Perjalanan 10 Tahun Pep Guardiola di Manchester City dalam 10 Laga: Dari Keraguan hingga Dinasti Sepak Bola Modern

Perjalanan 10 Tahun Pep Guardiola di Manchester City dalam 10 Laga: Dari Keraguan hingga Dinasti Sepak Bola Modern
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, melambaikan tangan kepada para suporter setelah pertandingan melawan Aston Villa di Premier League, Minggu (24/5/2026). (c) AP Photo/Alastair Grant

Bola.net - Nama Pep Guardiola sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Manchester City. Selama satu dekade terakhir, pelatih asal Catalan itu mengubah City dari sekadar klub kaya menjadi kekuatan dominan sepak bola Inggris dan Eropa.

Laga kontra Aston Villa yang berakhir dengan kekalahan 1-2 pada akhir musim 2025/2026 menjadi pertandingan ke-593 Guardiola bersama City. Catatan itu membuatnya melewati rekor milik Les McDowell sebagai pelatih dengan jumlah pertandingan terbanyak dalam sejarah klub.

Namun, warisan Guardiola jauh melampaui angka. Ia meninggalkan revolusi taktik, budaya kemenangan, dan generasi pemain kelas dunia yang membentuk era emas Manchester City.

Berikut perjalanan 10 musim Guardiola di City yang dirangkum melalui 10 pertandingan paling penting dalam membangun dinasti tersebut.

2016/2017: Awal Sulit Pep Guardiola di Inggris

2016/2017: Awal Sulit Pep Guardiola di Inggris

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, bereaksi dalam laga semifinal FA Cup melawan Southampton, Sabtu (25/4/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Kin Cheung

Manchester City 2-2 Tottenham Hotspur

Musim pertama Guardiola di Premier League tidak berjalan mulus. Setelah meraih 10 kemenangan beruntun di awal musim, City mulai goyah. Kekalahan telak dari Leicester City dan Everton membuat banyak pihak meragukan apakah filosofi sepak bola Guardiola bisa sukses di Inggris.

Saat menghadapi Tottenham Hotspur asuhan Mauricio Pochettino, Guardiola akhirnya kembali pada identitas sepak bolanya: formasi klasik 4-3-3 ala Barcelona.

Dengan duet kreatif Kevin De Bruyne dan David Silva di lini tengah, serta kecepatan Leroy Sane dan Raheem Sterling di sisi sayap, City mulai menemukan kembali jati dirinya.

Meski hanya bermain imbang 2-2, pertandingan ini menjadi titik balik. City kemudian mencatatkan 11 laga tanpa kekalahan dan fondasi era Guardiola mulai terbentuk.

2017/2018: Mesin Penghancur Premier League

Manchester City 7-2 Stoke City

Musim kedua Guardiola menjadi awal dominasi mutlak City di Inggris. Kehadiran Ederson, Kyle Walker, dan Bernardo Silva membuat permainan City mencapai level baru.

Kemenangan 7-2 atas Stoke City menjadi simbol bagaimana City bermain seperti tim dari “planet lain”.

De Bruyne tampil luar biasa dengan umpan-umpan kreatif yang sulit dipahami lawan. Sementara Guardiola memperkenalkan konsep full-back invert melalui peran Fabian Delph yang dimainkan sebagai bek kiri masuk ke tengah lapangan.

Musim itu City menutup kompetisi dengan 100 poin, rekor Premier League yang belum pernah terjadi sebelumnya.

2018/2019: Menaklukkan Rival Sekota

2018/2019: Menaklukkan Rival Sekota

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola merayakan kemenangan timnya di final Carabao Cup, 23 Maret 2026 lalu melawan Arsenal. (c) AP Photo/Richard Pelham

Manchester City 3-1 Manchester United

Persaingan Guardiola dengan Jose Mourinho kembali memanas ketika keduanya bertemu di Manchester.

Namun, pada derby November 2018, City benar-benar menunjukkan jurang kualitas antara mereka dan Manchester United.

Gol dari David Silva, Sergio Aguero, dan Ilkay Gundogan memastikan kemenangan meyakinkan City. Salah satu momen terbaik laga itu adalah proses gol Gundogan yang diawali 44 operan beruntun khas Guardiola.

Pertandingan tersebut menjadi penegasan bahwa Guardiola telah memenangkan rivalitasnya melawan Mourinho di Inggris.

2019/2020: Bertahan di Tengah Tekanan

Real Madrid 1-2 Manchester City

Di tengah tuduhan pelanggaran finansial dan ancaman larangan tampil di kompetisi Eropa, City datang ke markas Real Madrid dengan tekanan besar.

Namun, Guardiola justru memperlihatkan kecerdikannya. Ia menggunakan sistem unik tanpa striker murni dengan De Bruyne dan Bernardo Silva sebagai false nine.

City tampil luar biasa di Santiago Bernabeu. Setelah tertinggal lebih dulu, mereka bangkit lewat gol Gabriel Jesus dan penalti De Bruyne untuk menang 2-1.

Kemenangan itu memperlihatkan mentalitas baru City: tidak lagi inferior di panggung Eropa.

2020/2021: Kebangkitan Setelah Masa Sulit

Chelsea 1-3 Manchester City

Pandemi COVID-19 menjadi masa berat bagi Guardiola, termasuk setelah sang ibu meninggal dunia akibat virus tersebut.

Di lapangan, City juga sempat tampil tidak stabil. Namun, duet Ruben Dias dan John Stones membuat pertahanan City kembali solid.

Kemenangan 3-1 atas Chelsea menjadi titik lahirnya versi baru City. Guardiola memainkan sistem tanpa striker murni dengan rotasi posisi menyerang yang membuat Chelsea kesulitan total.

Ilkay Gundogan tampil tajam dan akhirnya menjadi top skor City di Premier League musim itu.

Meski gagal di final Liga Champions melawan Chelsea, City kembali menjadi kekuatan dominan Inggris.

2021/2022: Duel Klasik Melawan Liverpool

2021/2022: Duel Klasik Melawan Liverpool

Pelatih Manchester City, Josep Guardiola. (c) AP Photo/Dave Thompson

Liverpool 2-2 Manchester City

Persaingan Guardiola dengan Jurgen Klopp melahirkan salah satu rivalitas terbaik dalam sejarah Premier League.

Laga imbang 2-2 di Anfield menjadi contoh sempurna intensitas duel dua tim terbaik Inggris kala itu.

Phil Foden tampil luar biasa, sementara De Bruyne kembali menjadi motor permainan City.

Di stadion yang sebelumnya sering menjadi mimpi buruk Guardiola, City akhirnya mampu menunjukkan mental juara dan bertahan dari tekanan Liverpool hingga akhir laga.

2022/2023: Malam Sempurna di Etihad

Manchester City 4-0 Real Madrid

Inilah puncak era Guardiola di City.

Setelah gagal dramatis melawan Madrid pada semifinal Liga Champions musim sebelumnya, City membalas dengan menghancurkan sang raja Eropa 4-0 di Etihad Stadium.

Bernardo Silva mencetak dua gol, sementara City benar-benar mendominasi permainan. Madrid nyaris tidak diberi ruang untuk berkembang.

Pertandingan ini menjadi simbol kesempurnaan filosofi Guardiola dan membuka jalan menuju treble bersejarah: Premier League, FA Cup, dan Liga Champions.

2023/2024: Phil Foden Jadi Pemimpin Baru

Manchester City 3-1 Manchester United

Derby Manchester musim 2023/2024 menjadi panggung bagi Phil Foden.

Saat City kesulitan mengejar ketertinggalan setelah gol spektakuler Marcus Rashford, Foden tampil sebagai pembeda. Ia mencetak dua gol dan mengendalikan permainan City sepanjang laga.

Musim itu menjadi momen transformasi Foden dari wonderkid menjadi pemimpin baru City.

2024/2025: Lahirnya Generasi Baru

Bournemouth 1-2 Manchester City

Musim 2024/2025 menjadi salah satu musim tersulit Guardiola. Namun, dari situ muncul nama baru: Nico O'Reilly.

Awalnya dikenal sebagai gelandang serang di akademi, Guardiola mengubahnya menjadi bek kiri modern. Saat masuk melawan Bournemouth di FA Cup, O’Reilly langsung mengubah jalannya pertandingan lewat dua assist.

Laga itu menunjukkan Guardiola masih mampu berevolusi bahkan setelah hampir satu dekade melatih City.

2025/2026: Tanda Perpisahan Guardiola

2025/2026: Tanda Perpisahan Guardiola

Para suporter Manchester City membentangkan spanduk ucapan terima kasih kepada pelatih Pep Guardiola pada laga terakhirnya sebagai manajer dalam pertandingan Premier League/Liga Inggris antara Man City vs Aston Villa, 24 Mei 2026 (c) AP Photo/Alastair Grant

Arsenal 0-2 Manchester City

Musim terakhir Guardiola bersama City ditutup dengan kemenangan penting atas Arsenal di final Carabao Cup.

City datang sebagai underdog, tetapi tampil sangat dominan di babak kedua. Nico O’Reilly mencetak dua gol, sementara pemain muda seperti Rayan Cherki dan Antoine Semenyo menunjukkan masa depan cerah klub.

Pertandingan itu terasa seperti pesan terakhir Guardiola: City sudah siap melanjutkan perjalanan tanpa dirinya.

Sumber: The Sporting News