
Bola.net - Virus corona di Indonesia tengah mewabah. Sampai hari Senin (23/3/2020) petang, kasus virus yang punya nama lain Covid19 tersebut di Indonesia mencapai 579 kasus dengan 49 meninggal dan 30 orang sembuh.
Lantas, bagaimana cara memperlambat penyebaran virus corona?
Virus Corona atau COVID-19 telah menjadi kegelisahan warga dunia karena penyebarannya yang cukup cepat. Lebih dari 177 negara kini telah terinfeksi dan salah satunya adalah Indonesia. Setelah diumumkannya kasus pertama sejak 2 Maret 2020, kini jumlah korban positif Corona mencapai 548 kasus, dan diduga masih terus bertambah.
Mengikuti seruan dari World Health Organization (WHO), bagi negara-negara untuk 'mengambil tindakan yang mendesak dan agresif', para pemimpin dunia mengadakan pembicaraan krisis dengan para pejabat kesehatan untuk mencari cara terbaik melindungi masyarakat dari virus Corona yang menyebabkan lebih dari 14.000 kematian di seluruh dunia.
Dilansir dari Health, salah satu yang dibicarakan adalah herd immunity atau kekebalan kawanan/ kelompok. Apa itu Herd immunity?
Apa itu Herd Immunity
Herd immunity atau juga dikenal dengan imunitas kawanan didefinisikan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sebagai situasi di mana proporsi populasi yang cukup kebal terhadap penyakit menular (melalui vaksinasi dan/ atau antibody dari infeksi sebelumnya) membuat penyebarannya dari orang ke orang menjadi lambat bahkan bisa berhenti.
Artinya, di mana ada suatu kekebalan kawanan atau herd immunity yang berasal dari vaksinasi atau yang sudah terinfeksi dan dapat sembuh, akan lebih sedikit orang yang bisa terinfeksi, karena penyebaran virus dari orang ke orang cukup sulit.
Kekebalan kawanan melindungi orang yang tidak dapat divaksinasi karena sistem kekebalan tubuh mereka tidak cukup kuat dan karena itu paling rentan terhadap penyakit serius.
"Ketika sekitar 70 persen populasi telah terinfeksi dan pulih, kemungkinan wabah penyakit menjadi jauh lebih sedikit karena kebanyakan orang resisten terhadap infeksi," kata Martin Hibberd, seorang profesor penyakit menular di London School of Hygiene & London yang dilansir dari Aljazeera.
Herd immunity (c) Merdeka.com
Dilansir dari DW, perbedaan utama antara kekebalan yang berasal dari vaksin buatan dengan yang terinfeksi dan membentuk antibodi adalah kemanjurannya. Vaksinasi adalah kekebalan buatan yang aktif untuk membantu seseorang mengatasi virus, sementara infeksi pada akhirnya merupakan cara paling alami untuk memberikan kekebalan pada tubuh seseorang.
Walaupun kedua jenis kekebalan ini bertahan untuk waktu yang sangat lama, suatu bentuk kekebalan alami biasanya lebih efektif dan mampu menghasilkan lebih banyak produksi antibodi, yang membantu kemungkinan infeksi di masa depan.
Contoh kekebalan kawanan melalui vaksinasi adalah wabah campak di antara anak-anak usia prasekolah di AS pada akhir 1980-an. Tingkat infeksi menurun lebih cepat seiring dengan peningkatan cakupan imunisasi.
Para peneliti yang meneliti hubungan antara kejadian campak dan cakupan imunisasi di antara anak-anak usia prasekolah menyimpulkan bahwa cakupan imunisasi sekitar 80% mungkin cukup untuk menghentikan wabah campak berkelanjutan di komunitas perkotaan.
Tentu saja, belum ada vaksin untuk COVID-19. Jadi situasi kekebalan kawanan sedikit berbeda. Satu-satunya pilihan adalah pemulihan dari infeksi, yang berarti membiarkan sebagian besar orang terkena virus di beberapa titik dan membuatnya kebal dari virus.
"Belum ada vaksin buatan yang pasti untuk melindungi orang dari COVID-19, menunggu kekebalan kawanan terjadi bukanlah strategi kesehatan masyarakat yang baik," tulis ahli virus UK Jeremy Rossman, PhD. Mengingat tingkat infeksi yang sangat cepat di seluruh dunia, dan menyebabkan kematian banyak orang.
Matthew Baylis, seorang profesor di Institute of Infection, Veterinary and Ecological Sciences di Liverpool University juga mengatakan hal yang sama terhadap strategi herd immunity, "Tetapi tidak harus - dan tidak akan - dengan cara ini," katanya seperti yang dilansir dari Aljazeera.
Langkah baik yang bisa dilakukan sekarang adalah mengurangi jumlah orang yang terinfeksi oleh satu orang, dengan langkah-langkah jarak sosial seperti menutup sekolah, bekerja dari rumah, menghindari pertemuan besar, dan sering mencuci tangan.
Namun, sembari melakukan social distancing atau menjaga jarak sosial, perlu dilakukan pemerataan kurva, seperti di Indonesia di mana kasus infeksi meningkat cepat. Pemerataan kurva dapat membantu petugas medis untuk tidak kewalahan dalam menolong korban positif Corona. Jadi, apa itu pemerataan kurva?
Apa itu Flatten the Curve atau Pemerataan Kurva
Dilansir dari Live Science, kurva yang dibicarakan tersebut yaitu sebuah grafik yang menggambarkan dua kurva. Satu kurva berbentuk lebih tinggi dan curam sedang kurva yang lain tampak landai. Terdapat garis titik-titik di grafik tersebut, yang mana kurva yang tinggi dan curam melewati batas garis tersebut, sedangkan yang landai berada di bawahnya. Garis tersebut menunjukkan kapasitas dan sumber daya rumah sakit yang tersedia.
Sedangkan dua kurva tersebut menggambarkan jumlah orang yang terinfeksi. Di mana pada kurva curam, virus menyebar secara eksponensial (yaitu, jumlah kasus terus meningkat dua kali lipat pada tingkat yang konsisten), dan jumlah total kasus meroket ke puncaknya dalam beberapa minggu.
Flatten the Curve (c) Merdeka.com
Kurva infeksi dengan kenaikan curam juga memiliki penurunan tajam, setelah virus menginfeksi hampir semua orang yang dapat terinfeksi, jumlah kasus juga mulai menurun secara eksponensial.
Namun masalahnya, semakin cepat kurva infeksi naik, semakin cepat sistem perawatan kesehatan setempat kelebihan beban melebihi kapasitasnya untuk merawat orang. Seperti yang kita lihat di Italia, semakin banyak pasien baru, mungkin terpaksa pergi tanpa mendapat tempat tidur ICU, dan semakin banyak rumah sakit mungkin kehabisan pasokan dasar yang mereka butuhkan untuk menanggapi wabah.
Sebaliknya, kurva yang lebih datar mengasumsikan jumlah orang yang sama akhirnya terinfeksi, tetapi dalam jangka waktu yang lebih lama. Tingkat infeksi yang lebih lambat berarti sistem perawatan kesehatan tidak kelebihan pasien, di mana lebih sedikit kunjungan rumah sakit pada hari tertentu dan lebih sedikit orang sakit yang ditolak.
Bagaimana kita meratakan kurva?
Karena belum memiliki vaksin khusus maupun obat untuk menghentikan penyebaran virus, WHO menyarankan untuk sering mencuci tangan, menerapkan social distancing, tidak menyentuh wajah, dan melakukan pencegahan lain seperti yang sudah disarankan.
Dengan begitu akan mengurangi penyebaran yang artinya rumah sakit bisa menangani pasien infeksi yang ada sebelumnya tanpa harus ada tambahan pasien secara drastis. Strategi pemerataan kurva ini sebelumnya berhasil dilakukan saat pandemi flu 1918, pemerintah Philadelphia melakukan isolasi diri untuk semua warga dan melihat kematian 2.000 orang, di mana sebelum isolasi terjadi kematian 16.000 orang dalam enam bulan.
