Flop di Premier League, 7 Pemain Ini Justru Berjaya di Liga Champions

Aga Deta | 5 November 2021 11:29
Trofi Liga Champions. (c) AP Photo

Bola.net - Premier League atau Liga Inggris dikenal sebagai kompetisi yang tidak mudah ditaklukkan. Tidak semua pemain bisa meraih kesuksesan saat mengadu nasib di liga tersebut.

Apalagi, seiring bergulirnya waktu, Liga Inggris semakin gemerlap. Pemain bintang makin menyesaki klub-klub Premier League sehingga persaingan menjadi kian sengit.

Tujuh pemain di daftar ini, meninggalkan Liga Inggris dengan status flop alias gagal. Penyebabnya berbeda-beda sehingga mereka gagal bersinar.

Namun, bukan berarti karier mereka sudah habis. Mereka berhasil mendulang kesuksesan di tempat lain.

Ketujuh pemain ini malah mendapatkan gelar Liga Champions setelah meninggalkan Liga Inggris. Bahkan, beberapa pemain menjadi juara Liga Champions dengan mengalahkan klub lamanya.

Berikut ini tujuh pemain tersebut, seperti dikutip Four Four Two.

1 dari 7 halaman

7. Marco Materazzi (Everton)

Marco Materazzi di Derby Milan, September 2008 (c) AFP

Marco Materazzi menjalani periode buruk saat merumput di Liga Inggris. Dia hanya bermain satu musim di sana bersama Everton.

Bayangkan saja, Materazzi bermain dalam 33 pertandingan pada musim 1998/1999, tetapi mengoleksi tiga kartu merah dan 11 kartu kuning! Benar-benar rekor yang buruk.

Tak heran, dia cepat-cepat dikembalikan ke Perugia.

Tapi, Materazzi malah moncer di sana. Dia mencatatkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak oleh bek dalam satu musim Serie A, yaitu 12 gol.

Inter Milan langsung tergoda dan memboyongnya. Di bawah polesan Jose Mourinho, Materazzi merasakan gelar juara Liga Champions dalam raihan treble yang gemilang pada musim 2009/2010.

2 dari 7 halaman

6. Gerard Pique (Manchester United)

Selebrasi Gerard Pique setelah membobol gawang Dynamo Kiev di penyisihan grup Liga Champions 2021. (c) AP Photo

Gerard Pique jadi anomali pada daftar ini. Banyak orang mengetahui kualitas apiknya sebagai pesepak bola.

Pada 2007/2008 seharusnya menjadi musim ketika Pique yang berusia 20 tahun menyelesaikan transisinya dari pemain muda ke skuad reguler Manchester United. Tapi pemain Spanyol itu segera dipinggirkan setelah membiarkan Nicolas Anelka mencetak gol saat kekalahan mengejutkan 0-1 dari Bolton.

Pada musim panas 2008 dia minta dilepas, dengan alasan rindu kampung halaman. Dengan berat hati Sir Alex Ferguson mengabulkan keinginannya. Selain itu, dia juga sulit bersaing karena MU punya duet tangguh Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic.

Pique kembali ke Barcelona dan sejak itu merayakan tiga gelar Liga Champions, dua di antaranya didapat dengan mengalahkan MU di final.

3 dari 7 halaman

5. Jerome Boateng (Manchester City)

Jerome Boateng bermain untuk Bayern Munchen pada musim 2018/19 (c) Bundesliga

Karier Jorome Boateng di Manchester City melempem karena kombinasi nasib buruk dan manajemen yang tak ideal. Didatangkan setelah Piala Dunia 2010, pemain internasional Jerman itu harus menunggu lebih dari sebulan untuk melakukan debutnya setelah mengalami cedera menyusul tabrakan dengan troli minuman di pesawat.

Kesialannya berlanjut. Ketiga dirinya sudah fit, pelatih City saat itu Roberto Mancini malah memasangnya sebagai fullback ketimbang bek tengah. Boateng dicoret dari skuad City untuk final Piala FA 2011, kemudian hengkang ke Bayern Munchen pada musim panas itu.

Di Bayern, ia menjuarai Liga Champions 2013, kemudian juga jadi kampiun Piala Dunia 2014 bersama Jerman.

4 dari 7 halaman

4. Sylvinho (Arsenal)

Sylvinho (c) Arsenal

Arsenal harus berjibaku melawan Tottenham Hotspur saat mendatangkan Sylvinho. Dia menjadi pemain pertama asal Brasil yang bermain untuk Arsenal.

Dia menikmati tahun pertama yang bagus di klub termasuk mencetak beberapa gol yang tak terlupakan, salah satunya melawan Chelsea.

Pada akhirnya, kombinasi cedera, isu paspor, dan kemunculan Ashley Cole menyudahi kariernya di Arsenal. Dia dijual ke Celta Vigo pada 2001, kemudian gabung Barcelona tiga tahun berselang. Pada 2009, dia menjadi starter ketika Barcelona tampil di final Liga Champions dan juara.

5 dari 7 halaman

3. Gary Cahill (Aston Villa)

Gary Cahill (c) CFC

Penggemar Aston Villa pasti menyesal ketika melihat produk akademi klub, Gaey Cahill, diizinkan bergabung dengan Bolton seharga 5 juta pounds pada 2008.

Selama empat tahun di Bolton, dia dipanggil ke Timnas Inggris dan kemudian pindah ke Chelsea. Saat itu, Chelsea hanya membayar 7 juta pounds untuk memboyongnya pada Januari 2012. Di sana, ia memenangi Piala FA dan Liga Champions pada musim pertamanya.

6 dari 7 halaman

2. Arjen Robben (Chelsea)

Arjen Robben (c) AFP

Arjen Robben senang menjadi bagian pertukaran pemain Chelsea dan Real Madrid. Namun, yang sebenarnya sang manajer, Jose Mourinho, sudah hilang kesabaran terhadap Robben.

Robben kerap menepi karena cedera ringan, dan Mourinho dengan senang hati menjualnya ke Madrid dan mendapatkan Florent Malouda.

Los Blancos mau membeli Robben setelah gagal mendapatkan Michael Ballack. Robben yang akhirnya jadi yang tertawa paling belakangan. Setelah dua tahun, ia bergabung ke Bayern Munchen dan memenangi Liga Champions di sana.

7 dari 7 halaman

1. Patrik Andersson (Blackburn)

Andersson mendapatkan status legendaris di mata penggemar Bayern Munchen untuk gol di menit akhir yang membuat Bayern meraih gelar Bundesliga 2001 yang mengejutkan dari sang rival, Schalke. Itu adalah satu-satunya golnya untuk Bayern.

Banyak penggemar Blackburn Rovers mungkin lupa dia pernah main di Ewood Park hampir satu dekade sebelumnya.

Andersson adalah salah satu pemain asing pertama yang main di Premier League pada 1992/93, tetapi hanya bermain 12 pertandingan liga sebelum bergabung dengan Borussia Monchengladbach. Enam musim yang mengesankan di sana membuatnya beralih ke Bayern, dan pemain Swedia itu mengalami kejayaan Eropa pada 2001 dengan bermain selama 120 menit dalam kemenangan adu penalti final Liga Champions raksasa Jerman itu atas Valencia.

Sumber: Four Four Two
Disadur dari: Bola.com/Yus Mei Sawitri
Published: 5/11/2021

Berita Terkait

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR