Alarm Bahaya! Chelsea Telan 4 Kekalahan Beruntun, Skuad Mulai Gelisah

Alarm Bahaya! Chelsea Telan 4 Kekalahan Beruntun, Skuad Mulai Gelisah
Skuad Chelsea usai kekalahan melawan Everton di Premier League 2025/2026, Minggu (22/3/2026). (c) AP Photo/Jon Super

Bola.net - Chelsea kembali menghadapi tekanan besar setelah rangkaian hasil buruk dalam beberapa pekan terakhir. Empat kekalahan beruntun membuat situasi di Stamford Bridge mulai dipertanyakan, baik oleh pengamat maupun para pendukung.

Masalahnya bukan hanya soal hasil di lapangan. Komentar pemain kunci, ketegangan di dalam tim, serta rencana protes dari suporter menambah tanda tanya besar terhadap arah proyek klub di bawah kepemilikan Todd Boehly dan Clearlake Capital.

Dengan dua bulan tersisa di musim ini, Chelsea kini berada di persimpangan penting. Harapan tampil di Liga Champions masih terbuka, tetapi tanda-tanda kemunduran mulai terlihat jelas.

Empat Kekalahan Beruntun Memperbesar Kekhawatiran

Empat Kekalahan Beruntun Memperbesar Kekhawatiran

Ekspresi para pemain Chelsea dalam laga versus PSG di 16 besar Liga Champions 2025/2026, Rabu (18/3/2026). (c) AP Photo/Kin Cheung

Chelsea sedang melalui salah satu periode paling sulit sejak perubahan kepemilikan pada Mei 2022. Empat kekalahan beruntun membuat tekanan meningkat di dalam dan luar klub.

Situasi ini mengingatkan pada musim pertama di era baru tersebut, ketika Chelsea finis di posisi ke-12 Liga Inggris dengan hanya mengumpulkan 44 poin, catatan terburuk klub dalam era Premier League.

Dua musim berikutnya sebenarnya menunjukkan kemajuan. Chelsea berhasil finis di posisi keenam dan kemudian keempat di liga, serta meraih dua trofi pada 2025, yakni Piala Dunia Antarklub dan UEFA Conference League.

Meski begitu, musim ini justru memperlihatkan tanda kemunduran. Target minimal untuk lolos ke Liga Champions melalui posisi empat atau lima besar kini mulai terasa sulit.

Optimisme masih ada karena Chelsea hanya terpaut satu poin dari Liverpool di posisi kelima. Selain itu, mereka juga memiliki peluang meraih trofi FA Cup untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, dengan menghadapi Port Vale pada perempat final di Stamford Bridge, 4 April mendatang.

Meski demikian, performa terbaru tidak mendukung. Chelsea hanya meraih satu kemenangan dari enam laga liga terakhir dan hanya mencatat satu clean sheet dalam 15 pertandingan di semua kompetisi.

Persaingan Ketat dan Ancaman Gagal ke Eropa

Persaingan Ketat dan Ancaman Gagal ke Eropa

Pemain Chelsea bersiap melakukan kick off saat melawan Aston Villa, 5 Maret 2026 lalu. (c) AP Photo/Dave Shopland

Posisi Chelsea di klasemen juga semakin rawan. Ada tujuh klub yang berada tepat di belakang mereka dengan selisih yang sangat tipis dan performa yang lebih stabil.

Secara matematis, Chelsea bahkan kini lebih dekat dengan zona degradasi dibandingkan dengan pemuncak klasemen Arsenal. Jarak mereka ke zona merah adalah 19 poin, sementara selisih dengan Arsenal mencapai 22 poin.

Ketika Chelsea bermain imbang 1-1 melawan Arsenal pada akhir November lalu, selisih tersebut hanya enam poin.

Musim ini juga dipastikan menjadi musim keempat berturut-turut Chelsea gagal menembus angka 70 poin di Premier League. Pada era Roman Abramovich, situasi seperti itu hanya terjadi empat kali dalam rentang 19 tahun kepemilikannya.

Bahkan, Chelsea kini memiliki lima poin lebih sedikit dibandingkan pada tahap yang sama musim lalu. Jika tren ini berlanjut, mereka berpotensi mencatat salah satu total poin terendah sejak pergantian kepemilikan klub.

