Schiavone Masih Bertahan di Prancis Terbuka

Editor Bolanet | 30 Mei 2011 14:15
Schiavone Masih Bertahan di Prancis Terbuka
Francesca Schiavone (c) AP
- "Skandal percintaan" antara Francesca Schiavone dengan Roland Garros berlanjut pada Minggu (29/5) saat ia berjuang keras untuk mengalahkan Jelena Jankovic 6-3, 2-6, 6-4 untuk mencapai perempat final.

Itu adalah kemenangan ke-11 beruntun di Paris bagi petenis asal Italia tersebut menyusul keberhasilannya meraih juara tahun lalu dan selanjutnya ia akan menghadapi petenis Rusia Anastasia Pavlyuchenkova, yang pada usia 19 tahun, lebih muda 11 tahun dari dia.

Juara dunia junior putri 2006 dan unggulan 14 tersebut mengalahkan rekan senegaranya yang lebih berpengalaman sekaligus unggulan ketiga Vera Zvonareva 7-6 (7/4), 2-6, 6-2.

Petenis lain yang juga lolos ke babak delapan besar adalah Marion Bartoli yang menjadi putri Prancis pertama yang mencapai perempat final di Paris sejak Mary Pierce menjadi "runner-up" pada 2005 ketika Gisela Dulko tidak melanjutkan pertandingan pada kedudukan 7-5, 1-0 akibat cedera pada paha kirinya.

Ia selanjutnya akan menghadapi juara 2009 Svetlana Kuznetsova dari Rusia yang mengalahkan Daniela Hantuchova dari Slovakia 6-7 (6/8), 6-3, 6-2.

Karena dua unggulan teratas, Caroline Wozniacki dan Kim Clijsters sudah tersingkir dari turnamen tersebut, pemain peringkat tertinggi yang masih tersisa adalah unggulan keempat Victoria Azarenka dari Belarusia dan Schiavone.

Ini adalah kali pertama dalam era Terbuka (sejak 1968) bahwa tidak seorang pun dari tiga unggulan teratas mencapai perempat final di Roland Garros.

"Jelas ini menarik, tetapi pada tenis putri sekarang sangat terbuka karena banyak pemain bermain bagus," kata Schiavone.

Petenis asal Milan mantan juara Piala Fed itu menggunakan semua kemampuannya di atas lapangan tanah liat untuk mengatasi mantan peringkat satu dunia Jankovic, yang mempunyai lebih banyak tenaga untuk melakukan pukulan mendalam pada servisnya.

Menggunakan banyak putaran dan taktik posisi, Schiavone melaju dengan set pertama, tetapi petenis Serbia itu mendominasi pada set kedua.

Momen kunci pada set penentuan terjadi, setelah saling mematahkan servis pada awal set, pada game kesembilan ketika skor imbang 4-4.

Schiavone melanjutkan serangan di depan net untuk meraih "break point" yang menguntungkan dia ketika Jankovic yang berada di bawah tekanan melakukan pukulan "backhand" yang terlalu panjang.

Ia kemudian melakukan servis untuk menutup pertandingan dan memperpanjang laju tak terkalahkan di Roland Garros, merunduk untuk mencium lapangan tanah merah tersebut seperti yang ia lakukan setahun lalu ketika akhirnya ia memenangi gelar Grand Slam pada usia 29 tahun.

Bagi petenis remaja Rusia Pavlyuchenkova, kemenangan atas Zvonareva itu merupakan terobosan besar karena itu akan menjadi penampilan pertamanya pada perempat final Grand Slam.

"Ini perempat final Grand Slam pertama saya dan ini sangat berarti bagi saya terutama mengalahkan Vera. Saya tahu ini akan sulit. Ia sangat berpengalaman dan berjuang sampai akhir," kata Pavlyunchenkova.

"Mimpi saya adalah menang di Roland Garros setidaknya sekali." Pavlyuchenkova, pemain putri termuda yang tersisa, mematahkan servis pada awal set penentuan melawan rekan senegaranya yang lebih berpengalaman.

Tetapi alih-alih susah payah, ia menghasilkan tenis terbaiknya dalam pertandingan tersebut untuk menyamakan kedudukan dan setelah memenangi maraton pada game kelima, ia melaju untuk meraih kemenangan yang mengesankan.

"Ia memainkan pertandingan besar dan sangat konsisten. Ia muda dan mempunyai potensi besar untuk ke depan," kata Zvonareva mengenai lawannya.

Pertandingan Kuznetsova-Hantuchova dimulai terlambat di Lapangan 1 dan, setelah set pertama yang ketat, petenis Slovakia lah, yang menyisihkan unggulan teratas Caroline Wozniacki pada putaran sebelumnya, yang menyerang lebih dulu.

Ia bangkit dari ketertinggalan 4-6 dengan empat poin beruntun untuk memenangi tiebreak set pertama 8-6.

Kuznetsova mendominasi set kedua untuk menyamakan kedudukan, dan saat cahaya meredup ia merebut set penentuan untuk mempertahankan harapannya meraih gelar Grand Slam ketiga tetap hidup pada usia 25 tahun. (ant/lex)

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT