carrick Justru Tidak Sabar MU Hadapi Chelsea
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 21:46
-
Prediksi BRI Super League: PSM vs Madura United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:10
-
Prediksi BRI Super League: Persik vs Persita 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:05
-
Prediksi BRI Super League: Arema FC vs Bali United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:00
-
Prediksi BRI Super League: Dewa United vs Persija 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 19:55
-
Tempat Menonton Persebaya vs Persijap di BRI Super League, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 18:05
-
Nova Arianto Semringah Lihat Amar Brkic Bersinar di Borneo FC
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 18:00
-
Link Streaming Persebaya vs Persijap, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 17:59
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18



