
Bola.net - Komisi Disiplin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Komdis PSSI) mengisyaratkan bakal mengeluarkan keputusan terkait sepak bola gajah yang memperkarakan PSS Sleman, Kamis (17/9) mendatang.
Ketua Komdis PSSI, Ahmad Yulianto, menuturkan bahwa hal tersebut sebenarnya tergolong berstatus match setting dan bukan match fixing.
"Ini karena untuk menghindari Borneo FC. Sehingga, bukan match fixing. Ternyata, di sepak bola ada persoalan match setting dan match fixing. Match setting untuk menang dan kalah. Lalu kalau match fixing, berkaitan dengan judi sehingga diatur menangnya, termasuk menit golnya," tuturnya.
Sebelumnya, Komdis PSSI juga telah mendapatkan keterangan dari mantan Manajer PSS, Supardjiono dalam sidang Komdis PSSI yang kembali digelar di Kantor PSSI, Senayan, Kamis (10/9).
Dalam kesempatan tersebut Supardjiono hadir bersama Asisten Pelatih PSS saat terjadinya sepak bola gajah, Edi Broto, dan Panpel laga PSS, Erry Febrianto alias Ableh setelah adanya panggilan ketiga. Dua nama lain, yakni Rumadi dan mantan pengurus PSS, Subardi, tidak hadir.
Supardjiono dan kawan-kawan dipanggil setelah empat mantan pemain PSS, yaitu Hermawan Putra Jati, Satrio Aji, Ridwan Awaludin, dan Moniega Bagus memberikan keterangan kepada Komdis PSSI saat sidang, Selasa (18/8). Supardjiono, yang sebelumnya lolos dari hukuman Komisi Disiplin, disebut-sebut terlibat karena ikut menyuruh mengalah.
Selain itu, bekas pemain PSS juga menjelaskan adanya skenario sebelum menghadap Komdis PSSI, yang saat itu masih dipimpin Hinca Panjaitan. Skenario tersebut dibuat untuk menutupi aktor dan dipersiapkan sebelum berangkat menghadap dan mengikuti sidang Komdis PSSI.
"Sesuai keterangannya, Supardjiono memberi gambaran dan hitung-hitungan kalau bertemu dengan Borneo FC. Ini karena ada catatan dalam beberapa pertandingan Borneo memperoleh 11 penalti. Supardjiono kemudian mempersilakan pelatih kepala dan asistennya mengimplementasikan," ujar Ahmad Yulianto.
"Keterangan ini tak sepenuhnya sama saat dia diperiksa Ketua Komdis sebelumnya, Hinca Panjaitan. Saat sidang dengan Hinca, seakan-akan Ableh, tapi saat pertandingan PSS melawan PSIS, dia tak ada di sana karena berada di Kalimantan Selatan sehingga tidak bisa jadi kambing hitam. Supardjiono kemudian tidak bisa mengelak, begitu juga yang lainnya. Faktanya begitu, anak-anak PSS juga berada di bawah tekanan manajemen," pungkasnya (esa/dzi)
Ketua Komdis PSSI, Ahmad Yulianto, menuturkan bahwa hal tersebut sebenarnya tergolong berstatus match setting dan bukan match fixing.
"Ini karena untuk menghindari Borneo FC. Sehingga, bukan match fixing. Ternyata, di sepak bola ada persoalan match setting dan match fixing. Match setting untuk menang dan kalah. Lalu kalau match fixing, berkaitan dengan judi sehingga diatur menangnya, termasuk menit golnya," tuturnya.
Sebelumnya, Komdis PSSI juga telah mendapatkan keterangan dari mantan Manajer PSS, Supardjiono dalam sidang Komdis PSSI yang kembali digelar di Kantor PSSI, Senayan, Kamis (10/9).
Dalam kesempatan tersebut Supardjiono hadir bersama Asisten Pelatih PSS saat terjadinya sepak bola gajah, Edi Broto, dan Panpel laga PSS, Erry Febrianto alias Ableh setelah adanya panggilan ketiga. Dua nama lain, yakni Rumadi dan mantan pengurus PSS, Subardi, tidak hadir.
Supardjiono dan kawan-kawan dipanggil setelah empat mantan pemain PSS, yaitu Hermawan Putra Jati, Satrio Aji, Ridwan Awaludin, dan Moniega Bagus memberikan keterangan kepada Komdis PSSI saat sidang, Selasa (18/8). Supardjiono, yang sebelumnya lolos dari hukuman Komisi Disiplin, disebut-sebut terlibat karena ikut menyuruh mengalah.
