Tragedi Mesir: Jika Sepak Bola Disusupi Politik

02-02-2012 16:05

Bola.net - Oleh: Jeffrie Liem

Saat Mesir tengah berjuang untuk membangun stabilitas dan perdamaian di era pasca Mubarak, kekerasan dan kekacauan terburuk terjadi pada pertandingan sepak bola di negara Firaun tersebut. Sepak bola yang merupakan olahraga favorit warga Mesir setelah melewati masa-masa sulit dengan membawa rakyat Mesir bersatu kini berubah menjadi layaknya zona perang saudara.

73 orang dilaporkan tewas dalam tragedi tersebut, sementara lebih dari 1.000 orang dikabarkan terluka dalam kekacauan yang terjadi saat ribuan penggemar menyerbu lapangan dan mulai berperang satu sama lainnya sebagai buntut kekalahan Al Ahly 3-1 dari Al Masry di Liga Mesir.

Sangat disayangkan, puluhan nyawa harus melayang meski sudah banyak tanda-tanda bencana itu akan terjadi.


Hal seperti ini bisa dihindari jika kelompok suporter tidak mudah terpancing emosinya. © AFP

Lemahnya Pengamanan
Pada tahun 2011, ada banyak insiden di mana aparat keamanan Mesir menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuan untuk mengendalikan kekerasan yang dilakukan para suporter sepak bola.

Pada bulan April 2011, ketidakefektifan dari petugas keamanan Mesir terlihat ketika ribuan penggemar berlari ke lapangan sebelum akhir pertandingan Champions Afrika antara klub lokal Zamalek melawan klub Afrika Tunisia. Ratusan polisi yang bertugas di Stadion Internasional Kairo tidak bisa menghentikan kekacauan waktu itu.

Kemudian pada bulan November, komite kompetisi EFA memerintahkan Al Ahly dan Zamalek untuk memainkan pertandingan kandang secara tertutup sebagai hukuman atas penggunaan kembang api dan petasan selama pertandingan.

Pada bulan yang sama, Ismaily dihukum karena kekerasan yang dilakukan para pedukungnya dalam pertandingan Al Ittihad, sementara Al Masry juga dihukum ketika para pendukung mereka karena melemparkan botol air plastik dan batu ke dalam lapangan pada pertandingan melawan Smouha. Kedua tim diperintahkan untuk memainkan permainan di balik pintu tertutup.

Masih banyak lagi insiden kekerasan lainnya yang dilakukan para penggemar sepak bola di Mesir terjadi pada tahun 2011 juga. Namun tanda-tanda yang paling mengkhawatirkan sebelum tragedi itu terjadi adalah sikap dari pendukung dalam menanggapi kebijakan dari EFA.

Setelah pertandingan pembuka Liga Mesir Al Ahly dipindahkan ke Alexandria sebagai bentuk hukuman untuk kekerasan yang dilakukan pendukungnya dan penggunaan kembang api dalam pertandingan Piala Mesir dua bulan sebelumnya, kelompok yang mengatasnamakan Ultras Al Ahly dengan bangga membentangkan spanduk yang berbunyi, "Anda tidak akan bisa mengajarkan bagaimana cara untuk mendukung tim kami."

Lebih jauh lagi, kelompok garis keras tersebut menjelaskan arti spanduk mereka itu melalui pesan yang diposting pada halaman Facebook mereka, bunyinya:

"Pesan ini terutama ditujukan untuk Asosiasi Sepakbola Mesir. Hal ini juga ditujukan pada siapa pun yang percaya bahwa dia bisa mengubah stadion sepak bola menjadi penjara di bawah kekuasaannya. Kami memiliki stadion, kami memiliki pendirian sendiri."

Muatan Politik
Sepak bola Negara Mesir baru saja kembali bergulir setelah mengalami kemunduran selama berbulan-bulan akibat terjadinya revolusi Mesir beberapa waktu lalu.