Sumber: Merdeka.com - 24/3/2020
Penulis: Ani Mardatila
Baca Ini Juga:
- Punya Gejala Infeksi Virus Corona? Inilah Langkah Pertama yang Harus Dilakukan
- Sayangi Kesehatan Jiwa dalam Hadapi Pandemi Virus Corona
- Daftar Pesepakbola yang Positif Terinfeksi Virus Corona Sejauh Ini
- Update Virus Corona Hari Ini: 579 Kasus, Meninggal 49, Sembuh 30 Orang
- Viral Latihan Kiper Seorang Diri, Bocah Ini Diajak Juan Mata dan Ben Foster
Advertisement
Berita Terkait
LATEST UPDATE
-
Liga Spanyol 20 September 2026 04:00Hasil Sevilla vs Barcelona: Hattrick Raphinha Jaga Start Sempurna Blaugrana!
-
Liga Italia 20 September 2026 01:19Man of the Match Roma vs Inter: Lautaro Martinez
-
Liga Italia 20 September 2026 00:57Hasil Roma vs Inter: Comeback Nerazzurri Paksa Giallorossi Berbagi Angka
-
Liga Italia 20 September 2026 00:26Baru Saja Debut, Kiper Juventus Kamil Grabara Malah Alami Cedera ACL
-
Liga Spanyol 19 September 2026 23:59Link Live Streaming Sevilla vs Barcelona 20 September 2026
-
Liga Inggris 19 September 2026 23:355 Pelajaran Arsenal 0-3 Brighton: Malam Buruk The Gunners di Amex Stadium
BERITA LAINNYA
-
lain lain 17 September 2026 16:34Formasi Grooming 15 Menit Sebelum Date: Clean, Neat, Smell Good
-
lain lain 17 September 2026 09:0010 Jebolan La Masia di Skuad Utama Barcelona Musim 2026/2027: Dari Bek sampai Striker
-
lain lain 16 September 2026 15:00Streaming Asian Games 2026 Sepak Bola Putra: Kuda Hitam yang Bisa Mengejutkan di Vidio
-
lain lain 16 September 2026 12:28KapanLagi Pensi Bareng 2026 Sambangi SMAN 2 Tangsel, Hadirkan Pasming Based hingga SEEN
-
lain lain 16 September 2026 11:31Melihat Wajah Futuristik Jepang di Oasis 21
-
lain lain 16 September 2026 11:19Lagi Nonton Asian Games 2026, Jangan Lupa Kunjungi Salah Satu Kastil Tertua di Jepang!
SOROT
-
Liputan6 19 September 2026 23:00Zulhas Usul Kuliah di PTN Gratis, Prabowo Langsung Setuju
-
Liputan6 19 September 2026 18:36Puluhan Ribu Kapal Asing Ambil Ikan di Laut Indonesia, Prabowo Janji Urus Nelayan Lokal
-
Liputan6 19 September 2026 17:40B50 Sukses, Prabowo Ingin Buat Bensin dari Batu Bara
-
Liputan6 19 September 2026 17:15Prabowo Sebut Solar Langka di Dunia, Bersyukur Indonesia Tak Lagi Impor
-
Liputan6 19 September 2026 16:04Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia
-
Liputan6 19 September 2026 16:00Prabowo: Bangsa yang Tidak Kuat, Akan Diinjak-injak Bangsa Lain
MOST VIEWED
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...

















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352703/original/006845200_1789833601-WhatsApp_Image_2026-09-19_at_22.37.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336605/original/020275700_1788167610-IMG-20260831-WA0130.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352579/original/041360800_1789808935-1000447202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302220/original/068100800_1784536790-Pidato_Prabowo_di_Sidang_Kabinet.jpg)

