FOLLOW US:


Meresapi Kehebatan Cruyff Turn Lewat Kesaksian Korban Pertamanya

21-03-2018 12:19
Meresapi Kehebatan Cruyff Turn Lewat Kesaksian Korban Pertamanya
Johan Cruyff © ist

Bola.net - Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, Belanda datang dengan skuat yang penuh talenta. Di tangan pelatih Rinus Michels dengan filosofi Total Football miliknya, Oranje jadi tim yang menakutkan.

Di pusat permainan mereka, ada si jenius pemenang Ballon d'Or Johan Cruyyf dengan nomor ikonik 14 dan ban kapten di lengannya.

Salah satu momen paling berkesan di turnamen ini tercipta dalam laga fase grup antara Belanda melawan Swedia. Dalam laga di Westfalenstadion ini, legenda Ajax dan Barcelona itu untuk pertama kalinya menunjukkan kepada dunia sebuah gerakan yang kemudian menjadi signature move-nya.

Lahirlah trik hebat yang dikenal dengan sebutan Cruyff Turn, yang di kemudian hari ditiru oleh banyak pesepakbola di seluruh dunia.

Cruyff Turn yang autentik itu tentu saja memakan korban. Orang yang mendapatkan 'kehormatan' menjadi korban pertamanya adalah Jan Olsson, bek Swedia yang terus mengingat momen ajaib tersebut hingga berpuluh-puluh tahun kemudian.

"Saya tak mengerti bagaimana dia melakukannya. Itu adalah rangkaian gerakan yang fantastis."


Westfalenstadion, Dortmund, 19 Juni 1974. Di tempat ini, hari itu, Cruyff Turn dilahirkan.

Menit 23, Cruyff (27 tahun) menguasai bola di sektor kiri serangan Belanda. Olsson (32 tahun) menempelnya dengan ketat, mencoba mencegah bintang Barcelona itu masuk ke dalam kotak penalti atau mengirim operan berbahaya ke jantung pertahanan.

Posisi Cruyff saat itu kurang menguntungkan. Menghadap ke wilayahnya sendiri, Cruyff melindungi bola dari Olsson. Namun hanya dalam hitungan detik, dengan sebuah feint dan putaran 180 derajat, Cruyff mengecoh dan membuat penjaganya itu mati langkah.

Cruyff lalu leluasa menusuk ke kotak penalti dan melepas crossing, yang sayangnya gagal dimaksimalkan jadi gol oleh Belanda. Laga tersebut berkesudahan imbang 0-0, tapi apa yang dilakukan Cruyff pada Olsson menjadi salah satu momen paling ikonik sepanjang sejarah sepakbola.


Pagi hari 24 Maret 2016, di sebuah klinik di Barcelona, Cruyff meninggal dunia di usia 68. Dia meninggal akibat kanker paru-paru. Tribute pun berdatangan dari seluruh penjuru dunia.

Salah satunya adalah dari Olsson. Di hari kematian Cruyff itu, Olsson diminta wawancara oleh The Guardian. Dia pun mengenang momen dari 42 tahun silam, bagaimana rasanya menjadi korban pertama Cruyff Turn ketika mereka berhadapan di Westfalenstadion.

"Setelah pertandingan itu, saya dan rekan-rekan setim saling bertukar pandangan. Mereka lalu tertawa, dan saya juga tertawa," kenang Olsson.

"Saya tertawa waktu itu, dan saya juga tertawa sekarang. Itu sungguh menggelikan."

"Dia pemain kelas dunia. Saya melakukan yang terbaik, tapi saya bukan pemain kelas dunia. Para pemain di tim kami, mereka semua tertawa. Kami tertawa di ruang ganti, karena semua baru saja menyaksikan pemain yang benar-benar hebat. Apa lagi yang bisa kami lakukan?"

Seiring kabar meninggalnya Cruyff waktu itu, media sosial dibanjiri video-video yang menunjukkan kehebatannya. Yang paling banyak tentu saja Cruyff Turn yang dilakukannya di Piala Dunia 1974.



