FOLLOW US:

Milan yang Tak Perlu Dibuat Bahan Lelucon Lagi

Senin, 04-12-2017 16:45
Milan yang Tak Perlu Dibuat Bahan Lelucon Lagi
AC Milan. © AFP
Bola.net - AC Milan adalah salah satu klub dari Italia. Dulu klub yang memiliki julukan Rossoneri ini pernah menjadi klub raksasa yang ditakuti di seluruh dunia.

Mereka pernah menjuarai Liga Champions tujuh kali, terbanyak kedua setelah Real Madrid. Milan juga sudah merasakan 18 kali menjadi juara liga Italia. Masih banyak gelar yang pernah dimenangkan Milan termasuk menjadi juara Piala Dunia Antarklub sekali.

Performa Milan akhir-akhir ini tengah menurun. Terakhir kali mereka menjadi juara Serie A adalah di tahun 2011 lalu. Setelah itu tak ada satu gelar pun yang dapat  mereka raih kecuali Piala Super Italia tahun lalu bersama pelatih Vincenzo Montella.

Lalu upaya untuk mengembalikan kejayaan Milan dimulai pada tahun 2017 ini. Setelah mendapat investor baru dari Tiongkok, klub bermarkas di Stadion San Siro tersebut melakukan belanja besar-besaran untuk menyambut musim baru.

Revolusi. Istilah ini tak berlebihan untuk menggambarkan perubahan besar-besaran yang dilakukan Milan. Mereka berganti kepemilikan dan kepengurusan, mereka juga punya simpanan dana segar yang memadai. Maka dengan demikian, klub yang dalam satu dekade terakhir suka pinjam pemain atau mendatangkan pemain secara gratisan tersebut, di bursa transfer musim panas lalu mereka menghadirkan 11 pemain baru di antaranya Leonardo Bonucci dari Juventus.

Langkah tersebut tentu saja menggemparkan. Hal itu membuat Milan antusias menyambut musim baru dan para penantang gelar pantas mewaspadai serangan kejutan yang mungkin akan dilakukan Milan.


Menjadi Lelucon


Waktu berjalan dan Milan harus membuktikan bahwa revolusi yang berlangsung bukan revolusi tanpa arti.

Di awal-awal musim, Milan memang tampak mengerikan karena membuktikan bisa lolos dari babak kualifikasi dan playoff Liga Europa dengan mulus bersama skuat baru. Di dua laga perdana Serie A, mereka pun selalu menang.

Nah, memasuki pekan ketiga, Milan mulai menuai cibiran. Bagaimana tidak, ketika menghadapi Lazio, Milan mengalami kekalahan telak. Mereka kalah dengan skor 4-1. Cibiran yang kemudian muncul adalah, bagaimana mungkin klub semahal Milan bisa mengalami kekalahan dari Lazio yang nilai skuatnya tak ada separuh harga Milan.

Cibiran pertama ini memang belum masuk akal karena toh waktu itu baru kekalahan sekali. Memang benar, melihat kekalahan Milan dari Lazio untuk menjadi bahan lelucon memang tidak masuk akal kala itu. Karena di dua pertandingan selanjutnya, Milan bisa meraih kemenangan ketika menghadapi Udinese dan SPAL di kandang sendiri.

Tapi kemudian ketika Milan menghadapi klub yang lebih kuat seperti Sampdoria, mereka kembali mengalami kekalahan. Milan tentu tak bisa membantah jika mereka bermain sangat buruk dalam laga tandang itu. Permainan Milan tak bisa berkembang sehingga menelan kekalahan 0-2 yang tak semestinya terjadi.

Pasca kekalahan, CEO AC Milan, Marco Fassone, pun langsung mencak-mencak dan mengatakan kekalahan menghadapi klub yang lebih kecil dari Milan seperti Sampdoria tak sepantasnya terjadi.

Kekalahan Milan berlanjut ketika menghadapi laga kandang lawan AS Roma. Dalam laga itu, pasukan Montella kalah dengan skor 0-2. Pekan berikutnya  lawan Inter Milan, Milan juga kalah dengan hasil akhir 3-2.

Menghadapi Genoa pada pekan ke-9 di kandang sendiri menjadi harapan untuk kebangkitan Milan setelah rentetan kekalahan tiga kali secara beruntun. Tapi sayang, lawan Genoa Milan hanya bisa mendapat hasil imbang 0-0.

Kemenangan atas Chievo menjadi angin segar bagi Milan. Namun pada pekan berikutnya, Milan harus menjamu Juventus. Mudah untuk menebak bahwa Milan akan kalah menghadapi sang juara bertahan. Demikian juga ketika menghadapi Napoli yang bermain apik sepanjang musim ini, Milan juga mengalami kekalahan 2-1 meski sebelumnya mendapat kemenangan atas Sassuolo.

Hasil imbang di kandang sendiri menghadapi Torino menjadi hari terakhir Montella bersama Milan. Ia akhirnya dipecat dan Gennaro Gattuso mengambil alih pekerjaan sebagai pelatih.

Kekalahan dan hasil mengecewakan rasanya sudah menjadi hal yang wajar bagi Milan musim ini. Lalu buat apa menjadikan lelucon terhadap sesuatu yang sudah wajar. Sampai saat ini, pada pekan ke-15 Serie A, Milan telah mengalami kekalahan enam kali, imbang tiga kali dan mencatatkan kemenangan enam kali.

Saat ini, Milan berada di peringkat delapan dengan jarak cukup jauh dari empat besar. Dengan Inter Milan di puncak klasemen, Milan berjarak 18 poin. Kemudian dengan AS Roma yang berada di peringkat empat (belum menjalani pekan ke-14), Milan punya jarak 13 poin.


Gattuso dan Gagal Menang vs Benevento


Di pertandingan terakhir yang merupakan laga debut bagi Gattuso di bangku pelatih menghadapi klub calon degradasi Benevento, Milan kembali mendapat hasil bukan kemenangan. Dalam pertandingan itu, Milan hanya mendapat hasil imbang 2-2.

“Ha...Ha... Ha... Adalah fakta Milan merupakan satu-satunya klub yang gagal mendapatkan poin penuh dari Benevento musim ini,” katakan begitu jika ingin menertawakan performa Milan.

Bagi pendukung Milan, hasil imbang—bukan kekalahan—menghadapi Benevento tersebut adalah sebuah hasil yang sangat mengecewakan. Tapi jika melihat konsistensi performa Milan sepanjang musim ini, hasil tersebut menjadi hal yang cukup pantas bagi mereka.


Berhenti Melihat Milan sebagai Raksasa


Bukan hal yang salah jika Milanisti sangat kecewa dengan hasil imbang lawan Benevento. Dan jika Milan mengalami kekalahan tak terduga juga merupakan kewajaran dalam sepakbola.

Yang tidak wajar adalah apabila Milan tetap dipandang sebagai klub hebat seperti beberapa tahun lalu ketika dalam skuat mereka masih terdapat nama hebat termasuk Gattuso—yang saat ini sudah menjadi pelatih.

Wajah Milan telah berubah. Hal itu harus disadari. Itulah yang membuat Milan sulit bersaing di papan atas dalam beberapa musim terakhir. Maka pandangan terhadap tim yang identik dengan warna hitam-merah ini pun harus ikut bergeser.

Mentalitas sebagai tim juara adalah salah satu masalah yang mendera tubuh Milan saat ini. Mereka butuh waktu untuk menumbuhkan mental tersebut di antara para pemain.

Jika ditarik ke belakang, Milan telah kehilangan pemain bermental juara setelah ditinggalkan para pemain senior pasca Scudetto yang terakhir. Sehingga tercatat hanya Ignazio Abate, pemain dalam skuat Milan saat ini, yang pernah merasakan juara Serie A pada 2011. Artinya, ada transformasi mental juara yang terputus dalam tubuh Milan.

Sampai di sini dapat disimpulkan, Milan bukan klub besar seperti beberapa waktu lalu yang gagah perkasa bermain lawan Liverpool di final Liga Champions 2005 tapi kalah, kemudian membalas pada final Champions 2007. Maka jika Milan mengalami hal-hal buruk, seperti tak mampu mengalahkan Benevento, tak perlu membuat terkejut. Sebab, sekali lagi, Milan sekarang bukan Milan yang dulu.  

Benar bahwa Milan ingin kembali menjadi besar dengan mendatangkan sejumlah pemain pada musim panas lalu. Namun kehadiran para pemain itu tidak membuat Milan langsung bermain hebat. Mereka masih butuh waktu membangun sistem dalam proyek tersebut.

Salah satu bukti lagi bahwa Milan bukan klub besar adalah pasca pemecatan Montella kemudian menunjuk Gattuso. Sementara itu banyak pelatih yang kaya pengalaman yang tak memiliki pekerjaan seperti Guus Hiddink yang ampuh membangkitkan keterpurukan tim di tengah musim atau Carlo Ancelotti yang sudah terbukti mampu memberi Milan gelar juara. Tapi Milan justru memilih mempekerjakan Gattuso yang belum lama menggeluti karier pelatih.

Tapi faktanya, Milan sekarang di bawah kendali Gattuso. Sejak awal musim, Milan sudah enam kali kalah dan tiga kali imbang dari 15 laga di Serie A. Kekalahan dan hasil mengecewakan mungkin bisa terulang di laga-laga yang akan datang. Jika hal itu terjadi, tak perlu membuat terkejut atau dijadikan bahan lelucon. Sebab memang begitulah Milan saat ini.

(bola/shd)