Gamblang dan Jelas! Toni Kroos Bedah Kekalahan Real Madrid dari Barcelona di Piala Super Spanyol

Richard Andreas | 19 Januari 2026 10:14
Gamblang dan Jelas! Toni Kroos Bedah Kekalahan Real Madrid dari Barcelona di Piala Super Spanyol
Pemain Real Madrid Rodrygo (kiri) berebut bola dengan pemain Barcelona Frenkie de Jong pada laga final Piala Super Spanyol/Supercopa de Espana, Minggu, 11 Januari 2026 (c) AP Photo/Altaf Qadri

Bola.net - Musim berjalan berat bagi Real Madrid, dan situasi memburuk dalam sepekan terakhir. Kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol menjadi titik awal rangkaian hasil negatif.

Kekalahan tersebut berujung pada berakhirnya masa Xabi Alonso sebagai pelatih, sebelum Real Madrid kembali tersingkir dari Copa del Rey beberapa hari kemudian. Performa tim pun kembali menjadi bahan evaluasi.

Advertisement

Salah satu analisis datang dari mantan gelandang Real Madrid, Toni Kroos, yang membedah kekalahan di final Supercopa melalui podcast Einfach mal luppen, sebagaimana dikutip Diario AS.

1 dari 3 halaman

Kroos: Madrid Sulit Menang Tanpa Faktor Chaos

Kroos: Madrid Sulit Menang Tanpa Faktor Chaos

Barcelona vs Real Madrid: Rodrgyo dan Jules Kounde berebut bola pada laga final Piala Super Spanyol 2026, 12 Januari 2026. (c) AP Photo/Altaf Qadri

Menurut Kroos, Real Madrid kerap membutuhkan unsur kekacauan di lapangan untuk bisa memenangkan pertandingan besar. Ia menilai pendekatan yang terlalu terkontrol justru tidak cocok dengan karakter tim saat ini.

“Saya punya perasaan bahwa mereka membutuhkan semacam kekacauan di lapangan untuk memenangkan pertandingan seperti ini. Bukan sesuatu yang direncanakan, terkontrol, atau rumit, tetapi permainan bolak-balik. Biarkan hal-hal gila terjadi. Di situlah kualitas mereka bisa keluar," ujar Kroos.

Namun, Kroos juga menyoroti momen krusial yang seharusnya bisa dihindari. Ia menilai gol pertama Barcelona mencerminkan hilangnya kendali pada situasi penting. “Tapi kemudian terjadi hal-hal seperti gol pertama Barcelona yang tidak boleh terjadi.”

Ia mengaitkan hal tersebut dengan fase pertandingan ketika Real Madrid sebenarnya sudah bertahan cukup baik dan berada dalam posisi yang relatif stabil.

“Mengapa? Karena Anda datang dari fase bertahan yang bagus selama 30 atau 35 menit. Xabi juga mengatakan dalam konferensi pers bahwa dia merasa pertandingan ada dalam kendali. Tanpa bola, tapi tetap terkendali.”

2 dari 3 halaman

Masalah Membaca Momen dan Pendekatan Taktik Alonso

Masalah Membaca Momen dan Pendekatan Taktik Alonso

Perebutan bola antara bek Barcelona, Alejandro Balde dengan gelandang Real Madrid, Jude Bellingham di Supercopa de Espana, 12 Januari 2026. (c) AP Photo/Altaf Qadri

Kroos menilai kegagalan Real Madrid bukan hanya soal taktik, tetapi juga kemampuan membaca momen di dalam pertandingan. Ia menekankan pentingnya memutus momentum lawan.

“Ini soal memutus dinamika lawan. Yang tidak boleh terjadi pada tim besar adalah, 30 detik kemudian mereka mencetak gol karena Anda kembali memberi ruang atau kehilangan bola secara konyol," sambung Kroos.

Menurutnya, pemain depan juga memegang peran penting dalam situasi tersebut, terutama untuk menjaga penguasaan bola dan menghindari risiko yang tidak perlu.

“Pada momen-momen itu, para pemain depan juga harus bisa menahan bola dan tidak mengambil risiko agar tidak terjadi kehilangan bola lagi.”

3 dari 3 halaman

Memahami Alasan Alonso Pilih Taktik Madrid

Kroos kemudian mengomentari pendekatan konservatif yang dipilih Alonso di final Supercopa yang digelar di Jeddah. Ia memahami alasan di balik keputusan tersebut, meski menilai risikonya tetap besar.

“Ini menguntungkan bahwa dia beradaptasi. Dia tahu bahwa semuanya tidak akan berakhir baik jika bermain satu lawan satu. Karena itu dia mencoba memilih jalur dengan peluang sukses terbaik, sesuatu yang sebelumnya sudah berhasil di Clasico di La Liga.”

Meski demikian, Kroos menegaskan bahwa strategi bertahan dan mengandalkan serangan balik bukan solusi jangka panjang, terutama melawan tim seperti Barcelona.

“Anda selalu bisa menang dengan cara ini, tetapi Anda akan kalah di sebagian besar pertandingan. Anda bisa menang karena ada kualitas individu di dalam skuad. Itu terlihat pada gol Vini, tetapi saya merindukan permainan yang terstruktur," tutupnya.

LATEST UPDATE