Kaum Ultras, yang biasanya apolitis, telah terpengaruh oleh suasana politik di Mesir untuk percaya bahwa mereka memiliki kekuasaan tak terbatas, dan bahwa EFA tidak lebih dari sebuah organisasi tirani yang berusaha untuk membatasi kebebasan mereka, seperti apa yang dilakukan Mubarak kepada Mesir dalam masa pemerintahannya.

Ada beberapa tudingan yang mengatakan bahwa para pendukung Hosni Mubarak yang tidak rela pemimpin mereka dijatuhkan berperan besar pada tragedi ini. Daerah Port Said dianggap sebagai salah satu basis pemberontak rejim yang berkuasa lebih dari 30 tahun itu.

Ikhwanul Muslimin, kekuatan politik terbesar di Mesir, menuding para pendukung presiden terguling berusaha memanfaatkan ketidakpuasan suporter Al-Ahli yang favorit juara namun dapat dikalahkan oleh tim Al-Masry yang menjadi underdog pada pertandingan untuk membuat kekacauan.

"Peristiwa di Port Said, direncanakan dan merupakan pesan dari sisa-sisa rezim sebelumnya," kata anggota parlemen, Essam al-Erian, seperti dikutip dari Aljazeera, Kamis (2/2/2012).

Selain itu sikap satuan pengamanan yang tidak sigap mencegah kerusuhan juga menjadi indikasi bahwa ada kekuasaan lain yang bermain di belakang kejadian tragis tersebut. Berdasarkan laporan wartawan Al-Jazeera, Rawya Rageh, saat bentrokan mulai terjadi, terlihat polisi yang berjaga di lapangan. Namun polisi tidak melakukan apa-apa untuk mencegah bentrokan itu terjadi.

"Ada polisi anti huru-hara di lapangan itu, tapi mereka terlihat tidak terlibat atau berjalan ke arah yang lain," katanya.

"Beberapa orang mengatakan polisi mungkin belum dilatih untuk menangani kekerasan. Selama masa kepemimpinan Mubarak, mereka dikenal sebagai pasukan yang kuat dan brutal belaka. Dan sekarang ketika mereka menghadapi kerusuhan massa, mereka tidak bisa menangani," ucap Rageh.

Cermin Untuk Indonesia
Sebagai pecinta bola Indonesia kita harus mengambil hikmah dari apa yang terjadi di Mesir, karena bisa saja peristiwa serupa terjadi di tanah air jika tidak berhati-hati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar dari kelompok suporter di Indonesia masih mudah tersulut emosinya. Beberapa kejadian kekerasan yang menimpa pemain, wasit atau bahkan sesama suporter adalah sebagian contoh kurangnya perhatian para pengelola kompetisi, para koordinator suporter dan perangkat pertandingan lainnya di Indonesia.

Sepakbola sebagai olahraga paling populer di Indonesia kini telah berubah layaknya sebuah mainan untuk berbagai kepentingan dari beberapa pihak. Banyak kekuasaan beradu menjadikan polemik berkepanjangan terjadi di tubuh PSSI hingga berimbas pada terbaginya klub-klub pada dua kompetisi serta dualisme kepemilikan klub. Sasarannya jelas, yaitu besarnya massa suporter di Indonesia.

Mengantisipasi semua kemungkinan terburuk, para suporter diharapkan bisa tetap bersatu dan berpikir jernih dengan semua perubahan-perubahan yang terjadi saat ini. Jangan hanya karena fanatisme pada sebuah kubu menjadikan para suporter mudah terseret masuk dalam permainan kepentingan-kepentingan sesaat. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, namun dengan tetap bersatu kita bisa mendorong pemerintah untuk bisa menyelesaikan masalah sepak bola di Indonesia baik lewat jalur diplomasi maupun jalur hukum. Mari bersatu sebelum semuanya menjadi terlambat. (kpl/bola)

ARTIKEL TERKAIT



ARTIKEL LAINNYA