"Saya tak mengerti bagaimana dia melakukannya," lanjut Olsson. "Itu adalah rangkaian gerakan yang fantastis."

"Saya pikir saya akan bisa merebut bola darinya. Saya tetap bisa mengerti. Sekarang, setiap kali melihat video itu, saya pun masih merasa kalau saya akan bisa merebut bola."

"Ketika dia terlihat akan menendang, saya yakin saya bisa mengambilnya, tapi dia mengejutkan saya. Saya suka segalanya dari momen ini."

Laga berkesudahan imbang tanpa gol. Itu adalah hasil yang memuaskan bagi Swedia, yang akhirnya finis peringkat dua di bawah Belanda, sebelum tersingkir di putaran berikutnya. Belanda sendiri kemudian melaju sampai final.

"Setelah peluit panjang, saya berterima kasih kepadanya untuk pertandingan itu dan mengucapkan selamat. Meski 0-0, ucapan selamat itu sangatlah pantas."

Itu adalah yang pertama dari empat pertemuan Olsson dengan Cruyff. Mereka bertemu lagi ketika Belanda menghajar Swedia 5-1 di Stockholm pada 1974 dan Cruyff mencetak gol pembuka. Dua pertemuan lainnya adalah di level klub, ketika Olsson memperkuat Atvidabergs melawan Barcelona di ajang European Cup.

"Setelah yang pertama itu, setiap kali dia menguasai bola, saya selalu membatin: 'tolong, jangan lakukan itu lagi'," kata Olsson.


"Saya rasa waktu itu saya tahu kalau momen tersebut akan menjadi sebuah momen yang terkenal. Setelah itu, orang-orang meminta pada saya: 'Lakukan denganku, gerakan dengan Johan Cruyff itu.' Banyak yang bilang begitu dan saya melakukannya, karena saya sangat bangga bisa jadi bagian dari momen itu."

"Orang tua saya bahkan ingat rangkaian gerakan itu. Saya bermain sepakbola profesional selama 18 tahun dan tak pernah mengalami hal seperti itu."

Tak ada memorabilia yang bisa disimpan oleh Olsson dari laga tersebut, baik foto maupun seragam Cruyy. Namun dia tak menyesal.

"Saya tak punya foto atau apapun. Saya tak menginginkannya."

"Saya mengingat semuanya di dalam hati. Semua dari pertandingan itu tersimpan dalam ingatan dan hati saya. Saya punya memorinya."

"Itu adalah momen yang saya ingat setiap hari. Setiap kali saya berpikir tentang sepakbola, saya selalu berpikir tentang Johan Cruyff."

"Saya merasa sangat terhormat pernah bertemu dengannya - seorang pemain, pelatih dan pribadi yang luar biasa. Saya rasa di punya segalanya."


Di Piala Dunia waktu itu, Belanda lolos sampai final. Di partai puncak, Cruyff dan kawan-kawan berhadapan dengan Jerman Barat.

Belanda dengan Total Football dan Cruyff sebagai konduktornya melawan tuan rumah yang dikomandani Franz Beckenbauer. Hanya dua menit laga di Olympiastadion, Munchen, berjalan, Belanda sudah unggul lewat penalti Johan Neeskens. Penalti itu diberikan setelah Cruyff dijatuhkan oleh Uli Hoeness di kotak terlarang.

Saat itu, para pemain Jerman bahkan belum sekalipun menyentuh bola.

Namun Jerman bangkit dan membalikkan keadaan lewat penalti Paul Breitner menit 25 dan gol kemenangan Gerd Muller di menit 43. Belanda 1974 pun menjadi salah satu tim terhebat yang gagal menjuarai Piala Dunia.

Meski gagal jadi yang terbaik, tapi Belanda telah membuat turnamen ini sangat menarik. Yang paling berkesan tentu saja aksi Cruyff di laga melawan Swedia.

Cruyf Turn lahir ke dunia, dan tetap abadi hingga sekarang. (bola/gia)