FOLLOW US:


Tahun 2017 Yang Penuh Drama, Tawa dan Air Mata di Serie A

03-01-2018 15:19
Tahun 2017 Yang Penuh Drama, Tawa dan Air Mata di Serie A
Kaleidoskop Serie A 2017 © ist

Bola.net - Tahun 2017, terutama periode Januari hingga akhir musim 2016/17, merupakan periode yang penuh dengan momen tak terlupakan di Serie A Italia. Ada drama, tawa, juga air mata.

Ada rekor yang diciptakan oleh Juventus untuk menegaskan status sebagai raja di kancah persepakbolaan Italia. Ada perjuangan heroik Crotone untuk bertahan di kasta utama. Ada pula perpisahan mengharukan Francesco Totti, salah satu pesepakbola terbaik yang pernah dimiliki Italia, yang menutup tirai kariernya sebagai one-club-man di AS Roma.

Berikut kilas baliknya.


SEJARAH LA VECCHIA SIGNORA
Juventus memang kembali menelan pil pahit di pentas Eropa setelah ditekuk Real Madrid di final Liga Champions. Namun di pentas domestik, La Vecchia Signora masih tak terhadang.

Pada 17 Mei, Juventus meraih titel Coppa Italia mereka yang ke-12 usai menekuk Lazio 2-0 di final. Juventus pun menjadi tim pertama yang sanggup menjuarai kompetisi ini tiga edisi secara beruntun.

Empat hari berselang, Juventus mengunci gelar juara Serie A. Sejarah baru pun tercipta, di mana mereka menjadi tim pertama yang mampu menyabet Scudetto enam musim berturut-turut.


REKOR BUFFON
Bagi kiper dan kapten Juventus Gianluigi Buffon, Scudetto 2016/17 adalah Scudetto ke-8 yang pernah diraihnya. Dia pun menjadi satu dari empat peraih Scudetto terbanyak dalam sejarah.

Scudetto terbanyak (8):
  • Virginio Rosetta (2 dengan Pro Vercelli, 6 dengan Juventus)
  • Giovanni Ferrari (5 dengan Juventus, 2 dengan Inter Milan, 1 dengan Bologna)
  • Giuseppe Furino (semua dengan Juventus)
  • Gianluigi Buffon (semua dengan Juventus).


CROTONE YANG PANTANG MENYERAH
Hingga giornata 29, Crotone hanya mampu mengemas tiga kemenangan. Ancaman degradasi pun membayang jelas di depan mata.

Namun I Pitagorici menunjukkan semangat pantang menyerah yang luar biasa.

Di sembilan pekan pemungkas, anak-anak asuh Davide Nicola meraup 20 poin dari enam kemenangan atas Chievo, Inter Milan, Sampdoria, Pescara, Udinese dan Lazio. Mereka imbang lawan Torino dan AC Milan, serta hanya sekali kalah melawan Juventus.



Crotone finis dengan 34 poin, unggul dua poin atas Empoli yang berada di batas zona merah.


ATALANTA KE EROPA
Musim 2016/17 adalah musim terbaik dalam sejarah Atalanta. Di bawah tangan dingin pelatih Gian Piero Gasperini, La Dea finis peringkat empat dan lolos ke Liga Europa.

Dengan pemain-pemain muda semacam  Mattia Caldara, Andrea Conti, hingga Franck Kessie, dan dipimpin kapten Alejandro Gomez, Atalanta kembali ke pentas Eropa untuk pertama kalinya dalam 26 tahun.

Conti dan Kessie kemudian menyeberang ke AC Milan di musim panas, tapi itu ternyata tak terlalu mengurangi kekuatan Atalanta.


INTER TIDAK
Awalnya memang sudah tidak meyakinkan. Setelah Suning mengakuisisi sebagian besar saham klub, pelatih Roberto Mancini cabut hanya beberapa hari sebelum musim kompetisi dimulai. Frank de Boer diangkat sebagai pengganti, tapi tidak bertahan lama.

Berikutnya giliran Stefano Pioli. Nasibnya tak jauh beda, dia didepak di tengah jalan. Inter Milan melalui tiga laga pemungkas dengan Stefano Vecchi sebagai caretaker.

Rekrutan-rekrutan top semacam Antonio Candreva, Ever Banega, Joao Mario, Gabriel Barbosa, Cristian Ansaldi hingga Roberto Gagliardini pun tak cukup bagi Inter untuk masuk zona Eropa. Inter finis peringkat tujuh, di bawah Juventus, AS Roma, Napoli, Atalanta, Lazio dan AC Milan.


LESATAN EDIN DZEKO DAN DRIES MERTENS
Bagi Edin Dzeko, musim 2016/17 adalah musim keduanya di Italia bersama AS Roma. Setelah musim perdana yang mengecewakan, di mana Dzeko hanya mencetak delapan gol Serie A, striker Bosnia itu menunjukkan lesatan yang luar biasa.

Dzeko finis sebagai peraih Capocannoniere dengan torehan 29 golnya. Dia unggul satu gol atas Dries Mertens, yang mencetak 28 gol untuk Napoli.

Sama seperti Dzeko, pencapaian Mertens juga terbilang mengagumkan.

Ini tak lepas dari kejelian pelatih Maurizio Sarri dalam melihat potensi yang dimiliki oleh sang forward Belgia. Cederanya Arkadiusz Milik memaksa Sarri mencari strategi alternatif. Mertens pun dipasang di posisi centre-forward. Butuh beberapa laga untuk beradaptasi, tapi setelah itu dia tak terhentikan.

Dengan dukungan rekan-rekan seperti Lorenzo Insigne, Jose Callejon hingga kapten Marek Hamsik, Mertens menjelma jadi salah satu pemain yang ditakuti di Serie A. Dia jugalah yang membuat Napoli lupa akan Gonzalo Higuain.


AIR MATA TOTTI
AS Roma menang 3-2 menjamu Genoa di Stadio Olimpico pada giornata pemungkas musim 2016/17. Laga 28 Mei 2017 itu juga menjadi laga terakhir sang kapten Francesco Totti dengan seragam Roma.

Totti pensiun setelah 619 pertandingan, 47098 menit selama 25 musim dengan 250 gol Serie A atas namanya. Dia melakukannya hanya dengan satu klub, Roma.

Perpisahannya begitu emosional. Dari semua orang yang hadir di Olimpico hari itu, hampir tak ada satupun yang sanggup menahan air mata ketika legenda hidup dan ikon Giallorossi tersebut mengucap selamat tinggal.


Saat Totti menangis, semua ikut menangis. (bola/gia)