Selain itu, bekas pemain PSS juga menjelaskan adanya skenario sebelum menghadap Komdis PSSI, yang saat itu masih dipimpin Hinca Panjaitan. Skenario tersebut dibuat untuk menutupi aktor dan dipersiapkan sebelum berangkat menghadap dan mengikuti sidang Komdis PSSI.
"Sesuai keterangannya, Supardjiono memberi gambaran dan hitung-hitungan kalau bertemu dengan Borneo FC. Ini karena ada catatan dalam beberapa pertandingan Borneo memperoleh 11 penalti. Supardjiono kemudian mempersilakan pelatih kepala dan asistennya mengimplementasikan," ujar Ahmad Yulianto.
"Keterangan ini tak sepenuhnya sama saat dia diperiksa Ketua Komdis sebelumnya, Hinca Panjaitan. Saat sidang dengan Hinca, seakan-akan Ableh, tapi saat pertandingan PSS melawan PSIS, dia tak ada di sana karena berada di Kalimantan Selatan sehingga tidak bisa jadi kambing hitam. Supardjiono kemudian tidak bisa mengelak, begitu juga yang lainnya. Faktanya begitu, anak-anak PSS juga berada di bawah tekanan manajemen," pungkasnya (esa/dzi)
Advertisement
Berita Terkait
-
Bola Indonesia 27 Oktober 2026 17:30Hasil BRI Super League: Kartu Merah Warnai Kemenangan Borneo FC atas PSS
-
Bola Indonesia 27 Oktober 2026 13:27Link Live Streaming PSS vs Borneo FC di BRI Super League
-
Bola Indonesia 22 Oktober 2026 15:02Link Streaming Persik vs PSS, 22 Oktober 2026
-
Bola Indonesia 21 Oktober 2026 19:12Prediksi BRI Super League: Persik vs PSS Sleman 22 Oktober 2026
LATEST UPDATE
-
Liga Inggris 28 Oktober 2026 15:58Liverpool vs Chelsea, Andoni Iraola Pastikan akan Rotasi Skuad The Reds
-
Liga Inggris 28 Oktober 2026 15:02MU Coret Julian Nagelsmann dari Kandidat Pengganti Michael Carrick
-
Liga Inggris 28 Oktober 2026 14:47Tantang Liverpool, Chelsea Tanpa Sang Bomber Andalan
-
Liga Italia 28 Oktober 2026 14:32Ruben Amorim Siap Tampung Bruno Fernandes di AC Milan
-
Liga Inggris 28 Oktober 2026 12:36Xabi Alonso Tegaskan Bakal Rayakan Gol Chelsea ke Gawang Liverpool
BERITA LAINNYA
-
indonesia 27 Oktober 2026 19:40Prediksi Persib vs Melbourne Victory 28 Oktober 2026
-
indonesia 27 Oktober 2026 19:00Jadwal Siaran Langsung Persib vs Melbourne Victory di ACL Two di RCTI
-
indonesia 27 Oktober 2026 18:39Bernardo Tavares Ingin Persebaya Punya Identitas Bermain Agresif
-
indonesia 27 Oktober 2026 18:30Sisi Versatile Rizky Ridho yang Dioptimalkan Shin Tae-yong
SOROT
-
Liputan6 28 Oktober 2026 13:41Pesan Mensesneg untuk Generasi Muda di Hari Sumpah Pemuda
-
Liputan6 28 Oktober 2026 10:30Menlu Singapura Minta Bertemu Prabowo, Diterima Sore Ini
-
Liputan6 27 Oktober 2026 21:49Pelaku Curanmor Ditangkap usai Bawa Kabur Motor Warga Makan di Warteg
-
Liputan6 27 Oktober 2026 20:20Prabowo Sebut Ekonomi RI Terbesar ke-7 Dunia, Ini Data Lengkap IMF
-
Liputan6 27 Oktober 2026 19:44Sestama BNPB Dicecar KPK Soal Pengadaan Dana Bencana
-
Liputan6 27 Oktober 2026 19:12BRIN Punya 4 Kandidat Vaksin Malaria, Prabowo Minta Riset Dipercepat
MOST VIEWED
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...
















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7767979/original/011455400_1780578714-IMG_3908__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302220/original/068100800_1784536790-Pidato_Prabowo_di_Sidang_Kabinet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383933/original/065244200_1793112698-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_13.09.37__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380240/original/081730400_1792661571-Screenshot_20261022_160052_YouTube.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383849/original/084953800_1793105056-IMG_20261027_173154_121.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383841/original/017191300_1793103340-IMG_0345.jpeg)

