Bola Beli: Menelisik Sisi Unik Diadora di Antara Banyak Pilihan Sepatu Sepak Bola di Pasar Indonesia

Bola.net - Banyak penggemar sepak bola yang menyangka Diadora adalah merek asal Australia karena dominasi pemakaian kulit kangguru yang mereka gunakan. Sebenarnya sepatu sepak bola Diadora ini berasal dari Negeri Piza, Italia, yang punya kultur lebih mendewakan permainan bertahan sehingga sepatu sepak bola buatannya pun mengutamakan struktur kuat nan kokoh ketimbang sifat lentur.
Proses manufaktur Diadora dimulai pada 1948 di kota Veneto sebagai anak perusahaan sepatu dan kulit Geox. Mereka kini memiliki sejumlah pabrik di Amerika Serikat, Bangladesh, Hong Kong, Brasil, dan tentunya Australia. Untuk kategori sepatu, Diadora juga memproduksi sepatu atletik, namun pasar mereka sejak tahun 70-an sudah diwarnai dengan produksi kaus, hoodies, jaket, celana pendek dan leggins.
Oleh pendirinya, Marco Danieli, nama Diadora disebut lahir karena kesalahan penerjemahan. Semula nama yang diinginkan adalah "De Ladera" yang artinya "Dari kota Zadar", yang menceritakan asal kota dari rekan Danieli yang keturunan Yunani. Lantaran diterjemahkan ke bahasa latin, De Ladera pun berubah menjadi Diadora, namun Danieli tetap memakainya karena terdengar lebih praktis dan bagus.
Produk pertama Diadora kala itu adalah sepatu untuk mendaki gunung dan baru pada pertengahan 70-an mereka masuk ke kancah sepatu sepak bola dan sepatu tenis. Kedua proses ini melibatkan striker ternama Juventus, Roberto Bettega, dan petenis urakan asal Swedia, Bjorn Borg.
Efek Marco van Basten
Sepatu sepak bola Diadora tipe Pichichi 3 MG14, satu dari sedikit produk baru Diadora yang tidak berwarna dasar hitam. (c) Diadora.com
Nama Diadora benar-benar mendunia setelah mereka memproduksi sepatu yang dibuat khusus untuk Marco van Basten sejak akhir 80-an. Berkibarnya timnas Belanda dan AC Milan saat kejayaan Van Basten membuat Diadora banyak dikenal luas oleh anak-anak dan remaja yang mulai tumbuh dan menekuni sepak bola sejak empat dekade silam.
Sayangnya, karena inovasi yang relatif lebih lambat dibanding para pesaing Diadora pun perlahan kehilangan pijakan. Hal yang mengherankan adalah fakta bahwa restrukturisasi Diadora yang kembali melebur dengan Geox pada 2009 tidak banyak membawa perubahan di sektor sepatu sepak bola. Sementara itu, produksi mereka di ranah sepatu atletik semakin beragam model dan penggunaan warna cerah.
Apakah langkah Diadora untuk mempertahankan elemen klasik dalam desain sepatu sepak bola mereka adalah sebuah kesengajaan untuk melahirkan keunikan? Sepertinya demikian karena di saat Nike, Adidas, hingga merek-merek lokal di Asia telah meninggalkan desain klasik warna hitam dan menggunakan bahan sintetik, Diadora sedikit sekali melakukan perubahan dan hanya melahirkan beberapa varian dengan warna putih dalam seri-seri terbarunya.
Beberapa tipe dengan warna putih yang mereka produksi adalah seri Pichichi 3 MG14 dan Pichichi 3 TF. Pola warna, desain klasik untuk upper, mid, dan outsole ini juga mereka terapkan di lini produksi sepatu latihan di permukaan keras (menggunakan multi-pul di bagian bawah) dan juga untuk sepatu futsal.
Sentuhan modern mereka berikan dengan memberi aksen warna merah, emas, dan silver hanya pada strip minor pada bagian kulit sepatu sepak bola Diadora, yang amat berbeda dengan ragam warna, jenis bahan, dan desain modern, yang mereka perlihatkan di jajaran desain sepatu sepak kasual dan atletik milik mereka.
Klasik Justru Bernilai Tinggi
Sepatu sepak bola klasik Diadora B-Elite Italia Tech FG, sangat langka serta dihargai tinggi karena kualitas bangun dan bahannya sangat terjaga. (c) bukalapak
Bila di pasaran Anda menemukan sepatu Diadora dengan warna dasar merah, biru, hijau, atau kuning, jangan langsung menganggap produk itu palsu karena di era 90-an produk ini sempat dilahirkan dan di beberapa region tetap diproduksi. Namun, dibanding produk-produk modern Adidas dan Nike, misalnya, terlihat teknik pewarnaan, jenis bahan, dan variasi desain Diadora kalah menarik sehingga produk ini tidak terlalu diminati.
