Badai Covid-19 di BRI Liga 1 2021/2022, Ini Kiat Arema FC

Serafin Unus Pasi | 2 Februari 2022 20:07
Badai Covid-19 di BRI Liga 1 2021/2022, Ini Kiat Arema FC
Johan Alfarizie (tengah) merayakan golnya di laga pekan ke-12 BRI Liga 1 2021/2022 antara Persik Kediri vs Arema FC di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jumat (19/11/2021). (c) Bola.com/Bagaskara Lazuardi

Bola.net - Arema FC angkat bicara soal meningkatnya kasus penyebaran Covid-19 di tim-tim peserta BRI Liga 1 2021/2022. Mereka mengaku memiliki sejumlah cara untuk meminimalisir risiko paparan tersebut di tim mereka.

Dokter tim Arema FC, dr. Nanang Tri Wahyudi Sp.KO, menyebut bahwa untuk meminimalisir risiko paparan dilakukan dengan meminimalisir interaksi dengan pihak luar.

"Untuk pemain, misalnya, kita sediakan satu kamar untuk satu pemain. Selain itu, kami melarang adanya aktivitas di luar tanpa masker, dan meminta anggota tim menghindari lokasi kerumunan khususnya ruangan tertutup," papar Nanang, kepada Bola.net, Rabu (02/02).

Selain itu, menurutnya, Arema fC juga menggencarkan tes PCR. Tes ini dilakukan terhadap pemain atau ofisial yang bergejala dan berisiko tinggi.

"Seperti kemarin Dedik dan Figo, karena baru balik dari timnas, kami karantina dulu minimal 3 hari dan tes sebelum gabung tim," tuturnya.

Sebelumnya gelaran BRI Liga 1 2021/2022 terganggu dengan adanya badai Covid-19 yang melanda. Ada sejumlah laga ditunda akibat tim yang hendak bertanding kekurangan pemain karena terpapar Covid-19.

Simak artikel selengkapnya di bawah ini.

1 dari 2 halaman

Bukan Salah Bali

Lebih lanjut, Nanang menyebut bahwa badai Covid-19 di tim-tim peserta Liga 1 bukan dampak dari lokasi seri ini yang dihelat di Bali. Menurutnya, badai ini karena memang tren paparan Covid-19 secara global meningkat.

"Sistem kompetisi yang bubble to bubble ini rawan menimbulkan cluster. Delapan belas tim dikumpulkan di satu lokasi selama berbulan-bulan. Semua tidur di hotel yang sama. Risiko paparan jadi sangat tinggi," papar Nanang.

"Lebih aman jika sistem home dan away dengan screening dan prokes ketat sehingga tim hanya bertemu di lapangan. Sistem bubble hanya cocok untuk turnamnen singkat dengan partisipan yang tidak banyak," tandasnya.

Berita Terkait

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR