FOLLOW US:

Bolanet Unseen: Horor 35 Ribu Kaki di Atas Permukaan Laut

Kamis, 03-01-2019 19:07
Bolanet Unseen: Horor 35 Ribu Kaki di Atas Permukaan Laut
Suasana Bandara Udara © Bola.Net

Bola.net - Hai Bolaneters? Apa kabar? Baik-baik saja kan? Semoga di tahun baru 2019 ini kita semua diberikan kesehatan dan rejeki yang berlimpah ya?

Oke untuk edisi Bolanet Unseen minggu ini, Saya ingin sedikit bercerita mengenai pengalaman horor saya saat mudik Natal dan Tahun baru kemarin.

Untuk liburan kali akhir tahun ini saya diminta untuk pulang ke Rumah orang tua saya di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Singkat cerita, setelah melakukan koordinasi dengan Manajer dan HRD, saya diperbolehkan untuk mengambil cuti. Pada tanggal 22 Desember itu, saya bertolak dari kota Malang ke Surabaya untuk terbang ke Kupang melalui Bandara Internasional Juanda.

Perjalanan dari Malang ke Surabaya (tepatnya Sidoarjo sih) sebenarnya cukup bikin deg-degan. Di daerah Pandaan saat itu terjadi kecelakaan Lalu Lintas yang membuat arus lalu lintas agak macet, dan kemacetan itu terulang saat mau memasuki pintu tol ke arah Juanda. Sempat was-was telat check in, syukurlah saya bisa sampai di Juanda tepat waktu dan melakukan Check In.

Penerbangan saya sendiri dijadwalkan akan berangkat pada Pukul 15.30 WIB dan Boarding ke pesawat dijadwalkan pada Pukul 14.50 WIB. Namun hingga waktu menunjukkan Pukul 15.30, tidak ada tanda-tanda panggilan untuk Boarding. Tidak lama berselang petugas mengumumkan bahwa Penerbangan kami ditunda sekitar satu jam karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

Memang pada saat itu disekitar Bandara Juanda sudah diselimuti awan gelap dan hujan rintik-rintik mulai membasahi. Selain itu saya sempat menelpon Keluarga saya di Kupang, dan mereka bilang jika di Kupang sedang hujan badai, sehingga saya dan penumpang lainnya bisa memaklumi jika penerbangan ini harus ditunda.

Pada Pukul 16.30, petugas Maskapai kembali memberikan pengumuman. Para penumpan termasuk saya berharap pengumuman itu bahwa kami sudah diperbolehkan boarding, namun ternyata kami diminta mengambil makanan ringan sebagai kompensasi penundaan penerbangan ini. Namun sekitar 20 menit setelah pengumuman itu, petugas mengumumkan kami sudah boleh boarding.

Sejujurnya untuk kali ini saya agak parno untuk bepergian dengan Pesawat Terbang. Maklum, insiden kecelakaan Pesawat beberapa bulan yang lalu masih terngiang-ngiang di benak saya dan saya yakin hal itu juga menghantui penumpang lainnya, karena ketika Cabin Crew meminta kami semua berdoa sebelum terbang, seluruh pesawat benar-benar berdoa dengan khusuk.

Penerbangan ke Kupang menurut Mbak Pramugari akan ditempuh dalam waktu Satu Jam dan Lima Puluh Menit. Pada saat itu saya ngantuk berat karena menunggu delay pesawat itu sehingga saya memutuskan untuk tidur setelah pesawat lepas landas. Pada saat kami lepas landas, cuaca di sekitar Bandara sudah tidak diguyur hujan deras lagi, melainkan hanya gerimis rintik-rintik saja.

Karena udah bawaannya ngantuk, saya tidak butuh waktu lama untuk tidur. Namun sekitar 45 menit terbang, tidur saya mulai terganggu karena pesawat mulai mendapatkan beberapa goncangan kecil dengan frekuensi yang cukup sering. Pada saat itu Cabin Crew memberikan pengumuman bagi semua penumpang untuk mengenakan sabuk pengaman dan kembali ke tempat duduk masing-masing karena pesawat tengah menerjang cuaca yang buruk.

Setelah pengumuman itu, intensitas guncangan mulai menurun, dan sempat tidak ada guncangan lagi sekitar 20 menit. Alhasil saya mencoba untuk tidur kembali karena mata ini masih berat. Namun saya ingat betul belum sampai 10 menit saya mencoba tidur, tiba-tiba pesawat berguncang dengan keras. Saking kerasnya guncangan itu saya yang posisinya lagi nyender di kursi, tiba-tiba kepala saya membentur jendela (iya, saya duduk di kursi pinggir jendela). Selain kaget karena benturan itu, saya juga kaget karena penumpang yang tepat duduk di belakang saya berteriak saat guncangan itu terjadi.

Seketika itu juga suasana di dalam kabin mulai mencekam. Tidak lama kemudian, pesawat kembali berguncang. Meski tidak sekeras guncangan pertama itu, namun guncangan kali ini masih tergolong cukup keras. Sialnya guncangan ini tidak datang satu kali saja, namun dalam ingatan saya, ada sekitar 6 kali guncangan keras ini terjadi dalam interval 10 menit.

Mayoritas penumpang terlihat ketakutan dengan situasi ini. Banyak yang sudah komat-kamit membaca doa (termasuk Saya) agar bisa selamat melewati badai ini. Namun di tengah-tengah doa itu, hampir seluruh penumpang berteriak ketika pesawat tiba-tiba terasa menurunkan ketinggian terbang secara mendadak atau istilah kerennya Turbulensi. Turbulensi yang terjadi sebenarnya tidak lama, mungkin sekitar 3 detik saja namun menimbulkan chaos di dalam kabin karena beberapa penumpang mengira pesawat akan jatuh. Namun Mbak-Mbak Pramugari yang bertugas sepertinya sudah biasa dengan situasi ini, sehingga mereka tidak ketakutan dan mencoba menenangkan para penumpang yang panik.

Paska Turbulensi itu, situasi cuaca berangsur-angsur membaik. Pesawat sudah tidak mendapatkan guncangan besar kembali, meski terkadang ada guncangan-guncangan kecil masih terasa hingga sekitar 15 menit setelahnya Pesawat bebas guncangan.

Saya kira setelah kejadian-kejadian itu, saya bisa bernafas lega. Eh malah beberapa detik sebelum Landing di Bandara El Tari, Kupang, kami satu pesawat kembali mendapatkan kejutan. Kali ini ketika pesawat akan mendarat, proses mendaratnya sangat keras sehingga tubuh saya terpental ke kursi di depan saya diiringi sejumlah teriakan kaget dari penumpang lainnya. Usut punya usut, ketika pesawat mendarat, ada kubangan air bekas hujan di landasan pacu, sehingga pesawat tidak bisa mendarat dengan mulus.

Menurut salah satu penumpang, kami cukup beruntung hanya mengalami benturan keras itu. Karena dengan kubangan air tersebut, pesawat berpotensi terpeleset saat mendarat dan bisa menimbulkan kerusakan yang lebih besar lagi. Pesawat sendiri akhirnya bisa mendarat dengan sempurna di Bandara El Tari, Kupang. Setelah mengantri untuk turun Pesawat, saya akhirnya menginjakkan kaki di tanah kelahiran saya sembari disambut oleh rintikan air hujan.

Itu tadi sedikit (tapi banyak ternyata, maap yak!) pengalaman saya mudik kemarin. Jangan lupa nantikan kisah-kisah seru di balik layar Bolanet minggu depan ya, Bolaneters!