7 Tahun Rafael Leao di AC Milan: Kisah yang Dimulai dengan Senyum Lebar dan Berakhir dengan Air Mata

7 Tahun Rafael Leao di AC Milan: Kisah yang Dimulai dengan Senyum Lebar dan Berakhir dengan Air Mata
Pemain AC Milan, Rafael Leao, merayakan gol dalam laga Serie A antara AC Milan vs Lazio di Milan, Sabtu, 29 November 2025 (c) AP Photo/Antonio Calanni

Bola.net - Rafael Leao akhirnya menutup perjalanan tujuh tahunnya bersama AC Milan, sebuah kisah yang dimulai dengan senyum lebar dan berakhir dengan air mata. Kepindahannya ke Galatasaray membuat sosok yang identik dengan seragam merah-hitam itu kini harus dikenang sebagai bagian dari masa lalu Rossoneri.

Selama berada di San Siro, pemain asal Portugal tersebut mengalami hampir seluruh warna dalam kehidupan seorang pesepak bola. Ia datang sebagai talenta muda dari Lille, berkembang menjadi bintang, membantu Milan meraih Scudetto, lalu perlahan kehilangan tempatnya sebagai pusat proyek klub.

Perjalanan itu tidak selalu mulus, tetapi kontribusinya meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Dari aksi individual yang memukau hingga momen-momen menentukan dalam perburuan gelar, ia pernah menjadi simbol kebangkitan Milan di era modern.

Kini, setelah tujuh tahun, kisah tersebut berakhir dengan keputusan untuk mencari tantangan baru di liga berbeda. Perpisahan ini terasa pahit karena talenta luar biasa itu tidak sepenuhnya mampu mempertahankan level tertinggi yang pernah ia tunjukkan.

Anak Muda dengan Senyum Lebar

Anak Muda dengan Senyum Lebar

Selebrasi Rafael Leao usai mencetak gol di laga Cagliari vs AC Milan, Sabtu (3/1/2025) (c) Serie A Official

Leao tiba dari Lille dengan nilai transfer sekitar €30 juta plus bonus, setara kira-kira Rp614,4 miliar.

Awalnya, Marco Giampaolo kesulitan menemukan posisi terbaik untuk pemain berusia 20 tahun tersebut. Kedatangan Stefano Pioli dan Zlatan Ibrahimovic membantu mengubah arah kariernya.

Bersama keduanya, Leao mulai menunjukkan kecepatan, keberanian, dan kemampuan menciptakan peluang yang kemudian menjadi ciri khasnya.

Dari Pemain Potensial Menjadi Pemain Utama

Dari Pemain Potensial Menjadi Pemain Utama

Selebrasi pemain AC Milan, Rafael Leao saat mencetak gol ke gawang Genoa di lanjutan Liga Italia, 9 Januari 2026. (c) AP Photo/Antonio Calanni

Periode setelah pandemi menjadi titik penting bagi perkembangan Leao dan Milan, di mana ia berubah dari pemain potensial menjadi pemain utama. Pada musim 2021-22, ia mencetak 14 gol dan 12 assist di seluruh kompetisi sekaligus membantu Rossoneri meraih Scudetto ke-19.

Performa tersebut mengantarkannya meraih penghargaan MVP Serie A, sementara tiga assist dalam kemenangan 3-0 atas Sassuolo menjadi salah satu penampilan terbaiknya dalam perjalanan menuju gelar.

Setahun kemudian, ia kembali tampil impresif dengan 16 gol dan menghasilkan momen spektakuler saat Milan menghadapi Inter serta Napoli di Serie A dan Liga Champions.

Kontrak baru hingga 2028 dengan klausul pelepasan €175 juta, atau sekitar Rp3,58 triliun, menjadi tanda bahwa Milan masih melihatnya sebagai bagian penting proyek jangka panjang.

Kilau yang Mulai Meredup

Kilau yang Mulai Meredup

Pemain AC Milan, Rafael Leao, bereaksi di akhir pertandingan Serie A melawan Udinese di San Siro, Sabtu (11/4/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Antonio Calanni

Setelah mencapai puncak, performa Leao perlahan tidak lagi stabil, tapi sejumlah aksi individualnya tetap mampu menghasilkan momen istimewa. Musim 2023-24 menghasilkan sembilan gol dan sembilan assist di Serie A, sementara tujuh kontribusi gol di Liga Europa juga menunjukkan bahwa kualitasnya belum hilang.

Pergantian pelatih dari Pioli ke Paulo Fonseca kemudian Sergio Conceicao membuat situasi semakin sulit, sedangkan musim berikutnya bersama Massimiliano Allegri turut diganggu masalah kebugaran.

Leao menutup musim dengan 10 gol dan tiga assist dalam 31 penampilan, tetapi persoalan cedera serta pubalgia membatasi pengaruhnya.

Perpisahan yang Pahit

Perpisahan yang Pahit

Rafael Leao berjalan keluar lapangan di laga AC Milan vs Atalanta, Senin (11/05/2026). (c) AP Photo/Antonio Calanni

Tanda berakhirnya hubungan Leao dan Milan muncul ketika sang pemain mengutarakan keinginan mencoba tantangan baru di liga berbeda. “Saya pikir saya sudah memberikan semua yang bisa saya berikan kepada Milan,” katanya, seraya mengakui klub tersebut telah membantunya berkembang dan melewati masa-masa sulit.

Perpisahan akhirnya terjadi setelah pertandingan melawan Venezia, ketika ia mengucapkan salam terakhir kepada rekan setim dan para pendukung Milan.

“Saya menangis, banyak menangis, itu normal, emosinya memang normal,” ujar Leao, yang kini membawa kenangan tujuh tahun tersebut menuju petualangan baru di Istanbul.

Warisan Leao di Milan memang tidak sempurna karena konsistensi selalu menjadi pertanyaan terbesar sepanjang kariernya di Italia.

Namun, ketika ia berlari di sisi kiri, melewati lawan dengan senyum khasnya, lalu menciptakan sesuatu yang tidak terduga, Milan pernah memiliki pemain yang mampu membuat sepak bola terasa berbeda.

Sumber: Sempre Milan

Klasemen