Apa yang Terjadi di Laga Bosnia vs Italia: Seberapa Menyakitkan Gagal Lolos Piala Dunia, Azzurri?

Apa yang Terjadi di Laga Bosnia vs Italia: Seberapa Menyakitkan Gagal Lolos Piala Dunia, Azzurri?
Pemain muda Marco Palestra (kiri) tak kuasa menahan tangis di pelukan Leonardo Spinazzola usai kalah dari Bosnia di final playoff Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Armin Durgut

Bola.net - Untuk ketiga kalinya secara beruntun, juara dunia empat kali, Italia, kembali gagal lolos ke Piala Dunia.

Setelah tersingkir oleh Swedia pada playoff 2017 dan dikalahkan Makedonia Utara pada 2022, kali ini Italia harus menerima kenyataan pahit usai takluk dari Bosnia dan Herzegovina. tim peringkat 71 dunia, melalui adu penalti.

Tim asuhan Gennaro Gattuso sempat unggul lebih dulu lewat gol Moise Kean. Namun, kartu merah Alessandro Bastoni menjelang akhir babak pertama mengubah jalannya pertandingan secara drastis.

Bosnia mendominasi peluang dengan 21 tembakan, tetapi baru mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-78 melalui pemain pengganti Haris Tabakovic, yang memanfaatkan bola rebound dari sundulan Edin Dzeko.

Setelah tidak ada gol tambahan di babak perpanjangan waktu, laga ditentukan lewat adu penalti. Italia gagal total: Pio Esposito menendang bola jauh di atas mistar, sementara Bryan Cristante membentur mistar gawang. Bosnia memastikan kemenangan lewat eksekusi Kerim Alajbegovic.

Bosnia pun lolos ke Piala Dunia 2026 dan akan menghuni Grup B bersama Kanada, Qatar, dan Swiss.

Seberapa Menyakitkan Kegagalan Ini bagi Italia?

Seberapa Menyakitkan Kegagalan Ini bagi Italia?

Reaksi pemain Italia setelah kalah dalam laga final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Bosnia vs Italia di Zenica, 1 April 2026 (c) Fabio Ferrari/LaPresse via AP

Ini adalah malam penuh luka bagi Italia.

Sempat unggul dan tampil menjanjikan, harapan sempat muncul bahwa mereka bisa mengakhiri kutukan di dua edisi Piala Dunia sebelumnya. Namun kartu merah Bastoni mengubah segalanya. Bermain dengan 10 orang, Italia tetap bertahan dengan gigih dan bahkan memiliki peluang untuk menggandakan keunggulan.

Moise Kean gagal dalam situasi satu lawan satu, sementara Esposito juga menyia-nyiakan peluang. Saat Bosnia menyamakan kedudukan, Italia tidak runtuh. Mereka terus berjuang, dengan Gianluigi Donnarumma tampil solid di bawah mistar.

Namun, di babak adu penalti, keberuntungan tidak berpihak. Pio Esposito, yang berani mengambil penalti pertama, gagal total. Masa depan Italia mungkin ada di tangannya, tetapi masa kini mereka kembali tanpa Piala Dunia.

Kartu Merah Bastoni: Titik Balik Pertandingan

Kartu Merah Bastoni: Titik Balik Pertandingan

Wasit Clement Turpin memberikan kartu merah kepada Alessandro Bastoni dalam laga final play-off kualifikasi Piala Dunia antara Bosnia dan Italia di Zenica, 1 April 2026 (c) Fabio Ferrari/LaPresse via AP

Setelah gol pembuka Moise Kean, Italia tampak mengendalikan pertandingan. Namun kesalahan fatal Bastoni mengubah arah laga.

Ia melakukan tekel ceroboh terhadap Amar Memic saat menjadi pemain terakhir. Wasit Clement Turpin tak punya pilihan selain mengeluarkan kartu merah.

Keputusan itu memaksa Gattuso mengubah strategi secara drastis. Italia menarik penyerang dan memperkuat lini belakang, fokus mempertahankan keunggulan. Mereka bermain lebih defensif, bahkan cenderung “parkir bus”.

Meski begitu, Italia masih sempat menciptakan peluang melalui serangan balik. Namun kegagalan memanfaatkannya membuat Bosnia terus menekan hingga akhirnya menyamakan skor.

Drama Adu Penalti

Drama Adu Penalti

Reaksi pemain Italia ketika adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina di playoff Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Armin Durgut

Dengan Donnarumma di bawah mistar, Italia sebenarnya lebih diunggulkan. Pasalnya kiper Manchester City tersebut dinilai lebih berpengalaman dalam situasi adu penalti. Apalagi Edin Dzeko tidak bisa ikut menendang karena cedera.

Namun Bosnia tampil tenang dan efektif.

Setelah Esposito gagal, tekanan langsung berpindah ke Italia. Cristante kemudian memperburuk situasi dengan tendangan yang membentur mistar.

Penentu kemenangan datang dari Esmir Bajraktarevic, pemain kelahiran Wisconsin, yang sukses mencetak gol meski bola sempat disentuh Donnarumma.

Apa yang Dilakukan Bosnia?

Apa yang Dilakukan Bosnia?

Selebrasi pemain Bosnia dan Herzegovia usai memastikan lolos Piala Dunia 2026 dengan mengalahkan Italia di final playoff. (c) AP Photo/Armin Durgut

Bosnia menunjukkan ketahanan mental dan kesabaran luar biasa.

Momentum memang berpihak pada mereka setelah kartu merah Bastoni, tetapi mereka juga tampil disiplin dan konsisten menekan pertahanan Italia. Kekuatan fisik, terutama dari situasi bola udara, menjadi senjata utama.

Edin Dzeko, meski telah berusia 40 tahun, tetap menjadi pusat permainan dengan pengalaman dan kecerdasannya. Sementara itu, pemain muda seperti Kerim Alajbegovic memberikan energi baru dan kreativitas.

Kemenangan ini bukan sekadar keberuntungan. Bosnia layak lolos ke Piala Dunia setelah penampilan yang solid dan menunjukkan ketenangan yang dibutuhkan di babak tos-tosan.

Performa Kean yang Tak Cukup Menyelamatkan Italia

Performa Kean yang Tak Cukup Menyelamatkan Italia

Moise Kean merayakan gol bersama rekan setimnya dalam laga final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Bosnia vs Italia di Zenica, 1 April 2026 (c) Fabio Ferrari/LaPresse via AP

Moise Kean tampil tajam dengan mencetak gol dalam enam pertandingan beruntun. Rekor yang mengingatkan pada Salvatore Schillaci sejak 1990.

Golnya ke gawang Bosnia menunjukkan insting striker murni: cepat, tegas, dan efisien. Ia juga berkembang menjadi penyerang kotak penalti yang klinis.

Namun, peluang emas yang ia buang untuk menggandakan keunggulan menjadi momen krusial. Tanpa gol kedua, tekanan terhadap Italia terus meningkat hingga akhirnya mereka kebobolan.

Dampak bagi Kanada di Grup B

Dampak bagi Kanada di Grup B

Selebrasi pemain Bosnia dan Herzegovina usai memastikan ke Piala Dunia 2026 dengan mengalahkan Italia lewat adu penalti di final playoff Piala Dunia, 1 April 2026. (c) AP Photo/Armin Durgut

Lolosnya Bosnia memberi dampak tersendiri bagi Kanada.

Jika Italia yang lolos, laga di Toronto berpotensi dipenuhi suporter Italia dalam jumlah besar. Kini, peluang Kanada bermain dengan dukungan mayoritas publik sendiri meningkat.

Namun, Bosnia bukan lawan yang mudah. Mereka telah membuktikan diri sebagai tim yang tangguh dan mampu memberi kejutan. Kanada tetap harus waspada, terutama di laga pembuka Piala Dunia.

Italia kembali gagal, kali ini dengan cara yang paling menyakitkan: kalah setelah sempat unggul dan melalui adu penalti.

Sebaliknya, Bosnia dan Herzegovina menandai kembalinya mereka ke Piala Dunia setelah absen sejak 2014.

Sepak bola sekali lagi menunjukkan bahwa reputasi besar tidak menjamin hasil.