Bayang Rasisme Dalam Piala Dunia

Bayang Rasisme Dalam Piala Dunia

Bola.net - - Jelang Piala Dunia di Jerman, rasisme muncul menjadi perdebatan umum di kalangan warga Jerman. Seperti diketahui Jerman menjadi negara yang beberapa penduduknya mengikuti paham rasialisme. Seperti di wilayah kota kecil di Brandenburg, bekas negara bagian Jerman yang mengelilingi Berlin dan dikenal anti orang non kulit putih. Bahkan menurut laporan Badan Intelijen Jerman pada 2005 lalu memperlihatkan Tahun 2005 terjadi peningkatan 27 persen kekerasan yang dilalukan kelompok ekstrim kanan dibanding tahun sebelumnya. Sementara jumlah Neo-Nazi di Jermah meningkat 300 menjadi 4.100 anggota, seperti dilaporkan Kantor Perlindungan Konstitusi. Laporan ini juga menyebutkan ekstrimis di Jerman yang siap melakukan kekerasan naik 400 hingga menjadi 10.400 orang. Sebuah kenyataan tragis mengingat Piala Dunia 2006 ini mengusung slogan 'Time's to make Friends' (Saatnya untuk bersahabat). Apalagi dalam Piala Dunia yang akan dimulai 9 Juni mendatang ribuan pendatang dari berbagai benua datang turut meramaikan Piala Dunia, yang makin membuat pegiat anti rasisme khawatir jika orang kulit hitam dan Asia datang ke wilayah-wilayah di Jerman yang dianggap tidak aman. Namun isu tersebut dibantah para politisi Jerman menegaskan pendatang non-kulit putih akan aman di wilayah Jerman manapun. Seperti yang diungkapkan Menteri Luar Negeri, Wolfgang Schaeuble menegaskan Jerman tetap aman bagi penggemar sepakbola non-kulit putih dan tak akan mentolerir bentuk-bentuk ekstrimisme, xenophobia, maupun anti Semit. "Saya kira siapa pun yang mencoba menyalahkan gunakan Piala Dunia untuk kepentingan politik akan menemui kegagalan, terutama kaum ekstrimis sayap kanan," kata Schaeuble yang meyakinkan pemerintah akan menggunakan semua perangkat hukum yang ada untuk mengamankan Piala Dunia. Dari 12 kota penyelenggara pertandingan, Leipzig merupakan satu-satunya kota penyelenggara yang berada di bekas Jerman Timur, dimana kaum ekstrim kanan mendapat banyak dukungan. Isu rasis ini juga ditenang para pejabat Jerman yang berkali-kali menyatakan akan memanfaatkan pesta sepakbola yang diikuti 32 negara itu sebagai ajang untuk menujukkan bahwa Jerman adalah masyarakat yang bersahabat dan toleran. Lain lagi dengan komentar Theo Zwanziger, ketua Asosiasi Sepakbola Jerman dalam konperensi pers di Berlin mengatakan bahwa: "Kami orang Jerman ingin memperlihatkan bahwa kami adalah patriot, tapi bukan nasionalis. Asosiasi sepakbola Jerman akan mengambil langkah sangat keras terhadap segala bentuk rasisme. Kami tidak akan mentolerirnya. Kami membuka mata lebar-lebar, Racun rasisme yang menjalar sangat berbahaya. Untuk mengawasi adanya sikap rasisme tersebut, para petugas akan mengawasi apa yang terjadi di stadion, spanduk apa yang dikibarkan dan lagu apa yang dikumandangkan. "Saya tidak bisa mengatakan bahwa saat ini kita bebas dari sikap rasisme, tidak hanya di Jerman tapi juga di Eropa. Saya kira kita tidak dalam situasi untuk terlalu gembira, tapi kita harus mewaspadainya," tambahnya. Hal yang sama juga dilontarkan walikota Berlin, Klaus Wowereit, bahwa semua pendatang akan disambut dengan baik, meskipun sempat terjadi serangan atas warga keturunan asing. Namun hal terseut tak berarti kalau Berlin tidak toleran. Badan Intelijen Jerman sendiri berpendapat bahwa ketakutan akan ancaman rasisme cenderung dibesar-besarkan, justru yang harus diperhatikan adalah ancaman kekerasan dari para hooligan (perusuh sepak bola).

Berita Terkait

BERITA LAINNYA