Kerusuhan Suporter Terus Berulang, Sanksi Komdis PSSI Tak Efektif Dan Bikin Jera?

Kerusuhan Suporter Terus Berulang, Sanksi Komdis PSSI Tak Efektif Dan Bikin Jera?
Duel Persija Jakarta vs Persib Bandung di pekan ke-32 BRI Super League 2025/2026, Minggu (10/5/2026) (c) Dok. Persib Bandung

Bola.net - Sepak bola Indonesia kembali menghadapi persoalan serius terkait kerusuhan suporter. Hukuman berat yang dijatuhkan Komdis PSSI ternyata belum mampu menghentikan berbagai insiden di stadion.

Denda besar, larangan bermain tanpa penonton, hingga hukuman satu musim penuh sudah diterapkan kepada sejumlah klub. Namun, pelanggaran suporter masih terus muncul di berbagai pertandingan penting.

Kasus terbaru terjadi pada laga PSM Makassar melawan Persib Bandung ketika suporter masuk ke lapangan dan membuat situasi memanas. Sebelumnya, Persib juga pernah terkena hukuman AFC berupa denda mencapai Rp3,5 miliar akibat aksi serupa di kompetisi Asia.

Kondisi ini membuat efektivitas sistem hukuman kembali dipertanyakan. Banyak pihak mulai menilai akar persoalan suporter belum benar-benar diselesaikan secara menyeluruh.

Hukuman Berat Belum Menghentikan Kerusuhan

Hukuman Berat Belum Menghentikan Kerusuhan

Starting XI Persipura Jayapura pada pertandingan Pegadaian Championship 2025/2026 (c) Dok. Persipura

Persela Lamongan menjadi salah satu klub yang pernah merasakan dampak besar hukuman tanpa penonton selama satu musim penuh. Situasi tersebut bahkan disebut memengaruhi kondisi finansial klub hingga investor memilih mundur.

Persipura Jayapura kini menghadapi masalah serupa setelah mendapat hukuman akibat kerusuhan suporter. Klub asal Papua itu kehilangan pemasukan tiket dan harus menanggung biaya operasional lebih besar saat bermain tanpa penonton.

Insiden suporter juga kembali terjadi dalam pertandingan PSM Makassar melawan Persib Bandung. Padahal sebelumnya sejumlah klub sudah mendapatkan hukuman berat akibat pelanggaran serupa di kompetisi domestik maupun Asia.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar mengenai dampak nyata hukuman yang diberikan federasi. Sebab, meski sanksi terus diperberat, kerusuhan tetap saja berulang di berbagai daerah.

Ferry Indrasjarief Soroti Sistem dan Regulasi

Ferry Indrasjarief Soroti Sistem dan Regulasi

Persija Jakarta. (c) Bola.net/Fitri Apriani

Ketua Panpel Persija Jakarta, Ferry Indrasjarief, menilai hukuman cepat memang penting untuk mencegah efek domino di pertandingan lain. Namun, ia menyebut masih ada banyak persoalan mendasar yang belum disentuh.

"Sebenarnya kalau ada pelanggaran yang berpotensi menular ke pertandingan lain, hukuman itu memang harus cepat diputuskan dan disosialisasikan supaya suporter lain juga berpikir, ‘Kalau mereka kena, kita juga bisa kena’,” ujar Ferry.

Menurut Ferry, fakta bahwa kerusuhan terus terjadi menunjukkan sistem sepak bola Indonesia belum berjalan ideal. Ia menilai regulasi selama ini terlalu fokus kepada kepentingan kompetisi dan sponsor.

“Tapi kalau ternyata tetap terulang, berarti masih ada yang kurang,” katanya.

Ferry juga menyoroti aturan yang dianggap belum memiliki kejelasan implementasi di lapangan. Salah satunya terkait flare dan pembatasan kreativitas tribun yang selama ini menjadi polemik di kalangan suporter.

“Kalau memang flare dilarang selama 2x45 menit, ya harus jelas aturannya. Misalnya setelah pertandingan selesai diperbolehkan atau bagaimana,” ujarnya.

Edukasi dan Crowd Control Dinilai Masih Lemah

Edukasi dan Crowd Control Dinilai Masih Lemah

Aksi Bobotoh saat memberikan dukungan pada Persib Bandung (c) Dok. Persib

Pengamat sepak bola Haris Pardede atau Bung Harpa menilai hukuman yang ada saat ini belum efektif menghentikan kerusuhan suporter. Menurutnya, kejadian yang terus berulang menjadi bukti nyata bahwa pendekatan sekarang belum berhasil.

“Kalau menjawab apakah efektif atau belum, rasanya sih belum ya. Kenapa? Karena ini terus berulang. Kalau efektif, harusnya kejadian-kejadian seperti ini minimal berkurang,” ujar Bung Harpa.

Bung Harpa menyebut masalah terbesar bukan hanya soal hukuman, tetapi juga lemahnya crowd control dan edukasi suporter. Ia menilai pemeriksaan steward di stadion masih jauh dari maksimal.

“Flare itu sudah berkali-kali dilarang, tapi tetap saja dinyalakan. Artinya crowd controlnya belum benar. Steward yang melakukan pemeriksaan juga belum maksimal,” ujarnya.

Menurut Bung Harpa, kelompok suporter yang terus melakukan pelanggaran juga harus ditangani lebih serius. Ia menilai kelompok seperti itu menjadi sumber masalah yang terus merugikan klub.

“Ketika kelompok seperti ini tidak ditangani serius, akhirnya jadi seperti kanker yang terus hidup dan merusak. Dampaknya klub harus bayar denda miliaran rupiah,” katanya.