Beban Jadwal dan Performa Fisik Dipertanyakan

Beban Jadwal dan Performa Fisik Dipertanyakan

Liam Rosenior memberi instruksi pada Reece James dalam laga PSG vs Chelsea di leg pertama 16 besar Liga Champions 2025/2026, Kamis (12/3/2026). (c) AP Photo/Michel Euler

Pelatih kepala Liam Rosenior beberapa kali menyinggung padatnya jadwal pertandingan yang harus dilalui tim dalam 18 bulan terakhir.

Partisipasi Chelsea di Piala Dunia Antarklub musim panas lalu memang membawa keuntungan besar. Klub memperoleh sekitar 84 juta pounds dari turnamen tersebut sekaligus menambah prestise internasional.

Sayangnya, tujuh pertandingan tambahan pada Juni dan Juli tahun lalu juga membuat beban fisik pemain meningkat.

Meski demikian, alasan tersebut dianggap tidak sepenuhnya menjelaskan performa Chelsea saat ini. Klub telah menginvestasikan dana besar untuk membangun skuad yang sangat besar.

Buktinya, Chelsea telah melakukan 99 perubahan susunan pemain inti sepanjang musim ini, jumlah terbanyak di antara semua klub Premier League.

Strategi rotasi tersebut awalnya dirancang untuk menjaga kebugaran pemain menjelang fase akhir musim. Namun kenyataannya, Chelsea justru terlihat kehabisan energi ketika kompetisi memasuki periode krusial.

Dalam seluruh 31 pertandingan Premier League musim ini, Chelsea selalu kalah dalam statistik jarak lari dibanding lawan mereka.

Contoh terbaru terjadi saat kalah 0-3 dari Everton. Tim tuan rumah mencatat jarak tempuh 111,85 kilometer, sedangkan Chelsea hanya mencapai 105,79 kilometer.

Ketegangan di Dalam Tim Mulai Terlihat

Ketegangan di Dalam Tim Mulai Terlihat

Pelatih Chelsea, Liam Rosenior memberikan instruksi saat melawan PSG di leg I babak 16 besar Liga Champions, 12 Maret 2026. (c) AP Photo/Michel Euler

Selain masalah performa, tanda-tanda ketegangan di dalam skuad juga mulai terlihat.

Salah satu momen terjadi dalam pertandingan ketika Pedro Neto mengambil bola yang sebenarnya menuju Cole Palmer di tepi kotak penalti. Palmer terlihat melompat dan berteriak dengan frustrasi kepada rekan setimnya.

Insiden tersebut mungkin bisa dianggap sebagai emosi sesaat di lapangan. Namun komentar Enzo Fernandez setelah kekalahan dari Paris Saint-Germain memunculkan spekulasi lebih besar.

Dalam wawancara dengan ESPN Argentina, gelandang asal Argentina itu sempat mengisyaratkan ketidakpastian mengenai masa depannya di klub.

Pernyataan itu kemudian dibantah oleh pelatih Liam Rosenior, yang mengatakan bahwa komentar tersebut telah disalahartikan dan Fernandez tetap berkomitmen penuh kepada Chelsea.

Namun dalam wawancara lain setelah laga yang sama, Fernandez juga mengkritik keputusan klub yang berpisah dengan pelatih Enzo Maresca pada awal tahun.

"Kadang ada hal-hal yang sebagai pemain tidak kami pahami. Kepergian itu sangat menyakitkan bagi kami," ujar Enzo Fernandez.

Fernandez juga menambahkan bahwa Maresca memiliki identitas yang sangat jelas dalam cara melatih dan bermain.

Pernyataan tersebut cukup signifikan mengingat Fernandez merupakan salah satu figur penting di ruang ganti. Ia bahkan kerap menjadi kapten tim ketika Reece James absen karena cedera.

Waktu Istirahat yang Sangat Dibutuhkan Chelsea

Di tengah situasi yang semakin panas, jeda internasional datang pada waktu yang tepat bagi Chelsea.

Biasanya jeda seperti ini dianggap mengganggu ritme tim. Namun dalam kondisi sekarang, kesempatan untuk menenangkan situasi justru sangat dibutuhkan.

Chelsea masih memiliki peluang untuk menyelamatkan musim ini, baik melalui perburuan posisi lima besar maupun lewat jalur FA Cup.