3 Dosa Besar yang Mengakhiri Era Singkat Xabi Alonso di Real Madrid
Afdholud Dzikry | 13 Januari 2026 09:17
Bola.net - Kisah Xabi Alonso di Santiago Bernabeu berakhir prematur. Hanya berselang 24 jam setelah Real Madrid takluk 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol, surat pemecatan itu resmi turun.
Publik mungkin melihat kekalahan di laga El Clasico tersebut sebagai penyebab utama. Namun, bagi manajemen Los Blancos, hasil itu hanyalah pemicu akhir dari bom waktu yang sudah berdetak sejak pertengahan musim.
Mengapa pelatih yang datang dengan reputasi mentereng usai membawa Bayer Leverkusen juara tanpa terkalahkan ini justru gagal total di Real Madrid?
Berdasarkan bedah situasi internal klub, berikut adalah tiga alasan fundamental mengapa Florentino Perez akhirnya menarik pelatuk pemecatan.
1. Krisis Identitas: Kompromi Taktik yang Setengah Matang

Alasan paling teknis namun fatal adalah kegagalan Alonso menanamkan filosofi permainannya. Di Leverkusen, Alonso dipuja karena sistem 3-4-2-1 yang solid dan terstruktur.
Sesampainya di Madrid, idealisme itu menabrak tembok realitas. Sadar bahwa skema tiga bek tengah akan sulit diterima oleh kultur Madridistas dan ego para pemain, Alonso mencoba pragmatis. Ia mengubah pakem menjadi varian 4-2-3-1.
Sayangnya, perubahan ini justru melahirkan keraguan. Madrid tidak bermain dengan struktur disiplin ala Alonso di Jerman, tapi juga kehilangan daya ledak alami era Ancelotti.
"Kelelahan dengan situasi yang ada," demikian ungkapan Alonso dalam pertemuan terakhirnya di Valdebebas seperti dikutip media Spanyol, AS.
Hasilnya terlihat jelas di final Supercopa. Melawan Barcelona, Madrid hanya mencatatkan 29% penguasaan bola. Mereka didikte habis-habisan. Bukan karena pemain tidak mampu, melainkan karena mereka terjebak dalam sistem yang terasa seperti "kompromi yang gagal".
2. Friksi Ruang Ganti: Gagal Menjinakkan Ego Bintang

Di Real Madrid, kemampuan memijat ego pemain jauh lebih berharga daripada papan taktik yang rumit. Inilah yang membuat Carlo Ancelotti dan Zinedine Zidane bertahan lama, dan Jose Mourinho terusir.
Alonso gagal dalam aspek krusial ini. Hubungannya dengan Vinicius Junior dilaporkan merenggang karena sang bintang Brasil merasa tidak cocok dengan metode kepelatihan Alonso.
Situasi ini menjadi begitu transparan hingga pelatih lawan, Diego Simeone, sempat menyindir status Vinicius yang mulai memudar di Bernabeu saat laga semifinal.
Dampaknya merembet ke pemain lain:
- Rodrygo sempat tersisih di awal musim.
- Trent Alexander-Arnold, rekrutan profil tinggi dari Liverpool, hanya menjadi starter dalam lima laga La Liga karena masalah kebugaran dan taktik.
- Federico Valverde terpaksa terus-menerus menambal posisi bek kanan, mengorbankan lini tengah.
Ketika bintang utama seperti Vinicius Jr tidak "membeli" ide pelatih, dan Kylian Mbappe terpaksa memikul beban sendirian, lonceng kematian bagi pelatih Madrid tinggal menunggu waktu.
3. Dosa Tak Terampuni: Kehilangan Wibawa di Bernabeu

Mungkin Alonso bisa selamat dari taktik yang membingungkan atau pemain yang merajuk, jika saja ia tetap menang. Namun, ia melanggar hukum tertinggi Real Madrid: Jangan permalukan klub di kandang sendiri.
Meskipun sempat memenangi 13 dari 14 laga awal, "napas buatan" itu habis ketika performa kandang merosot tajam di bulan Desember 2025 lalu.
Kekalahan kandang dari Celta Vigo adalah titik nadir. Bagi Florentino Perez dan para fans, kalah dari tim papan tengah di Bernabeu adalah aib yang tak bisa ditoleransi. Ditambah kekalahan dari Manchester City beberapa hari kemudian, wibawa Bernabeu runtuh.
Stadion yang seharusnya menjadi benteng angker itu berubah menjadi panggung penghakiman. Lambaian sapu tangan putih (white handkerchiefs) dari tribun penonton menjadi vonis sosial yang lebih tajam dari keputusan direksi.
Kembali ke Setelan Pabrik
Pemecatan Alonso menegaskan satu hal: Real Madrid alergi terhadap "Pelatih Sistem" yang membutuhkan waktu untuk membangun filosofi. Mereka menginginkan hasil instan dan harmoni bintang.
Itulah sebabnya Alvaro Arbeloa dipilih sebagai pengganti. Sosok yang minim pengalaman melatih di level senior, namun paham betul "DNA Madrid". Arbeloa hadir bukan untuk mengajarkan sepak bola rumit, tapi untuk mengembalikan kenyamanan para Galactico—tugas yang gagal diemban oleh Alonso.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Barcelona dan Kekalahan di El Clasico yang Mengungkap Pentingnya Evolusi Taktik
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 06:24
-
Arda Guler Bikin Jose Mourinho Sulit Mencadangkannya Lagi
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 05:51
-
Bernardo Silva Buktikan Fans Real Madrid Benar, Jose Mourinho Keliru
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 05:46
-
Bagaimana Jude Bellingham Mendominasi Lini Tengah Barcelona
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 05:42
-
Toni Kroos dan Dani Carvajal soal Strategi Berani Jose Mourinho di El Clasico
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 05:37
LATEST UPDATE
-
Prediksi BRI Super League: PSM vs Madura United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:10
-
Prediksi BRI Super League: Persik vs Persita 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:05
-
Prediksi BRI Super League: Arema FC vs Bali United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:00
-
Prediksi BRI Super League: Dewa United vs Persija 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 19:55
-
Tempat Menonton Persebaya vs Persijap di BRI Super League, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 18:05
-
Nova Arianto Semringah Lihat Amar Brkic Bersinar di Borneo FC
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 18:00
-
Link Streaming Persebaya vs Persijap, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 17:59
-
Legenda Liverpool Dukung MU Pekerjakan Unai Emery: Dia Pelatih yang Luar Biasa!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 17:54
-
Kabar Baik MU? Ada Klub Inggris yang Mau Beli Marcus Rashford
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 17:41
-
Gokil! Bos Besar Pastikan AC Milan Bakal Jor-joran di Bursa Transfer Januari 2027
Liga Italia 30 Oktober 2026, 17:28
-
Sudah Tidak Bahagia di MU, Barcelona Siap Jadi Rumah Baru untuk Lisandro Martinez
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 17:00
-
Jorge Martin Resmi Bisa Balapan di MotoGP Malaysia 2026
Otomotif 30 Oktober 2026, 16:50
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18



