Carlo Ancelotti: Pelatih Tanpa Aliran Bermain Spesifik, tapi Koleksi Gelar Melimpah
Richard Andreas | 13 Mei 2025 09:15
Bola.net - Old Trafford pernah menjadi panggung duel dua raksasa Italia ketika AC Milan bertemu Juventus dalam final Liga Champions 2003.
Di balik hasil imbang 0-0 yang berlangsung selama 120 menit dan kemenangan Milan lewat adu penalti, ada parade nama besar: Alessandro Nesta, Filippo Inzaghi, Andrea Pirlo, Paolo Maldini, dan dari kubu Juve ada Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, serta Gianluca Zambrotta.
Momen itu adalah bagian dari perjalanan panjang Carlo Ancelotti dalam lingkaran elite kepelatihan Eropa. Laga itu menjadi simbol betapa lamanya Ancelotti berada di orbit sepak bola papan atas.
Pria yang kerap disebut sebagai pelatih paling santai—dengan cerutu dan secangkir kopi—telah mengumpulkan begitu banyak sejarah dalam kariernya.
Maldini, kapten Milan malam itu, memulai debut pada 1985. Sementara Jude Bellingham, pemain yang diboyong Ancelotti ke Real Madrid dua tahun lalu, baru berusia 21 tahun dan mungkin masih aktif bermain hingga 2040. Artinya, Ancelotti masih relevan di era sekarang.
Tak Punya Trademark, tapi Penuh Prestasi

Berbeda dengan banyak pelatih besar lainnya, Ancelotti tidak dikenal sebagai pencetus gaya tertentu. Tak ada yang disebut sebagai “Aliran Ancelotti”.
Ia bukan pelopor tiki-taka seperti Guardiola, bukan arsitek Total Football seperti Johan Cruyff, dan tidak pula spesialis parkir bus seperti Jose Mourinho. Ia tak mengajarkan gegenpressing seperti Klopp atau menjadi guru besar sepak bola menyerang seperti Marcelo Bielsa.
Meski begitu, Anda tetap bisa berargumen bahwa Ancelotti adalah manajer klub terbaik sepanjang masa. Hanya saja, perdebatan itu jarang muncul. Coba tanyakan: Seperti apa sebenarnya ciri khas permainan tim Ancelotti?
Ia bukan tipe pelatih yang terobsesi pada kemurnian taktik atau bentuk ideal permainan seperti Guardiola yang sampai mencakar wajah sendiri karena stres. Ia tidak seperti Klopp yang memilih mundur karena kelelahan atau Bielsa yang begitu intens hingga memancarkan kegelisahan konstan.
Ancelotti justru terlihat santai. Ia menjalani profesinya dengan pendekatan filosofis—tidak terlalu larut dalam tekanan. Ia pernah menjadi pemain untuk Arrigo Sacchi di Milan, tetapi tidak mewarisi gaya eksentrik mentornya.
Sacchi adalah ilmuwan sepak bola yang menyarankan terapi lumpur panas di tahun 1980-an. Namun, Ancelotti? Ia lebih memilih kedalaman nalar yang tenang ketimbang eksperimen ekstrem.
Piala Demi Piala, Era Demi Era
Tak perlu gaya mencolok jika hasilnya gemilang. Ancelotti telah mengoleksi 30 trofi sebagai pelatih. Memang belum menyamai Guardiola yang sudah mendekati 40, tetapi hanya Ancelotti yang mampu menjuarai lima liga top Eropa—Premier League, La Liga, Serie A, Bundesliga, dan Ligue 1.
Tambahkan lima gelar Liga Champions ke dalam daftar, dan Anda akan menemukan satu-satunya pelatih yang telah menyapu bersih semua level tertinggi kompetisi klub Eropa.
Ia memulai dari era analog—gelar Eropa pertamanya diraih pada 2003—dan tetap relevan hingga era digital di 2024. Bagi mereka yang mengira Ancelotti akan usang oleh zaman, kenyataannya justru sebaliknya.
Kepercayaan klub-klub elite padanya bukan hanya karena status, tapi juga karena kemampuan menjalin hubungan dengan para pemainnya.
