Sindiran Pelatih Italia Soal Teror Suporter Bosnia: Tenang, Mereka Tidak Bisa Cetak Gol!

Sindiran Pelatih Italia Soal Teror Suporter Bosnia: Tenang, Mereka Tidak Bisa Cetak Gol!
Pelatih Italia, Gennaro Gattuso ketika meninjau rumput di Bilino Polje stadium jelang playoff Piala Dunia 2026 melawan Bosnia. (c) AP Photo/Armin Durgut

Bola.net - Pelatih Italia, Gennaro Gattuso, menunjukkan sikap tegas menjelang laga final playoff Piala Dunia melawan Bosnia. Ia menepis kekhawatiran soal tekanan suporter lawan di Stadion Zenica pada Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Baginya, atmosfer stadion tidak akan mengubah hasil pertandingan secara langsung.

Gattuso menegaskan bahwa mentalitas pemain jauh lebih penting daripada kondisi di luar lapangan. Ia mengingatkan bahwa keberadaan ribuan pendukung tuan rumah bukanlah ancaman teknis bagi timnya. Fokus utama Gli Azzurri tetap pada skema permainan yang telah disiapkan.

Eks gelandang bertenaga ini bahkan melontarkan kalimat ikonik untuk membakar semangat anak asuhnya. Ia menyatakan tidak pernah merasa terancam oleh sorakan penonton selama karier sepak bolanya. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Italia siap menghadapi tekanan mental apa pun.

"Suporter tidak mencetak gol. Hal itu tidak pernah terjadi pada saya," tegas Gattuso kepada awak media.

Kondisi Lapangan Bukan Alasan

Kondisi Lapangan Bukan Alasan

Bryan Cristante (tengah) bersama pemain Italia ketika meninjau rumput Bilino Polje stadium, Zenica, 30 Maret 2026 menjelang playoff Piala Dunia 2026 melawan Bosnia Herzegovina. (c) AP Photo/Armin Durgut

Selain atmosfer stadion, masalah cuaca dan kualitas rumput juga menjadi sorotan tajam. Hujan deras dan salju di Bosnia sempat memaksa Italia mengubah jadwal latihan mereka. Timnas Italia akhirnya memilih tetap berlatih di Florence sebelum terbang menuju Zenica.

Namun, Gattuso menolak menjadikan buruknya kondisi lapangan sebagai dalih jika timnya tampil buruk. Menurutnya, kondisi lapangan yang buruk akan dirasakan oleh kedua tim yang bertanding. Alhasil, tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan oleh situasi tersebut.

Ia menilai bahwa terlalu memikirkan hal teknis di luar strategi adalah tanda kelemahan. Baginya, lapangan di Zenica saat ini masih dalam kondisi yang cukup layak. Kalaupun nantinya memburuk, timnya harus tetap mampu beradaptasi dengan cepat.

"Jika kita mulai memikirkan lapangan atau tribun, itu lemah," ungkap pelatih berusia 48 tahun tersebut.

Lebih Suka Solid daripada Main Cantik

Lebih Suka Solid daripada Main Cantik

Starting XI Timnas Italia saat melawan Irlandia Utara di semifinal playoff Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Antonio Calanni

Sejak menggantikan Luciano Spalletti, Gattuso membawa perubahan gaya main yang cukup kontras. Ia mengakui Italia saat ini mungkin tidak bermain seindah atau seofensif sebelumnya. Namun, ia lebih memilih tim yang solid dan sulit ditembus lawan.

Gattuso berkaca pada evaluasi performa saat Italia menghadapi Irlandia Utara di semifinal. Ia secara jantan mengakui adanya kesalahan taktis yang sempat terjadi di laga tersebut. Meski begitu, ia melihat perkembangan pesat dalam organisasi pertahanan timnya.

Dahulu, Italia dianggap terlalu rapuh dan mudah memberikan peluang bagi pemain lawan. Sekarang, Gli Azzurri tampil lebih kolektif dan berani menderita saat ditekan. Hal ini dianggap sebagai fondasi penting untuk meraih tiket ke putaran final.

"Mungkin kita tidak bermain sepak bola ultra-ofensif. Mungkin kita kurang brilian. Tapi saat ini saya lebih memilih tim yang solid. Tim yang lebih sedikit siap menderita, meski itu berarti tidak terlalu cantik," terangnya.

"Tujuh bulan lalu kita bukan tim ini. Saat ini saya lebih suka tim yang solid, meski kurang indah dipandang," jelas Gattuso.

Misi Mengembalikan Kejayaan 2006

Gattuso membawa misi berat untuk meloloskan Italia ke Piala Dunia sejak absen tahun 2014. Sebagai bagian dari skuad juara dunia 2006, ia paham betul resep meraih kesuksesan. Ia ingin menularkan semangat juang dan agresivitas kepada para pemain muda.

Ia membantah anggapan bahwa para pemain Italia saat ini tidak memiliki rasa bangga. Sebaliknya, ia melihat komitmen luar biasa dari skuadnya dalam setiap sesi latihan. Baginya, ambisi untuk menang terlihat jelas di mata setiap pemain yang ia pimpin.

Kegagalan melaju ke putaran final tentu akan menjadi pukulan telak bagi publik sepak bola Italia. Gattuso pun sadar bahwa tanggung jawab terbesar ada di pundaknya sebagai pelatih kepala. Namun, ia enggan berandai-andai soal hasil buruk sebelum peluit akhir dibunyikan.

"Kami jadi juara bukan karena paling kuat, tapi karena kemampuan untuk mau menderita," pungkasnya.

"Orang bilang tidak ada kebanggaan di tim ini. Tapi saya melihatnya setiap hari. Saya sangat berharap kita mencapai tujuan ini," tutupnya.