PB Pelti: Tenis di Sumut Sudah Mati Suri

Editor Bolanet | 22 Juli 2011 17:05
PB Pelti: Tenis di Sumut Sudah Mati Suri
Tenis (Ilustrasi)
- Tenis di Sumatera Utara dinilai sudah terlalu lama tertidur, akibatnya dalam beberapa tahun terakhir nyaris tidak pernah lahir petenis-petenis nasional dari daerah itu.

Wakil Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (PP Pelti) August Ferry Raturandang di Medan, Jumat mengatakan, minimnya petenis kelas nasional yang lahir di sumut juga tidak terlepas dari sepinya turnamen yang digelar.

Berbeda halnya dengan di Jawa yang hampir rata-rata setiap bulan ada turnamen. Tidak heran juga kalau ternyata banyak bibit-bibit petenis luar Jawa yang hijrah ke Jawa termasuk juga dari Sumatera Utara.

"Ini tentunya tantangan tersendiri bagi pengurus baru bagaimana agar dunia tenis di Sumut dapat kembali bangkit," katanya disela berlangsungnya turnamen tenis remaja nasional "Sumut Bangkit" di kompleks Stadion Tenis Kebun Bunga Medan, 22-24 Juli 2001.

Turnamen yang digelar sebagai salah satu gebrakan Pengprov Pelti Sumut periode 2011-2016 yang diketuai Indra Alamasyah tersebut diikuti sebanyak 79 petenis junior dari Sumbar, Aceh, Kepri, Riau dan Sumut.

Turnamen yang juga merupakan turnamen yang diakui Pelti (TDP) tersebut mempertandingkan lima kelas yakni kelompok umur 10 tahun, 12, 14,16 dan 18 tahun.

Ia mengatakan dengan digelarnya turnamen remaja tersebut diharapkan akan muncul bibit-bibit petenis masa depan dari Sumut. Karena melalui turnamen-turnamen yang digelar, minat kalangan muda diharapkan akan semakin terpancing untuk terjun di dunia tenis.

Apalagi memang Pengprov Pelti Sumut memiliki satu komplek lapangan tenis yang jumlahnya cukup memadai jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia, baik yang ada di Komplek Stadion kebun Bunga maupun yang ada di areal perkantoran.

"Kejuaraan ini merupakan momen yang sangat tepat bagi Pelti Sumut untuk menggairahkan kembali dunia tenis di daerah ini. Tema turnamen ini adalah "Sumut Bangkit", maka tema itu harus benar-benar diwujudkan jangan hanya jadi sekedar wacana," katanya.

Menurut dia, hal lain yang perlu juga mendapat perhatian bagi pengurus adalah peningkatan kualitas pelatih dan memunculkan pelatih-pelatih baru melalui penataran kepelatihan.

"Artinya selain pembinaan atlet terutama atlet usia dini, regenerasi dan kualitas pelatih juga harus menjadi fokus pengurus yang sekarang ini. Intinya adalah komitmen semua pengurus, kalau semua dikerjakan bersama-sama tidak akan ada yang mustahil," katanya. (ant/mac)

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT