FOLLOW US:


Adu Kekuatan Manchester United 1998/99 vs Liverpool 2019/20, Siapa yang Menang?

28-04-2020 09:00

 | Richard Andreas

Adu Kekuatan Manchester United 1998/99 vs Liverpool 2019/20, Siapa yang Menang?
Sir Alex Ferguson beserta skuad Manchester United merayakan gelar juara Liga Champions 1999. © Manchester Evening News

Bola.net - Setelah mengulas adu kekuatan beberapa tim terbaik, kali ini Bola.net menyajikan perbandingan kekuatan antara Manchester United 1998/99 dengan Liverpool 2019/20. Apa yang akan terjadi andai versi terbaik MU dan Liverpool diduelkan?

Sekitar 21 tahun yang lalu, MU pernah mendobrak sejarah dengan menjadi tim Inggris pertama yang bisa meraih treble winners. Torehan itu istimewa dan akan selalu dikenang sebagai sejarah besar sepak bola Inggris.

Sang rival, Liverpool, nyaris menyamai torehan itu musim 2019/20 ini. Mereka benar-benar tangguh, didukung raih treble, tapi pada akhirnya hanya bisa berjuang merebut trofi Premier League.

Tanpa bermaksud meremehkan tim yang satu atau yang lain, andai kedua tim itu diadu, siapa yang bakal jadi pemenang? Scroll ke bawah ya, Bolaneters!

1 dari 7

Manchester United 1998/99

Manchester United merupakan tim Premier League pertama yang bisa meraih treble Premier League, Liga Champions, dan FA Cup pada musim 1998/99, dan mereka meraihnya dengan luar biasa.

Kala itu, pasukan Sir Alex Ferguson unggul satu poin dari Arsenal di klasemen akhir liga. Keberhasilan MU ini merupakan pukulan bagi Arsenal yang sebenarnya berharap bisa jadi juara beruntun.

Kemudian di FA Cup, MU bisa mengalahkan Liverpool, Chelsea, dan Arsenal dalam perjalanan menuju final. Mereka kemudian memetik kemenangan 2-0 atas Newcastle di laga pemungkas itu.

Kemudian, di panggung Eropa, MU harus menghadapi Barcelona, Bayern Munchen, Inter Milan, dan Juventus dalam perjalanan menuju final. Mereka berhasil mewujudkan salah satu comeback paling bersejarah di Liga Champions saat Sheringham dan Solskjaer mencetak dua gol kemenangan di ujung laga final.

2 dari 7

Liverpool 2019/20

Liverpool musim ini juga sempat didukung mengikuti jejak MU dalam meraih treble, sayangnya harapan itu tidak terwujud. Mimpi The Reds gugur hanya dalam beberapa pekan, mereka tersingkir dari FA Cup dan Liga Champions hanya dalam rentang satu pekan.

The Reds musim ini benar-benar kuat di Premier League, bahkan bisa jadi tim terkuat dalam proses menuju gelar juara. Mereka hanya satu kali imbang dan satu kali kalah dari 29 pertandingan.

Pasukan Jurgen Klopp musim ini nyaris sempurna, tapi kegagalan membagi fokus di beberapa kompetisi berbeda menunjukkan satu kekurangan mereka: kedalaman skuad yang kurang mumpuni.

Di ajang Carabao Cup, Liverpool tersingkir usai dihajar Aston Villa 5-0. Saat itu mereka terpaksa menurunkan tim muda karena tim senior sedang berjuang di kompetisi Piala Dunia Antarklub.

Kemudian mereka disingkirkan Chelsea di FA Cup dan diusir Atletico Madrid dari Liga Champions. Dua kegagalan ini jadi pukulan berat bagi Liverpool, terlebih setelahnya kompetisi dihentikan sementara akibat pandemi virus corona.

3 dari 7

Torehan trofi, siapa lebih baik?

Untuk satu hal ini, MU 98/99 jelas lebih unggul. Mereka menyapu bersih setiap trofi yang tersedia. Pasukan Ole Gunnar Solskjaer berhasil mengungguli Arsenal di liga dan mengalahkan Newcastle di final FA Cup.

Biar begitu, torehan terbaik MU musim itu terletak di Liga Champions. Pertandingan pemungkas kontra Bayern Munchen akan selalu dikenang sebagai salah satu pertandingan terbaik.

Betapa tidak, MU tertinggal 0-1 sejak menit ke-6. Besar kemungkinan mereka akan kalah, sampai akhirnya Sheringham mencetak gol di menit 90+1 dan Solskjaer menggandakannya di menit 90+3 untuk membawa MU menorehkan sejarah sebagai tim Inggris pertama yang meraih treble.

Sementara itu, Liverpool 2019/20 seharusnya bisa menyamai torehan rival abadi mereka itu. Sayangnya, The Reds sepertinya benar-benar fokus ke Premier League, sampai mengabaikan kompetisi-kompetisi lainnya.

Meski begitu, fokus penuh Liverpool itu dapat dipahami, mengingat mereka sudah 30 tahun tidak meraih trofi liga.

4 dari 7

Soal taktik, siapa lebih baik?

Seperti artikel adu kekuatan sebelumnya, membandingkan tim berbeda era tidaklah adil. Sebab itu cara terbaik adalah melihat taktik kedua tim pada konteks masing-masing era.

Di musim 98/99 itu, Sir Alex Ferguson terbilang berani mengombinasikan pemain-pemain senior dengan sederet pemain muda yang minim pengalaman. Keputusan Ferguson ini sempat dikritik keras, bahkan MU sempat diduga tidak akan menjuarai apa pun.

Biar begitu, Ferguson mampu membantah tudingan negatif itu. MU lebih banyak menurunkan formasi 4-4-2 sepanjang musim, tapi Ferguson terbilang berani mengutak-atik taktik. Intinya, susunan pemain MU bakal menyesuaikan lawan yang mereka hadapi.

Kendati demikian, Liverpool 2019/20 ini dapat dikatakan lebih baik. The Red menerapkan taktik yang bisa membuat tim lawan ketakutan bahkan sebelum bertanding.

Gaya bermain pasukan Jurgen Klopp sederhana, tapi benar-benar agresif. Klopp juga bisa mengutak-atik barisan penyerangnya. Hampir semua pemain Liverpool bisa menyumbang gol.

5 dari 7

Komposisi skuad, siapa lebih baik?

Soal komposisi skuad, sepertinya kedua tim seimbang. Skuad MU 98/99 merupakan paduan antara senior 92 dengan pemain-pemain muda. Ferguson bisa menyatukannya dengan sangat baik.

Ada Peter Schmeichel, Jaap Stam, Denis Irwin, Gary Neville, Roy Keane, Paul Scholes, Beckham, Giggs, Blomqvist, Cole, Yorke, Sheringham, dan Solskjaer.

Tim ini begitu sempurna dengan Keane sebagai pemimpin yang menyatukan semuanya dan Solskjaer yang kerap jadi solusi saat situasi buntu.

Liverpool 2019/20 pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Ada Alisson Becker, Van Dijk, Robertson, Trent di lini belakang. Lalu ada James Milner, Henderson, Wijnaldum, Fabinho di lini tengah, dan trio Salah-Mane-Firmino di lini serang.

Kelemahan Liverpool musim ini -- jika boleh disebut kelemahan -- terletak pada lini tengah mereka. Kombinasi gelandang Liverpool tidak cukup kreatif untuk membantu para penyerang.

6 dari 7

Duel pelatih, siapa lebih baik?

Untuk yang satu ini, rasanya Jurgen Klopp sendiri rela mengalah. Dia tahu bahwa Sir Alex Ferguson tetaplah salah satu pelatih terbaik dalam sejarah sepak bola.

Ferguson menangani MU selama 26 tahun. Selama itu dia meraih 38 trodi, termasuk 13 gelar Premier League. Ferguson bisa jadi merupakan pelatih terakhir yang bisa menangani klub sampai puluhan tahun.

Klopp, di sisi lain, baru beberapa tahun menangani The Reds. Sekali lagi, perbandingan beda era tidak adil, butuh beberapa tahun lagi untuk menilai torehan Klopp secara utuh.

Kendati demikian, mudah menyebut trofi Premier League sebagai tolok ukur kesuksesan Klopp di Liverpool. Jika mampu mempersembahkan trofi itu, dia pantas dianggap sebagai pelatih terbaik yang pernah menangani The Reds.

7 dari 7

Kesimpulan

Seperti beberapa ulasan adu kekuatan sebelumnya, (Arsenal vs Liverpool, Barcelona vs Real Madrid, dan AC Milan vs Inter Milan), sebenarnya membandingkan dua tim berbeda era tidaklah adil. Namun, pada kasus ini, sepertinya masuk akal menyebut MU 98/99 lebih baik daripada Liverpool 19/20.

Perbedaan utamanya terletak pada torehan trofi. MU bisa meraih tiga trofi bergengsi sekaligus, sementara Liverpool mungkin hanya bisa menjuarai Premier League.

Biar begitu, Liverpool 19/20 ini akan selalu dikenang sebagai salah satu tim terkuat dalam sejarah sepak bola. Mereka mendefinisikan ulang gaya sepak bola menyerang agresif yang bisa membuat bek lawan kelimpungan.

Sumber: Berbagai sumber