Ancelotti yang Tetap Relevan

Pada usia 65, Ancelotti tetap relevan di dunia yang terus berubah. Sepak bola telah mengalami banyak transisi, namun Ancelotti selalu ada, tetap bertahan dan terus menangani klub-klub besar.
Para pemain bisa terkoneksi dengannya, dari generasi awal 2000-an hingga generasi saat ini. Ia bertahan bukan karena prinsip kaku, melainkan karena fleksibilitas. Ia menyesuaikan taktik dengan kekuatan skuad, bukan memaksakan ideologi pribadi.
Itu tidak selalu berhasil—Real Madrid pun sempat tergelincir musim ini—namun keberhasilan musim lalu dengan gelar La Liga dan Liga Champions menunjukkan kemahirannya membaca dinamika tim.
Namun, kini ketika ia resmi meneken kontrak untuk melatih tim nasional Brasil dan mulai bekerja bulan ini, mungkin saja ini adalah bab terakhir dari kiprah Ancelotti di level klub.
Tempat Ancelotti di Panggung Sejarah
Menempatkan Ancelotti di antara para legenda tak mudah. Ia tak punya aliran, murid, atau pengikut. Namun, ia punya gelar.
Dan ia melakukannya dengan gaya santai—menikmati kopi sambil timnya mencetak gol, berpose dengan cerutu usai mengangkat trofi. Ia mungkin tak ingin dinilai berdasarkan angka. Tapi bagaimana lagi cara mengukur kehebatan seorang pelatih?
Apakah Ancelotti lebih baik dari Guardiola, Sacchi, atau bahkan Cruyff? Itu akan selalu jadi bahan perdebatan. Tapi satu hal pasti: Dalam dunia yang penuh dengan obsesi taktik, Ancelotti membuktikan bahwa jalan sunyi tanpa dogma juga bisa menghasilkan warisan yang agung.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Real Madrid vs Monaco: Statistik Gol Mbappe Jadi Ancaman Nyata buat Mantan Klubnya
Liga Champions 20 Januari 2026, 21:04
-
Madrid vs Monaco: Ujian Arbeloa, Reuni Mbappe, dan Angkernya Bernabeu
Liga Champions 20 Januari 2026, 20:00
-
Tempat Menonton Real Madrid vs Monaco: Live SCTV, Mengenang Drama 2004 di Bernabeu
Liga Champions 20 Januari 2026, 18:08
LATEST UPDATE
-
Hasil Copenhagen vs Napoli: Partenopei Gagal Menang Meski Unggul Jumlah Pemain
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:29
-
Hasil Villarreal vs Ajax: Kapal Selam Kuning Karam Lebih Dini
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:27
-
Sporting CP vs PSG: Les Parisiens Jatuh di Lisbon
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:19
-
Hasil Olympiakos vs Leverkusen: Wakil Yunani Buka Peluang Lolos ke Play-off
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:17
-
Hasil Tottenham vs Dortmund: Spurs Jaga Rekor Kandang Sempurna di Liga Champions
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:11
-
Hasil Inter vs Arsenal: Meriam London Hancurkan Nerazzurri di Giuseppe Meazza
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:04
-
Hasil Real Madrid vs Monaco: Kylian Mbappe dkk Pesta Setengah Lusin Gol
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:03
-
Gagal Bersinar di Old Trafford, Ugarte Bakal Ditukar dengan Bintang Muda Sunderland
Liga Inggris 21 Januari 2026, 04:59
-
Hasil Bodo/Glimt vs Man City: Haaland Mandul, The Citizens Babak Belur
Liga Champions 21 Januari 2026, 03:34
-
Kairat vs Club Brugge: Brugge Gasak Tuan Rumah 4-1
Liga Champions 21 Januari 2026, 03:03
-
Prediksi Newcastle vs PSV 22 Januari 2026
Liga Champions 21 Januari 2026, 03:00
-
Prediksi Marseille vs Liverpool 22 Januari 2026
Liga Champions 21 Januari 2026, 03:00
-
Prediksi Juventus vs Benfica 22 Januari 2026
Liga Champions 21 Januari 2026, 03:00
-
Prediksi Chelsea vs Pafos 22 Januari 2026
Liga Champions 21 Januari 2026, 03:00
LATEST EDITORIAL
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06



