Piala Dunia XVIII (2006)
Editor Bolanet | 2 Juni 2010 12:24
Bola.net - Piala Dunia Jerman 2006 sangat dikagumi dan menjadi satu-satunya acara yang terbaik sepanjang masa, tapi perlu diingat atas tindakan yang sangat luar biasa di final Berlin. Angola, Pantai Gading, Republik Ceko, Ghana, Togo, Trinidad dan Tobago, Ukraina semuanya mengikuti turnamen untuk pertama kali, ketika Australia sudah ikut pertama kali pada 32 tahun lalu. Dari tim debutan, hanya Ghana dan Ukraina yang mampu melewati tahapan grup. Ghana lolos dari grup bersama dengan Italia, Amerika dan Republik Ceko, tapi kemudian kalah oleh Brazil dan di putaran kedua ketika Ukraina mengalahkan Tunisia dan Saudi Arabia hingga kemudian mengalahkan Switzerland dalam penalti hingga sampai ke perempat final. Italia akhirnya mengalahkan mereka juga. Australia terlibat dalam beberapa pertandingan yang kontroversial tak terlupakan. Mereka mengoleksi gol dari 1-0 dalam waktu 10 menit saat mengalahkan Jepang 3-1 dan di final grup permainan setidaknya memperoleh hasil imbang melawan Kroasia. Harry Kewell menyelamatkan posisi Socceroos dengan gol akhir hingga skor 2-2 di mana telah melakukan offside, hingga akhirnya permainan menjadi tidak serius, salah satu wasit yang paling dihormati, mengeluarkan tiga kartu kuning kepada Josep Simunic sebelum mengeluarkannya. Perjalanan Australia yang luar biasa harus berakhir di tangan Italia di ronde kedua, di mana mereka harus bermain dengan sepuluh orang di babak kedua setelah Marco Matterazzi di keluarkan. Australia melewatkan beberapa peluang besar dan ketika Lucas Neill di sinyalir telah melakukan pelanggaran terhadap Fabio Grosso di kotak penalti pada final kedua, Francesco Totti mencetak gol kemenangan dari tendangan penalti. Tuan rumah Jerman, sering dikritik karena memainkan permainan bola yang membosankan, hingga harus membuktikan mereka adalah pemain yang besar di turnamen tersebut, mengalahkan Kosta Rika, Polandia dan Ekuador pada penyisihan grup dan kemudian mengalahkan Swedia pada 16 besar. Argentina, yang tampak sebagai tim favorit di turnamen menghadang di perempat final, yang selanjutnya akan menjadi musuh dan tuan rumah ingin membawanya ke dalam permainan Miroslav Klose yang sempat menyamakan kedudukan di menit terakhir dan Jerman memenangkan adu penalti. Namun Jerman, yang telah menempati posisi ke tiga, ketika pernah bertemu dengan Italia dan Italia menyarangkan dua gol di final saat tambahan waktu di semi final. Spanyol memberikan kejutan di putaran kedua setelah mengalahkan seluruh tiga grup. Prancis tiba-tiba menyelinap melewati hadangan tim seperti Togo, Switzerland dan Korea dan terlihat mudah saat mengalahkan Spanyol. Namun setelah mengambil pimpinan di Hanover, Spanyol kewalahan oleh Prancis dan dibabat dengan skor 3-1. Prancis kemudian mengalahkan juara bertahan Brazil dengan skor 1-0 dan masuk ke semifinal melawan Portugal, yang telah mematahkan semangat Inggris dari kemenangan adu penalti di perepat final. Penalti yang dihasilkan Zinedine Zidane cukup untuk membawa Prancis melewati pertandingan hingga bertemu dengan Italia yang sudah menunggu di Berlin. Zidane menjadi sorotan kembali saat tujuh menit di final, dengan penaltinya untuk mengakhiri laga, sebelum Marco Matterazzi mengimbangi skor dalam 19 menit. Dua gol yang dicetak adalah bukti bahwa dua sosok penting dalam sebuah pertandingan. Setelah kedua kubu gagal memanfaatkan kesempatan memenangkan pertandingan, perpanjangan waktu di mana sebuah drama dimulai. Zidane dan Materazzi terlibat dalam sebuah pembicaraan dan kemudian Pria Prancis tersebut mendaratkan tandukannya di dada lawannya. Pemain Italia itu tersungkur dan wasit Horacio Elizondo memberikan Zidane kartu merah. Akhir dari final itu diputuskan melalui adu penalti hingga Prancis harus kehilangan tendangan keduanya oleh David Trezeguet yang gagal membobol gawang. Itu menjadikan Fabio Grosso sang pencetak gol penalti ke lima dan mencuri Trofi Piala Dunia ke lima bagi Italia. Klose mendapat Golden Boot dari lima golnya, meskipun Zidane harus keluar lapangan internasional, penghargaan Golden Ball dimenangkan oleh pemain bertahan Italia, Fabio Cannavaro. (bola/dod)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Tantang Fenerbahce, Liverpool Nostalgia Malam Magis di Istanbul
Liga Champions 4 November 2026, 14:40
-
Jose Mourinho Peringatkan Real Madrid untuk Tidak Jemawa ketika Hadapi AEK Athens
Liga Champions 4 November 2026, 14:20
-
Tempat Menonton Melbourne Victory vs Persib, 4 November 2026
Bola Indonesia 4 November 2026, 14:15
-
Link Streaming Melbourne Victory vs Persib, 4 November 2026
Bola Indonesia 4 November 2026, 14:09
-
Bocah Ajaib Manchester United itu Bernama Shea Lacey
Liga Champions 4 November 2026, 14:00
-
Tumbang Lawan AS Roma, Seberapa Parah Cedera Carlos Baleba?
Liga Inggris 4 November 2026, 13:20
-
Prediksi Celta vs Union Saint-Gilloise 6 November 2026
Liga Eropa UEFA 4 November 2026, 13:10
-
Prediksi Real Sociedad vs Lyon 6 November 2026
Liga Eropa UEFA 4 November 2026, 12:04
-
Gabriel Batistuta dan Kisah Cinta Abadi di Balik Selebrasi Ikonik 'Te Amo, Irina!'
Liga Italia 4 November 2026, 11:21
-
Prediksi AZ vs Juventus 6 November 2026
Liga Eropa UEFA 4 November 2026, 10:09
-
Prediksi Milan vs Ferencvaros 6 November 2026
Liga Eropa UEFA 4 November 2026, 09:50
-
Di Balik Penalti Bruno Fernandes yang Diulang
Liga Champions 4 November 2026, 08:20
-
Mengungkap Penyebab Roma Gagal Bendung Kebangkitan Manchester United
Liga Champions 4 November 2026, 08:14
-
Selalu Ada Keyakinan di Old Trafford
Liga Champions 4 November 2026, 08:03
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18

