FOLLOW US:

Egy Maulana Vikri, Eropa dan Tuhan

Senin, 12-03-2018 16:06
Egy Maulana Vikri, Eropa dan Tuhan
Egy Maulana Vikri © Lechia Gdansk
Bola.net - Egy Maulana Vikri telah mencapai cita-citanya yang ia tanam sejak ia masih sangat kecil, yaitu bermain sepakbola di Eropa. Masalah sukses atau tidak, itu waktu yang akan membuktikan. Tapi Egy sangat percaya ia bisa bersaing dengan orang-orang Eropa. Ia mendapat dukungan dari keluarganya, ia percaya mendapat pertolongan dari Tuhan.

Minggu (11/3), adalah hari yang sangat bersejarah bagi Egy. Pemain asal Medan tersebut menandai perjalanan kariernya bermain untuk satu klub di Eropa, Lechia Gdansk.

Memang, tim Gdanskie Lwy itu bukan sebuah tim besar di Polandia. Di liga utama yang terkenal dengan sebutan Ekstraklasa, Gdansk tak ubahnya sebuah klub yang berjuang di papan tengah. Tapi bukan berarti klub itu tak pernah meraih gelar apa-apa. Pada tahun 1983, Gdansk pernah menjuarai Piala Polandia.

Meski demikian, menapakkan kaki di Gdansk adalah sebuah langkah besar bagi anak Indonesia yang mengawali kariernya di sekolah sepakbola Tasbi Medan. Tak banyak anak dari Nusantara yang mendapat perhatian dari klub Eropa, kecuali pemain itu adalah pemain berbakat seperti Egy. Top skor di Piala AFF U-19 mulai menjadi perhatian setelah bersinar bersama Timnas Indonesia U-19 besutan Indra Sjafri.

Bermain di Eropa bagi Egy, tidak seperti pemain Indonesia yang dulu-dulu pernah mengecap tanah Eropa yaitu mereka yang pernah melakukan trial di satu klub. Lalu gagal dan disuruh pulang.

Egy berbeda. Dia langsung mendapat kepercayaan dari klub yang musim ini menduduki peringkat 13 di klasemen Ekstraklasa tersebut. Pemain 17 tahun tersebut langsung mendapat sodoran kontrak dengan durasi tiga tahun, aktif per 8 Juli 2018 mendatang-- menunggu usianya genap 18 tahun.

Bukan hanya itu saja kepercayaan yang diberikan Gdansk pada Egy. Selain durasi kontrak profesional jangka panjang, Egy juga mendapat amanah mengemban angka 10 pada jerseynya.

Angka tersebut di dalam sepakbola dipercaya sebagai angka yang keramat. Di Barcelona, Lionel Messi yang mengenakan angka tersebut.

Sementara itu, nomor 10 di Gdansk saat ini masih dikenakan sang kapten tim, Sebastian Mila. Egy akan mewarisi nomor tersebut ketika pemain bersangkutan  gantung sepatu di akhir musim ini.

“Semua tahu Sebastian Mila. Dia pemain terkenal di Polandia dan tim nasional. Empat tahun lalu, dia cetak gol ke gawang Jerman di kualifikasi Piala Eropa 2016. Itu kemenangan perdana Polandia atas Jerman dalam 71 tahun," papar Janusz Melaniuk yang menjabat sebagai Direktur Teknik di Lechia Gdansk soal peran Mila di klub.  

“Jadi, Presiden klub memutuskan untuk memberikan nomor 10 kepada Egy untuk menunjukkan bahwa kami percaya kepada dia. Dan, kami yakin Egy akan menunjukkan bahwa dia pantas memakai nomor itu di Lechia,”  tegasnya.


Mimpi Sukses di Eropa




Banyak faktor yang akan memengaruhi kesuksesan Egy di Gdansk. Yang pertama tentu saja, ia harus mampu memaksimalkan bakatnya untuk bersaing dengan para pemain yang ada di skuat besutan Piotr Stokowiec. Kemudian faktor pendukung lainnya yaitu soal kemampuannya mengadaptasikan diri dengan lingkungan barunya.

Hidup di negeri orang tentu tak akan mudah bagi Egy. Apalagi Eropa yang memiliki banyak perbedaan budaya di segala lini dengan Indonesia.

Untuk mempertimbangkan itu semua, itulah kenapa Egy membutuhkan waktu yang cukup lama dalam menentukan pilihannya bersama dengan agennya ketika hendak menuju Eropa. Gdansk dan Polandia akhirnya menjadi pilihan, setelah sebelumnya Egy sering dikaitkan dengan sejumlah klub di berbagai negara termasuk Prancis, Italia, Spanyol, hingga Portugal.

"Pilihan pertama [dalam memilih klub] itu masjid. Saya lihat agamanya di sana seperti apa. Terlebih lagi di Eropa banyak rasis," demikian pernyataan Egy sebelum berangkat ke Eropa.

Gdansk memang akhirnya menjadi pilihan yang ideal bagi Egy. Kota di bagian utara Polandia ini memiliki penduduk sekitar 460 ribu jiwa pada tahun 2016. 15 ribu di antara populasi tersebut bukan orang Polandia asli. Mereka adalah para pendatang dari berbagai negara termasuk dari Ukraina, Georgia, Suriah dan Belarusia. Sementara itu walikota Gdansk mencanangkan wilayah Gdansk ini adalah kota yang ramah pada pendatang. Di dalam perbedaan ini, bahasa mayoritas yang digunakan adalah bahasa Inggris.

Berbicara soal keberadaan masjid seperti yang diharapkan Egy, di Gdansk sendiri merupakan wilayah yang ramah terhadap muslim-- di tengah masih banyak islamofobia di Eropa. Di Gdanks sendiri terdapat sebuah masjid besar yang mewakili keberadaan komunitas muslim. Masjid yang dibangun sejak tahun 1990 tersebut selain memiliki fungsi sebagai tempat ibadah, juga menjadi pusat kebudayaan juga pusat informasi tentang keislaman. Uniknya, masjid tersebut berdiri di sebelah gereja. Ini membuktikan bahwa Gdansk memang menjunjung tinggi sebuah sosial yang plural seperti di Indonesia.

Kemudian di Gdansk juga terdapat monumen untuk mengenang salah satu tokoh Islam di Polandia, Dariusz Jagiello. Ini semua tampaknya sudah cukup bagi Egy menjadi bukti  bahwa Gdanks memang kota seperti yang ia harapkan.


Egy dan Tuhan




Di manapun berada, Egy selalu berusaha menjaga kedekatannya dengan Tuhan. Sejak kecil, dalam dirinya memang sudah mendapat pendidikan soal ilmu keagamaan.

Egy mencintai sepakbola ketika usianya masih dua tahun. Ia sering bermain bersama kakaknya di lapangan di Jalan Tanjung Sari. Meskipun orang tuanya sangat mendukung Egy bermain sepakbola, tapi ngaji (belajar ilmu agama) tetap harus ia laksanakan paling tidak 3-4 jam setiap hari. Setelah belajar itu, Egy baru boleh bermain bola.

"Waktu itu dia masih kecil sekitar jam 3 atau jam 4, dia ngaji dulu. Pulang ngaji baru main bola sama mamanya. Sampai lapangan anak-anak kan sudah habis, jadi di situ dia merajuk. Biar dia nggak nangis, itu saya bawa main sama orang gede-gede, kebetulan saya pemain juga, saya suruh dia di depan saja, jadi saya yang lewati kiper lalu saya kasih dia biar dia yang cetak gol," kisah dari orang tua Egy, Syarifuddin, dalam wawancara bersama Kumparan.

Pendidikan itu yang kemudian membentuk kepribadian Egy hingga dewasa ini. Berkat pendidikan dari orang tuanya itu, selain ahli di bidang sepakbola, Egy juga menjadi taat dalam menjalankan perintah agama. Kemanapun ia pergi, ia tak pernah lupa membawa kitab suci Alquran.

Bahkan ketika bermain di Polandia, Egy berjanji akan tetap menjaga nilai-nilai dalam agamanya, demi menjaga kedekatannnya dengan Tuhan. Salah satunya yaitu dengan bersujud syukur ketika mencetak gol, seperti yang ia lakukan di Timnas Indonesia.

“Kalau saya cetak gol di sini, saya akan sujud syukur,” kata Egy ketika dalam jumpa pers di markas Gdansk.

Memang seperti itulah yang diharapkan orangtua pada Egy. Mereka berharap anaknya sukses dalam meniti karier di dunia sepakbola, tapi juga tak melupakan peran Tuhan di dalam setiap langkahnya.

"Semoga di sana, Egy dapat mengangkat tim yang dibelanya. Dan ke depannya, dapat mengembangkan bakat dan prestasi setinggi-tingginya," pesan sang ayah pada Egy yang sekarang ada di Eropa.

“Jangan lupa beribadah dan berdoa kepada Tuhan. Karena suksesnya kita nanti, tidak lepas dari Allah SWT."



 (bola/shd)