FOLLOW US:


Pangeran Marchisio, Sang Pemimpin di Balik Bayangan

05-01-2016 14:59
Pangeran Marchisio, Sang Pemimpin di Balik Bayangan
© AFP

Bola.net - Claudio Marchisio lahir, tumbuh dan besar di Turin. Menimba ilmu di akademi Juventus, lalu naik ke tim utama, gelandang Italia itu selalu setia pada panji kebesaran hitam-putih Bianconeri. Salah satu idola para Juventini ini menyandang julukan Il Principino - Si Pangeran Kecil.

Marcello Lippi, pelatih yang mengatarkan Italia juara Piala Dunia, pernah berkata tentang Andrea Pirlo - yang musim panas kemarin memutuskan hengkang dari Juventus - bahwa dia adalah "seorang pemimpin di balik bayangan yang sanggup menciptakan perbedaan." Penilaian yang sama bisa diberikan untuk Marchisio.

Sama seperti Pirlo, Marchisio, yang sekarang berusia 29, juga sosok teladan berkat kedisiplinan dan ketegarannya. Marchisio juga menempatkan kepentingan tim di atas kepentingan pribadi.

Selama bertahun-tahun, berbagai godaan dari Premier League tak pernah berhasil membuat Marchisio berpindah ke lain hati. Marchisio selalu setia pada Bianconeri, yang seragamnya sudah dia pakai sejak masih kecil.



Pirlo adalah maestro di lini tengah Juventus selama periode 2011-2015. Setelah Pirlo hengkang, Juventus gagal mencari pengganti yang sepadan. Pelatih Massimiliano Allegri pun membuat Marchisio bermain di luar posisi aslinya.

Marchisio diplot sebagai regista, peran pengatur tempo dan pembangun serangan di depan lini pertahanan yang selama ini merupakan hak ekslusif seorang Pirlo. Tidak ada komplain sedikit pun dari Marchisio. Meski harus beradaptasi dengan posisi asing ini, dia justru seperti tertantang.

Awalnya, Hernanes, yang direkrut dari sang rival Inter Milan, diproyeksikan untuk memainkan peran Pirlo. Namun, gelandang Brasil itu gagal memenuhi harapan Nyonya Tua. Mario Lemina pun terlihat masih mentah untuk tugas tersebut, jadi kepada Marchisio lah tanggung jawab itu dilimpahkan.

Marchisio mungkin tak memiliki gaya permainan elegan seperti Pirlo, tapi dia bisa menampilkan permainan yang sama efektifnya. Kemampuan Marchisio dalam mengatur permainan dengan operan-operan pendek nan akurat membuat Juventus mendapatkan tempo permainan yang sangat mereka butuhkan.




Dengan begini, berarti keunggulan Marchisio sebagai box-to-box midfielder terpaksa ditekan, karena dia harus lebih disiplin dalam memainkan peran sebagai seorang regista. Kebiasaan Marchisio naik sampai kotak penalti lawan mulai tidak terlihat lagi. Jadi, tidak heran jika dia belum mencetak satu gol pun musim ini.

Mungkin itu sebabnya kenapa Juventus gencar berburu regista baru di bursa Januari. Dengan begitu, Allegri bisa mengembalikan Marchisio ke posisi aslinya. Ever Banega milik Sevilla dan Isco yang berseragam Real Madrid disebut-sebut sebagai calon rekrutan potensial.

Marchisio sempat dibelenggu cedera di awal musim, tapi dia sudah berhasil melewatinya. Kembalinya Marchisio pun bersamaan dengan kebangkitan Juventus. Dalam 16 laga di mana Marchisio jadi starter musim ini, Juventus membukukan 11 kemenangan, empat hasil imbang dan cuma sekali kalah - melawan Sevilla di Liga Champions.

Bintang anyar Paulo Dybala mungkin menyita perhatian dengan gol-gol yang diciptakannya, sedangkan Paul Pogba mendapatkan sorotan berkat nomor keramat yang diwarisinya. Namun, meski jarang terekspos, Marchisio tak perlu diragukan lagi adalah bagian integral dalam permainan Nyonya Tua.

Sumber: La Gazzetta dello Sport. (gaz/gia)