Pada sisi lain, dari sisi ketahanan, Diadora justru sangat bisa diandalkan karena amat jarang menghasilkan produk dengan kulit sintetik dan kekuatan outsole-nya sudah dikenal sebagai produk yang tidak mudah berubah bentuk, abrasif, atau bahkan sampai kedapatan patah. Karakteristik klasik dan sangat kuat inilah yang jadi keunggulan mereka yang kembali memilih mempertahankan warna dasar hitam dan putih sebagai ciri khas.
Secara teknis, kekurangan produk sepatu sepak bola Diadora adalah soal pilihan ukuran yang lebih cocok untuk mereka yang memiliki telapak kaki panjang seperti karakter kebanyakan kaki orang kulit putih Eropa dan Amerika utara. Dalam nomor yang sama, Diadora tidak memiliki pilihan nomor untuk tapak kaki yang lebih lebar. Imbasnya, konsumen berkaki lebar sering memilih satu nomor ukuran kaki lebih besar sehingga bagian depan sepatu cenderung kosong karena tidak terisi ujung jari-jemari kaki.
Kondisi seperti itu jelas bukan pilihan ideal dalam dunia sepak bola karena tendangan yang sempurna dilepaskan dari kaki yang menggunakan sepatu sepak bola yang pas dan nyaman di kaki. Sepatu sepak bola memang seharusnya kuat tapi tetap nyaman digunakan. Well, dengan sejumlah karakter khasnya seri baru sepatu sepak bola Diadora kini masih memiliki penggemar fanatik dan dihargai di rentang Rp 700 ribu hingga Rp 3 jutaan. Untuk versi langka seperti seri Diadora B-Elite Italia Tech FG yang sepenuhnya dibuat dari kulit berwarna hitam bahkan mencapai harga Rp5 juta. So, keunikan klasik Diadora tak bisa disangkal sebagai faktor yang menambah nilai jualnya.
Advertisement
Berita Terkait
-
Open Play 16 Juli 2021 19:01Inilah Puma Ultra 1.3, Sepatu Sepakbola yang Didesain Khusus Perempuan
-
Lain Lain 30 Maret 2021 12:55Bola Beli: Tips Membeli Ring Basket
LATEST UPDATE
-
Otomotif 21 Juli 2026 18:02David Alonso Naik ke MotoGP 2027 Bersama Honda HRC
-
Piala Dunia 21 Juli 2026 17:22Zinedine Zidane Sudah Teken Kontrak sebagai Pelatih Timnas Prancis
BERITA LAINNYA
-
lain lain 10 Juli 2026 09:21Dari Lapangan Sampai Nongkrong, Ini Cara Tetap Segar Setelah Main Bola
SOROT
-
Liputan6 21 Juli 2026 17:50Keraton Surakarta Direvitalisasi Besar-besaran, 13 Titik Dibangun Ulang
-
Liputan6 21 Juli 2026 17:19Penjelasan Istana soal Rencana Prabowo Pangkas Anggaran TNI-Polri
-
Liputan6 21 Juli 2026 17:01Prabowo Segera Teken Keppres Jampidsus Pengganti Febri Adriansyah
-
Liputan6 21 Juli 2026 16:58KPK: Bupati Lombok Barat Terima Rp 10,8 M dari Pengaturan Proyek
-
Liputan6 21 Juli 2026 16:53Prabowo Teken Keppres Jampidsus Baru dalam Satu-Dua Hari
-
Liputan6 21 Juli 2026 16:47KPK Tetapkan Bupati Lombok Barat Tersangka Suap hingga Gratifikasi
HIGHLIGHT
Makin Panas! 5 Opsi Klub Baru Julian Alvarez, Barc...
10 Target Transfer Arsenal yang Patut Dipantau di ...
Dari Pele hingga Gilberto Mora, Inilah 10 Pemain T...
3 Pemain Bournemouth yang Bisa Dibawa Andoni Iraol...
4 Bek Top yang Jadi Target Real Madrid pada Bursa ...
Man United atau Fenerbahce? 5 Klub yang Bisa Jadi ...
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya

















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303417/original/016104100_1784631027-IMG-20260721-WA0017.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302187/original/020726000_1784536360-Screenshot_2026-07-20_at_15.30.41.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7767979/original/011455400_1780578714-IMG_3908__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303377/original/015084600_1784627917-WhatsApp_Image_2026-07-21_at_16.47.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303356/original/032748400_1784627628-IMG_5798.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302503/original/018285200_1784561646-IMG_20260720_215953_5.jpg)
