Lionel Messi yang Terus Berevolusi

Lionel Messi yang Terus Berevolusi
Lionel Messi melakukan pemanasan dalam sesi latihan menjelang laga uji coba internasional melawan Mauritania, di Buenos Aires, Argentina, 25 Maret 2026 (c) AP Photo/Gustavo Garello

Bola.net - Lionel Messi masih menjadi harapan utama Timnas Argentina menjelang Piala Dunia 2026. Jika Albiceleste mampu mempertahankan gelar juara dunia, peran sang kapten hampir pasti kembali menjadi faktor penentu.

Namun, Lionel Messi yang akan tampil di turnamen itu sangat berbeda dibanding remaja 16 tahun yang menjalani debut bersama Barcelona pada 2003. Dalam lebih dari dua dekade karier profesional, ia terus mengubah cara bermainnya agar tetap berada di level tertinggi.

Sebagian besar pemain mengalami penurunan performa seiring bertambahnya usia. Messi memilih jalur berbeda dengan menyesuaikan diri terhadap perkembangan taktik sepak bola modern.

Perubahan tersebut tidak terjadi hanya sekali. Sepanjang kariernya, pemain asal Argentina itu berkali-kali menemukan versi baru dari dirinya.

Hasilnya adalah perjalanan unik yang mengubah Messi dari winger eksplosif menjadi veteran berpengalaman yang tetap mampu mengendalikan pertandingan. Evolusi itulah yang membuatnya terus relevan hingga usia 38 tahun.

Awal Karier Sebagai Winger Kanan

Awal Karier Sebagai Winger Kanan

Lionel Messi dalam sesi latihan menjelang laga uji coba internasional melawan Mauritania, di Buenos Aires, Argentina, 25 Maret 2026 (c) AP Photo/Gustavo Garello

Saat pertama kali menembus tim utama Barcelona, Messi beroperasi di sisi kanan serangan. Kecepatan, dribel, dan kebiasaannya bergerak ke tengah menjadi senjata utama untuk membongkar pertahanan lawan.

Legenda Brasil, Ronaldinho, bahkan langsung melihat potensi besar dalam diri rekan mudanya tersebut. Prediksi itu terbukti ketika Messi mulai menarik perhatian dunia pada pertengahan dekade 2000-an.

Pelatih Barcelona kala itu, Frank Rijkaard, memahami bahwa tim membutuhkan Messi lebih dekat dengan pusat permainan. Semakin sering ia menyentuh bola, semakin besar pengaruhnya terhadap performa tim.

Revolusi Guardiola dan Lahirnya False Nine

Revolusi Guardiola dan Lahirnya False Nine

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola. (c) AP Photo/Dave Thompson

Transformasi terbesar terjadi ketika Josep Guardiola mengambil alih Barcelona pada 2008. Sang pelatih perlahan memindahkan Messi dari sayap menuju area sentral lapangan.

Eksperimen paling terkenal terjadi saat menghadapi Real Madrid pada Mei 2009. Messi dimainkan sebagai false nine, turun ke lini tengah untuk menerima bola dan menciptakan ruang bagi rekan-rekannya.

Perubahan itu menghasilkan dampak luar biasa. Barcelona menang 6-2 di Santiago Bernabeu dan dunia sepak bola menyaksikan lahirnya sistem yang sulit dihentikan.

Bek lawan sering berada dalam dilema ketika Messi turun menjemput bola. Mengikutinya berarti membuka ruang di belakang, sementara membiarkannya bebas memberi kesempatan mengatur serangan.

Mesin Gol yang Menguasai Eropa

Mesin Gol yang Menguasai Eropa

Lionel Messi saat membela Barcelona dalam pertandingan La Liga melawan Valladolid di Camp Nou, Selasa (29/10/2019). (c) AP Photo/Joan Monfort

Peran baru membuat produktivitas Messi melonjak drastis. Antara 2011 hingga 2013, ia mencetak 96 gol dalam 69 pertandingan La Liga.

Kesuksesan tersebut beriringan dengan dominasi individu di panggung dunia. Delapan trofi Ballon d'Or menjadi bukti bagaimana pengaruhnya terus berkembang dari musim ke musim.

Messi juga mengakui banyak belajar dari Guardiola. Dalam wawancara bersama jurnalis Juan Pablo Varsky pada 2024, ia mengungkapkan pemahamannya terhadap ruang, penguasaan bola, dan aspek taktik meningkat pesat selama bekerja sama dengan pelatih asal Spanyol itu.

Dari Pencetak Gol Menjadi Pengatur Serangan

Dari Pencetak Gol Menjadi Pengatur Serangan

Aksi pemain Inter Miami, Lionel Messi (c) Instagram/intermiamicf

Perubahan lain muncul setelah kepergian Xavi dan Andres Iniesta dari Barcelona. Messi tidak lagi hanya bertugas mencetak gol, tetapi juga menjadi kreator utama tim.

Ia mulai bermain lebih dalam dan mengambil peran sebagai penghubung antarlini. Kreativitasnya semakin terlihat melalui jumlah assist yang terus meningkat.

Pada musim 2019-2020, Messi mencatatkan 22 assist dan 25 gol dalam 33 pertandingan La Liga. Statistik itu menunjukkan bagaimana ia mampu menggabungkan peran playmaker dan finisher dalam waktu bersamaan.

Perubahan tersebut berlanjut saat membela PSG. Untuk pertama kalinya dalam karier klubnya, jumlah assist lebih banyak dibanding jumlah gol yang ia ciptakan dalam satu musim.

Pemimpin Argentina dan Versi Terbaik Messi

Pemimpin Argentina dan Versi Terbaik Messi

Lionel Messi mengangkat replika trofi Piala Dunia saat upacara perayaan bersama penggemar setelah laga uji coba internasional melawan Panama di Buenos Aires, 23 Maret 2023 (c) AP Photo/Gustavo Garello

Selain perubahan taktik, perjalanan Messi bersama Argentina juga mengalami perkembangan besar. Setelah beberapa kali gagal di final turnamen internasional, ia tumbuh menjadi sosok pemimpin yang lebih matang.

Gelar Copa America 2021 menjadi titik balik penting. Argentina akhirnya mengakhiri penantian panjang setelah mengalahkan Brasil di final yang berlangsung di Maracana.

Puncaknya terjadi pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Messi memperlihatkan kombinasi sempurna antara kreativitas, pengalaman, ketenangan, dan kemampuan menentukan momen penting.

Kini, bersama Inter Miami dan Timnas Argentina, ia lebih sering berjalan dibanding berlari. Namun, keputusan itu bukan tanda penurunan kualitas, melainkan bentuk efisiensi dalam membaca permainan.

Pablo Aimar pernah mengatakan bahwa versi terakhir Messi selalu menjadi versi terbaiknya. Pernyataan tersebut masih terasa relevan ketika melihat bagaimana sang bintang terus menemukan cara baru untuk memengaruhi pertandingan.

Dari winger muda yang memukau dunia, false nine yang mengubah pendekatan taktik sepak bola, hingga veteran yang tetap mampu melihat ruang lebih cepat daripada pemain lain, Messi telah membuktikan bahwa adaptasi adalah kunci umur panjang di level elite. Itulah alasan mengapa namanya masih menjadi pusat perhatian menjelang Piala Dunia 2026.

Sumber: BBC Sport