Pertarungan Terakhir Mengembalikan Martabat Italia: Mampukah Akhiri Kutukan dan Lolos Piala Dunia 2026?

Pertarungan Terakhir Mengembalikan Martabat Italia: Mampukah Akhiri Kutukan dan Lolos Piala Dunia 2026?
Suporter Italia mendukung timnya saat melawan Irlandia Utara di playoff Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Antonio Calanni

Bola.net - Timnas Italia dikenal sebagai bangsawan dalam sejarah Piala Dunia dengan koleksi empat trofi juara. Namun, kenyataan pahit berbicara bahwa sudah dua dekade berlalu sejak terakhir kali mereka mengangkat trofi emas tersebut di Berlin.

Lebih menyedihkan lagi, Azzurri absen dalam dua turnamen terakhir, menciptakan satu generasi anak-anak Italia yang belum pernah melihat negaranya berlaga di panggung dunia. Kini, satu kemenangan saja akan mengakhiri masa pengasingan internasional yang terasa sangat panjang tersebut.

Harapan itu kini tertumpu pada pundak Manuel Locatelli dan kolega saat bersiap menghadapi babak penentu. Kemenangan 2-0 atas Irlandia Utara di Bergamo pekan lalu telah membentangkan jalan menuju laga final playoff Piala Dunia 2026 melawan Bosnia-Herzegovina.

Seluruh elemen sepak bola Italia kini menahan napas, menanti apakah mereka akan kembali ke habitat aslinya atau justru tenggelam dalam kesengsaraan yang lebih dalam.

Beban sejarah dan ekspektasi publik menjadi bahan bakar utama bagi skuad yang kini sedang merajut kembali harga diri mereka.

Beban Besar, Motivasi Tak Pernah Kurang

Beban Besar, Motivasi Tak Pernah Kurang

Starting XI Timnas Italia saat melawan Irlandia Utara di semifinal playoff Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Antonio Calanni

Skuad Italia paham betul arti laga ini. Bukan cuma soal lolos atau tidak, tapi juga tentang mengembalikan posisi mereka di level tertinggi.

Para pemain menyadari ada ekspektasi besar yang mengikuti. Terutama dari generasi muda yang selama ini hanya bisa menonton Piala Dunia tanpa kehadiran tim nasional mereka.

"Kami tahu betul bahwa kami bertanggung jawab atas semua anak-anak di luar sana dan seluruh pergerakan sepak bola Italia," ujar Manuel Locatelli kepada RAI Sport.

"Kami jelas tidak kekurangan motivasi," lanjutnya.

Ucapan itu mencerminkan situasi ruang ganti. Italia datang ke laga ini dengan kesadaran penuh akan apa yang dipertaruhkan.

Dari Harapan ke Kekecewaan di Era Spalletti

Dari Harapan ke Kekecewaan di Era Spalletti

Luciano Spalletti. (c) AP Photo/Philippe Magoni

Beberapa waktu lalu, kondisi tim nasional jauh dari stabil. Luciano Spalletti datang dengan reputasi besar setelah sukses bersama Napoli, tapi hasil di level timnas tidak berjalan sesuai harapan.

Italia memang sempat lolos ke Euro 2024. Namun perjalanan di turnamen itu tidak meninggalkan kesan positif.

Penampilan mereka inkonsisten sejak fase grup. Bahkan, Italia harus berjuang keras hanya untuk lolos sebelum akhirnya tersingkir dengan performa yang mengecewakan.

Kekalahan dari Swiss menutup perjalanan yang jauh dari ekspektasi. Dari situ, tekanan terhadap Spalletti mulai meningkat.

Kekalahan di Oslo yang Jadi Titik Balik

Kekalahan di Oslo yang Jadi Titik Balik

Reaksi kiper Manchester City, Gianluigi Donnarumma usai gawangnya kebobolan melawan Real Madrid di leg I babak 16 besar Liga Champions di Bernabeu, 12 Maret 2026. (c) AP Photo/Jose Breton

Situasi mencapai titik terendah saat Italia kalah 0-3 dari Norwegia di Oslo. Skor akhir bahkan dianggap tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan.

Tim tampil tanpa arah. Intensitas dan kualitas yang biasanya jadi ciri khas Italia nyaris tidak terlihat.

"Saya tidak punya kata-kata. Fans kami tidak pantas mendapatkan ini," kata Gianluigi Donnarumma.

Spalletti juga mengakui ada yang tidak berjalan semestinya.

"Kami harus menemukan sesuatu yang lebih. Kalau tidak, sesuatu harus berubah," akunya.

Tak lama setelah itu, perubahan benar-benar terjadi di kursi pelatih.

Gattuso Datang, Italia Menemukan Arah

Gattuso Datang, Italia Menemukan Arah

Pelatih Italia, Gennaro Gattuso. (c) AP Photo/Antonio Calanni

Setelah kepergian Spalletti, FIGC sempat mencari beberapa opsi. Namun pilihan akhirnya jatuh kepada Gennaro Gattuso.

Keputusan ini sempat memunculkan tanda tanya. Rekam jejaknya di level klub memang tidak selalu konsisten.

Namun federasi melihat faktor lain yang dianggap penting. Karakter, energi, dan pemahaman terhadap sepak bola Italia menjadi nilai utama.

"Dia punya kualitas, determinasi, dan keinginan untuk mencapai sesuatu yang besar bagi Azzurri dan negara kami," tegas Gabriele Gravina.

"Dia langsung menunjukkan bahwa tidak ada yang menang sendirian. Kita menang bersama."

Gattuso kini membawa Italia ke titik krusial. Satu pertandingan lagi akan menentukan apakah langkah ini berakhir dengan kebangkitan, atau justru menambah panjang daftar kekecewaan.