Minim Turnamen, Petenis Indonesia Sulit Berprestasi

Editor Bolanet | 3 Oktober 2011 19:24
Minim Turnamen, Petenis Indonesia Sulit Berprestasi
- Mantan petenis nasional Wailan Walalangi menilai, pantas jika petenis putra Indonesia masih kesulitan mengukir prestasi pada tingkat internasional karena mereka masih kurang banyak mengikuti turnamen.

Wailan tak ingin menyalahkan petenis karena mereka memang kesulitan menghadapi lawan-lawan yang peringkatnya jauh lebih baik.

"Pantas kalau Christopher Rungkat kalah dan sulit merebut gelar juara di Turnamen Tenis Garuda Indonesia baru-baru ini. Lawannya di perempat final Harri Heliovaara itu punya ranking 252, sedangkan Christo masih 446 dunia," ujar Wailan Walalangi di Jakarta, Senin (3/10).

Wailan menilai, petenis putri malah justru memiliki kesempatan lebih banyak dibanding putra dalam melakukan tour pertandingan sehingga permainan Ayu Fani Damayanti lebih sarat teknik sehingga ia mampu mencapai semifinal.

Sebagaimana diketahui, empat gelar juara pada Turnamen Tenis Garuda Indonesia 2011 future putra dan sirkuit wanita yang berlangsung di Jakarta seluruhnya "terbang" ke tangan para petenis asing.

Heliovaara asal Finlandia yang menempati unggulan pertama tampil juara, sedangkan di tunggal putri petenis Belgia Tamaryn Hendler yang menempati unggulan keempat menjadi juara setelah di final menundukkan Chanel Simmonds dari Afrika Selatan.

Di kancah tenis dunia, Hendler memiliki peringkat 274, Simmonds 250, sedangkan Ayu Fani Damayanti 286 dunia.

Sebelum menggapai gelar juara, di semifinal Hendler yang baru berusia 19 tahun secara prestisius menumbangkan unggulan pertama Iryna Bremond (Perancis) yang berperingkat 112 dunia.

Wailan berharap, PB Pelti agar lebih memperhatikan tatanan pembinaan petenis nasional dengan lebih banyak mengirimkan mereka ke turnamen internasional. Untuk turnamen di dalam negeri, seharusnya tertutup bagi mereka.

"Turnamen dalam negeri seperti Piala Gubernur seharusnya tertutup bagi petenis berlevel nasional untuk memberikan kesempatan kepada daerah mengembangkan pembinaan dan memunculkan bibit-bibit baru. Jika PB Pelti tak mampu memperbanyak turnamen internasional, maka petenis yang harus lebih sering dikirimkan ke luar negeri," terangnya. (ant/zul)

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT